|
|
 |
 |
Thursday, February 12, 2009
Anda tau bagaimana rasanya ketika orang yang anda cintai memutuskan untuk meninggalkan anda & menikah dengan orang lain?
Saya harap kisah yg akan saya tuturkan hari ini, bisa membawa anda untuk sedikit ikut merasakan apa yang saya rasakan ketika saya mendengar kisah ini dituturkan oleh seseorang yg bernama Earthie, pada 17 Jan 2009, di malam minggu yg basah oleh hujan.
17 Januari 2009. Pukul 20:01
Malam itu semua seakan berbeda. Daya magis hujan seakan mengikat malam dengan susana sendu yang aneh. Saya memilih untuk tetap di rumah, mendengar musik. Rasanya ini pilihan satu – satu nya yang paling tepat untuk menghabisan malam ini.
“Oh iya, hari ini Earthie siaran”, batinku sambil buru - buru menyalakan radio.
Selalu nyaman mendengar Earthie siaran. Suaranya yg rada cempreng menyebalkan, kata – katanya yg slalu bikin semangat, ceplas ceplos, sedikit anti melow, sangat cocok untuk didengar pada malam seperti ini. Dingin - dingin sunyi yang tak biasa. Aura sepi yg bikin bingung hati, ingin brhembus kemana.
Tapi..
“Sebentar.. Ada yg aneh dgn Earthie hari ini?”, batinku.
Lagu yg diputarnya, semua melow.Apalagi,hanya sesekali dia bicara.Itupun tentang cinta. Tumben? Tidak, bukan tumben,tapi lebih tepatnya, aneh.
“Ah, Earthie lg payah.Malam ini benar - benar payah”.
30menit berlalu..
Hem… Earthie mulai bicara. Dan inilah yang dituturkannya :
Malam ini, saya lagi teringat banget sama seseorang. Mantanku. Namanya : Keysha. Hari ini, tepat ulang tahunnya. Jadi terkenang segala kenangan bersamanya, juga kenangan yang menyisahkan perih dalam yang cukup lama untuk dilupakan.
Suatu hari, dia menghubungi saya & memutuskan untuk berpisah. Dia memutuskan untuk menikah dengan lelaki lain.
“Aku gak mungkin menunggu kamu lagi, Earthie. Aku harap kamu bisa ngerti”.
“Tapi.. ,” belum selesai saya bicara, dia sudah memotong seolah tahu jalan pikiranku.
“Ini bukan tentang cinta. Kamu harus percaya isi hatiku yang sudah kamu tahu sejak lama”, katanya lirih.
Aku tahu, saat ini dia menangis… Isak yang pelan, tangisan yg perih di hatiku.
“Lalu apa arti semua ini?”, kataku, tak tau apa yg bisa aku percaya.
“Ini tentang hidup, Earthie. Tentang Hidupku. Jika kamu cinta, kamu pasti akan memahami semua ini.”
Lalu kosong yang panjang…
“Aku akan menikah dalam waktu dekat. Kamu akan terima undangannya”.
“Apa? Haruskah secepat ini?”, tanyaku tak percaya.
Aku gak tau hrs bicara apa lagi. Aku diam. Pikiranku berputar cepat, melompat dari satu kekalutan kepada satu perih yang berbeda.
Tapi dia benar, Aku gak mungkin menghalanginya, atas dasar apapun, apalagi cuma atas dasar cinta . Karena itu tidak adil untuknya. Meski ini juga, tidak adil untukku.
Ya Tuhan, rasanya ternyata memang sakit. Selama ini aku selalu berpikir , bahwa aku akan selalu sanggup menghadapi segala macam lara dengan baik.
Tapi aku tidak mungkin menangis di depannya, di telp ini, dengan segala cinta yang masih ada di hatinya dan hatiku.
“Kmu tak harus datang, karena aku tahu ini berat buat kita, meski aku berharap..”,ucapnya ragu - ragu.
“Kamu mau datang, meski hanya sebentar”, lanjutnya.
“Aku tidak tahu, Key, Tapi akan kupikirkan”, kataku.
