|
<"Tak biasa hatiku begini gelisah", bisikku sendiri.> Hujan Lebat seolah mengurung .. Dalam ketakutan .. Kami merasa terkurung Ku dengar di sisi sana Badai mulai datang Menguji kepasrahan Memasung harapan di belung hati terdalam Lalu hujan tiba - tiba diam Ku arahkan mataku tinggi Memaksa resahku ikut selidik ... <"Sunyi yang asing ", hatiku meragu.> Disela isak tangis yang tertahan <"Sudah saatnyakah meratap ?", lirihku berdoa.> <"Sebentar ... ", ucap otakku kepada hati.> Lamat terdengar suara burung bernyanyi riang - seolah bersyukur atas berkah hujan hari ini Menjadi sebuah keindahan yang janggal .. < - Jeda - > Dan hujan datang kembali Kali ini, menemani kami menangis Meratapi hidup yang berserakkan Di antara puing - puing damai Yang pagi tadi masih indah .. <"Ah, Thanx Dear Lord, kami masih boleh hidup meski harus kehilangan lagi", ucapku lirih sebagai sekelumit doa yang terucap dari hati ketika kembali menatap langit di antara hujan rintik rintik malam itu.> - Dipersembahkan kepada Para Korban Puting beliung Yogyakarta - - Satu Jogja - - Satu Wajah - - Satu Duka - - Satu Tangis - |
| Leave a Comment: |