Lalu dengan sedikit basa - basi, telp itu ditutup.
Tidak mungkin ini cuma mimpi, karena aku tak ingat kapan aku mulai tertidur.
Ini pasti bukan mimpi, karena sakitnya membuatku tak kan bisa tertidur.
Ya Tuhan, keindahan itu berakhir hanya dalam sekejap.
Hari berlalu dengan pelan, terlalu pelan. Sementara kekalutanku tak kunjung sirna, menapak tertatih mencari jawaban dari semua tanya.
Tanya? Tanya tentang apa lagi? Bukankah beginilah hidup?
Ada awal, pilihan, kesempatan & akhir?
Tapi bukan ini akhir yg kumau. Bukan ini jalan hidup pilihanku.
Inikah namanya pengorbanan cinta? Yang berkorban harus selalu kehilangan. Kehilangan yang dicintainya..
Tapi ini…
Ini terlalu menyakitkan.
Semua ini terlalu menyakitkan.
Aku msh duduk memandangi kosong, setiap malam. Sesekali melirik fotonya, yang menghiasi begitu banyak sisi di kamarku.
Kenapa kamu meninggalkan aku ketika kamu berkata masih sangat mencintai aku?
Aku masih tak bisa mengerti.
Waktu terus berlalu.
Aku menapakinya dengan payah.
Aku menapakinya dengan rintih.
Tak ada pilihan lain.
Tapi paling tidak, aku msh hidup.
Bertahan.
Undangan itu tak pernah datang. Hanya sebuah pemberitahuan via sms.
Dengan sebuah pesan tambahan di akhir:
“Aku gak jadi kirim undangan. Aku tahu kamu gakkan pernah membukanya. Sms ini rasanya cukup.
Gak perlu bawa undangan. Datanglah jika bisa, kamu akan selalu diterima”.
Aku tidak ingat persisnya kapan pernikahan itu, aku gak benar - benar membaca smsnya. Aku hanya membaca pesan tambahan itu.
Dan aku menangis hampir setiap malam..
Tapi aku masih saja hidup, bertahan dengan perihku.
Hingga..
“Hey.. Hallo Earthie“, suara lembutnya yang begitu kukenali, yang begitu kurindu.
“Aku brusaha melihatmu, mencarimu kemana - mana, tapi kamu gak kelihatan“, katanya.
“Kmu mencariku..? Knp?”, tanyaku kaget.
“Iya. Ini kan hari pernikahanku”, katanya lagi
“Ooo..”, kataku dalam hati, kembali terduduk lemas.
“Kamu gak datang, Knp? Kamu lupa atau sengaja melupakan?”, tanyanya.
“i\Iya aku lupa sampaikan. Aku ada keperluan mendadak, aku gk bisa meninggalkannya”, kataku berbohong.
Iya, aku tidak bisa meninggalkan kesedihanku.
Maafkan aku sayang, tapi semoga kamu bahagia selalu. Aku merestuimu dgn seluruh rasa cintaku. Semua perih ini akan kutanggung dengan senang hati dan ikhlas demi kbahagianmu.
“Oh, jadi begitu sekarang, sudah bisa mengabaikan aku demi hal lain?”tanyanya lagi..
Aku diam..
Cuma bisa diam..
“Hey, serius amat, aku cuma bercanda”, lanjutnya.
Dia meninggalkan acara pernikahannya, hanya untuk menelepon aku?
Ah, kmu..
Bagaimana jika orang tau kamu menelepon mantanmu yang kamu cintai yang masih terluka dengan semua ini?
Bodoh…!!
Tapi,
Aku cinta sama kmu
Aku selalu cinta kamu..
Aku gak tahu harus berpikir apa..
Pagi, Pukul 02:00 , HPku berbunyi lagi..
“Hey, kamu ingat Film dan Lagu yang dulu aku suka banget? Lagi ada di tv neh..”, katanya.
“Aku lagi gak rumah”, kataku,
Padahal aku lagi di depan tv, menyimak acara yang sama dan teringat dia, semua tentang dia.
“Kamu tahu, kesedihanmu adalah kesedihanku. Tapi aku ingin kamu juga tahu, kalo bagiku, kamu akan selalu ada di sisiku, kamu menjadi angin yang akan slalu membuat hatiku tenang, kamu jadi mimpi yang membuat tidurku indah, kamu adalah nafas yang menemaniku. Dalam kesepianku, kamu akan selalu ada untuk membuatku tertawa. Dalam kerinduanku, kamu akan selalu ada, mendekap aku, memelukku. Karena sudah kupilih kamu untuk hatiku, kupilih kamu selamanya & aku kan selalu mencintaimu”, ungkap hatinya yang mengalun lembut dari bibir yang selalu rindu kukecup.
“Aku juga mencintai kamu, masih sangat mencintai kmu”, cuma ini yg bisa aku katakan malam itu, hingga dia menutup telp-nya.
Hari demi hari berlalu, begitu lama kai tak saling mengabari. Hingga ku dapati email darinya yang sudah terkirim beberapa hari lalu.
Dearest Earthie,
Jangan pernah membenciku, seperti kebencianku ketika harus memilih untuk meninggalkanmu.
Tapi Cintailah aku selalu, seperti aku mencintai diriku karena cintamu.
Baringkanlah aku selalu di hatimu, seolah aku ada di sisimu, meski ini tak adil untukmu, tap aku ingin selalu ada di hatimu, tempat paling teduh dimana aku bisa berdiri dengan angkuh meski ketakutan menyergap sisi rapuhku, karena kamu selalu memegang hati & tanganku erat - erat sambil brucap,
“Jangan takut cinta, aku akan selalu menjagamu meski maut menghisap habis nafasku”.
Tapi akulah yg meninggalkanmu, menapaki jalan yang berbeda, ketika kamu masih tertidur dibungkus sayap - sayap cinta kita yang utuh, putih seperti kemilau ketulusan senyum & tatapan matamu yang penuh cinta.
Akulah yang meninggalkanmu, berlari menjauh, menuruni bukit - bukit mimpi kita, tapi bukan untuk khianati hatiku,tapi karena aku bodoh, karena hingga kini aku masih memandang resahmu dari jauh dengan kerinduan yang dalam akan pelukmu, dengan cinta yang sama, untukmu, cinta yg kubisikan sebagai pengantar malammu. Sudah kuserahkan perawan hatiku & takkan pernah ada yang bisa menyentuhnya lagi, selain cintamu.
PS : Balas email ini, meski aku tahu, kamu gak pernah bisa menulis tentang isi hatimu. Tapi cobalah. Demi aku …
Dearest Keysha ..
Aku bukan tak tau menulis hatiku tapi aku tak mau kerapuhanku terbaca olehmu, karena meki aku menangis seharian di hadapanmu, kamu takkan pernah kembali padaku. Lalu untuk apa aku ceritakan hatiku? Apakah kamu masih sudi mendengar dan kembali berkata seperti biasa,
”Aku masih di sini, sayang & akan selalu di sisimu”.
Jangan bilang cinta ini masih punya makna, semenjak kamu melangkahi ketulusannya dengan pura - pura bodoh. Jangan bilang cinta ini masih punya hati, semenjak 1/2 hati itu kamu bawa pergi meninggalkan aku.
Tapi kamu selalu benar, aku yang selalu salah, yang selalu tak bisa pahami hatimu. Dan kamu juga selalu benar, aku sudah terlanjur mencintaimu.
Andai aku mampu, malam ini aku ingin membencimu, membenci pengkhianatanmu, membenci kebodohohanmu, membenci cinta yang selalu ada untukmu.
Hey, dengarlah, dalam setiap jeda, ketika kamu dapati kekosongan mengendap seperti pencuri mengintaimu, di situ aku akan ada, menemani kmu dengan tangisan yang tak pernah berhenti, duduk serupa arca yang 1/2 tubuh sudah entah ada dimana.
Kau ingin aku menulis semuanya?
Kau ingin tahu hatiku?
Kau mungkin tertawa, menangis ato marah, itu terserah kamu.
Dua minggu kemudian,telp itu berbunyi kembali. Pukul 02:43.
“Hey, apa kabar?Sudah terima emailku , kan ? Kok gak dibalas?”, kata Keysha
“Aku belum sempat, Key. Nantilah.Tapi apa yag harus aku tulis, kamu pasti sudah tahu isi hatiku, kamu selalu tahu isi hatiku”.
“Tapi aku gak ingin menebak terus menurus, itu selalu rumit, selalu tak pasti, meski kamu selalu mengatakan bhwa aku berhasil membaca hatiku. Lakukan, skali ini saja untukku”, ucap Key lagi.
“Nanti malam deh, kalo sempat”.
Earthie gak pernah mengirim email yang sudah ditulisnya.
Dia memilih membuat email baru :
Dearest Keysha
Selamat untuk Pernikahanmu.
Apa yang ada antara kita, smua itu akan jadi kenangan terindah.
Heh, Lelaki sapa yang gak akan mencintaimu dengan tulus?
Kamu selalu tahu gimana caranya membuat lelaki jatuh cinta padamu.
Karena itu aku prcaya, kamu pasti akan dibuatnya bahagia, bahkan lebih dari kenangan kita.
Kmu pantas mendapatkannya,
Mendapatkan segala yang tak pernah mampu kuberikan.
Sekali lagi, Selamat.
Bahagiaku slalu u/ mu..
Bye..
PS : Malam ini hujan deras banget.
Aku sempat ketiduran. Jadi maaf jika cuma ini yang bisa aku tulis.
Masih ngantuk, pengen tidur lagi..;-)
Dearest Earthie
Emailmu seperti menghakimi aku? Kata – katamu mengecewakan aku. Kamu tahu, Earthie?
Kita tak pernah punya janji untuk selalu bersama, kan? Dan kau selalu berkata, apalah arti sebuah janji ketika kita masih selalu ragu akan jalan hidup kita dengan mengusung kata – kata : Semoga Tuhan merestui, semoga kita berjodoh, semoga & cuma semoga.
Kamu selalu berucap, kita ini apa jika cuma bisa merencanakan sambil menunggu untuk direstuiNYA dengan pasrah? Kamu bilang, ini semua pikiran - pikiran bodoh manusia.
Aku telah memilih & pilihan itu menyakitimu. Apa aku yang salah memilih? Atau kita memang tidak berjodoh?
Mungkin aku yang bodoh, tapi tolong jangan salah mengerti aku dengan jalan pikirmu yg kadang - kadang membuatku kuatir kalo kamu akan menjadi gila, lebih gila dari orang gila dan itu menakutkan..
Kamu bilang, jik cinta tak memiliki, berarti itu bukan cinta, paling tidak salah satu tak lagi mencinta, tapi aku yakin rasa di hatiku ini adalah cinta & itu cuma untuk kamu & bukan karena tak cinta sampai aku memutuskan untuk meninggalkanmu. Aku masih mencintaimu, aku yakin & aku prcaya kamu tau itu. Maafkan aku, ku mohon sekali lagi, maafkan aku telah meninggalkanmu..
Dearest Keysha
Kita memang tak pernah punya janji, tapi seharusnya cinta itu adalah komitmen. Apa itu cinta? Kamu selalu menanyakan itu.
Cinta itu bukan rasa yang tunggal, tapi cuma efek komulatif dari segala rasa, kasih sayang, saling hargai, ketulusan, kesetiaan dll, dan jangan lupa, juga ada keinginan untuk hidup bersama. Mungkin keinginan inilah yang gak bisa kuprtahankan untuk tetap ada di hatimu, hingga aku kehilangan cintamu.
Dan mungkin benar, aku lupa, rasa inilah yg terpenting dalam hubungan sprti hubungan kita. Tanpa rasa ini, rasa yg merupakan komitmen & pengikat cinta, kita cuma seperti cinta dalam sebuah persahabatan. Bisa pergi kapan saja, tiba - tiba menghilang, sesaat tak saling peduli, lalu lama – kelamaan akan saling melupakan, yag membuatnya tetap ada - keberadaan yang sebenarnya semu - cuma kenangan & kebesaran hati yang merasa kehilangan.
Inilah kita sebenarnya. Sejak kapan rasa ini hilang dari hatimu, aku gak tahu, karena andai aku tahu, aku akan mencari, menemukan & meletakannya kembali di hatimu.
Bodohnya aku tak menyadarinya.
Jangan pernah bilang, kalo kamu masih cinta, itu cuma akan membuatku bingung dengan keputusanmu karna tak bisa kuterjemahkan semuanya itu dgn otakku. Atau memang aku sudah terlanjur gila. Yakinilah pilihan hidupmu, patahkanlah segala rasa yang tersisa untukku, lupakan mimpi - mimpi kita, bahkan jika kamu mampu, lupakan juga aku, agar kamu bisa langkahi anak - anak tangga hidupmu dgn lebih mudah. Mulai hari ini, segalanya harus berbeda. Kita harus sama - sama menyadarinya. Aku lelaki, aku tau bagaimana caranya bertahan dari setiap dera hidup. Jangan kuatirkan aku, semua akan baik - baik saja. Kamu sudah memisahkan jalan kita. Kita harus menempuh jalan hidup masing - masing. Aku tak bisa berjanji untuk selalu ada buat kamu lagi, aku cuma bisa berjanji, hari ini cinta ini kulepas, biar dia terbang tinggi & jadi hiasan langit malam. Semoga kisah ini jadi bintang yg memberi warna bagi kehidupan.
Tak pernah benar - benar ada akhir dari sebuah kisah, tapi jeda yang panjang, kekosongan yang pekat, senyap yang menggema hingga jauh, kadang menjadi sebuah akhir.. tanpa…
titik.
( Email ini tak pernah terkirim yang terkirim cuma diam, diam yang tak terbaca jelas, diam yang menyenandungkan kesedihan )
Angin semilir terasa melekat hingga ke hati, tapi rasanya perih..
Di sudut ruang yg sepi..
Aku duduk melipat tubuh..
Memandang jauh dengan kosong.
Memandang diriku..
Dengan mata yang selalu basah dengan sendirinya.
Aku merindukanmu..
Sangat merindukanmu,
Apakah kamu tahu ?
Aku ingin..
Kamu tahu…
Cinta.
Happy Birthday, Key.
Bintang malam katakan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi sampaikan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya
Reff:
Tahukah engkau wahai langit
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya
Lagu rindu ini kuciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan
( Lagu rindu – Kerispatih )
Posted at 2/12/2009 12:56:20 pm by KaLvHiN
Permalink
Friday, June 20, 2008
Sebenarnya. banyak hal tidak saya pahami. Terkadang saya memaksakan diri saya untuk mengerti. Hingga tak jarang saya terjebak dalam pemahaman saya. Lalu saya bertanya ... Sudahkah saya benar - benar belajar ?? Saya menemukan jawabannya hari ini.. Bahwa, tidak ada satupun pengetahuan yang benar - benar mempunyai titik pemahaman yang final, karena banyak keadaan yang berubah yang terlalu cepat. Aku dan kamu .. Juga ada dalam arus perubahan itu. Tak terelakan.
Kalvhin 20 Juni 2008
Posted at 6/20/2008 2:41:55 pm by KaLvHiN
Permalink
Tuesday, June 17, 2008
Tepislah satu rasa cinta di hatimu, Relakan dia pergi ... Dan rasakan "aku" di dalam dirimu... Lebih dekat dan lebih mudah untuk kau kenali .. Sentuh "aku" dengan segenap rasamu.. Meski kau terkadang ingin muntah Memaki kekosongan waktu.. menangisi bayangan harapanmu yang kian memudar di kejauhan ... Hingga kelak .. Tanpa kau sadari.. Engkau akan memanggil "aku" dengan namamu .. Karena "aku" adalah engkau .. Yang selama ini sudah kau lupakan.. Dalam setiap kemunafikan, egois dan kerapuhanmu ... Tapi "aku" selalu ada .. Menunggumu memberi ruang .. Hingga "aku" bisa bernafas bebas .. Menjadi diriku : pribadi mu .. KaLvHiN 16 Juni 2008
Posted at 6/17/2008 1:04:59 pm by KaLvHiN
Permalink
Apa yang sudah terlanjur ... Kadang2 membingungkan ... Mengulang lagi.. Bukanlah suatu pekerjaan yang menyenangkan.. cost-nya kadang kelewat tak logis untuk di kompromikan. Kembali ke masa - masa awal, lebih membutuhkan tenaga extra dan kebesaran hati. Mengenang kembali ... bukanlah sebuah pekerjaan yang realistis dan dewasa... Tindakan yang seolah bijaksana , tapi sebenarnya diragukan. Mengenang sesuatu berlarut - larut, cuma pekerjaan orang2 yang kehabisan akal untuk me-manage waktu lebih ekonomis dan padat karya ... Tak menghasilkan apa - apa, selain membuat diri makin bodoh. Introspeksi diri, kadang sebuah kegiatan yang sia-sia. Hari ini sadar, besok sedikit teringat, tapi begitu satu moment terjadi dan mirip2 kejadian lalu, kita kembali menjadi bodoh ... Maju saja terus... Lebih fokus.. Lebih rasional.. Lebih keras berusaha ... Berpikir jernih sebelum bicara Lebih selektif sebelum membuat keputusan Salah sedikit, tidaklah mengapa.. Tapi, Ini lebih baik daripada berjalan di tempat... Semoga. KaLvHiN 17 Juni 2008
Posted at 6/17/2008 12:49:48 pm by KaLvHiN
Permalink
Monday, June 09, 2008
Terbaring di sini ... Negeri penuh tanya ... Penuh caci maki dan hujatan ... Diskriminasi ... Anarkisme ... Dan ... Kebingungan
Aku takut ... Bukan takut ketika harus mati ... Hanya takut tak lagi punya cinta ... Takut akan kehampaan ... Ketika melihat tubuh terluka.. Berdarah ...Tersayat .. Tubuh Kering dan kurus .. Yang harus mati karena lapar ...
Ego kita sudah membunuh ... Jutaan orang tak dikenal ... Ego kita adalah dewa serakah ... merampas napas - napas dari jazad yang tak berdaya ...
Siapa kita ?? Binatang - binatang modern, Pengetahuan tingkat tinggi Tapi tetap ... Binatang ...?!
Entah langit menangis Atau tertawa ... Betapa pongahnya kita ... Tuyul - tuyul itu gentanyangan .. menghardik damai kita yang tersisa ... Aku takut lihat darah ... Aku takut lihat tangisan ... Aku ingin tuli dari caci - maki Aku ingin buta dari kekerasan
Bunuh saja aku ... Agar aku tak tahu ... Ketika negeri ini sudah jadi neraka ... Dimana semua berlomba untuk jadi iblis Atas nyawa - nyawa yang hanya ingin hidup ...
Kenapa Tuhan bisa memberikan kita pilihan Tapi kita tak bisa memberikan sesama kita pilihan ?? Kenapa Tuhan bisa memberikan kita kebebasan ... Tapi kita memangkas kebebesan orang lain ??
Bunuh saja aku ... Agar aku tak tahu ... Aku ada dimana ... Karena aku terlanjur muak dan ingin mati saja
Kalvhin - Juni 2008
Posted at 6/9/2008 12:38:32 pm by KaLvHiN
Permalink
Monday, June 02, 2008
Mei 2008 ( Aku dan Kemarahanku )
Aku terpuruk bersimbah penat Berteriak menggelagar Jiwa - jiwa serakah dan egois itu menatapku Mataku nanar penuh darah Telunjukku menghardik tanpa suara Mereka menjadi kosong Menguap entah kemana Bersembunyi dalam kepalsuan .. Makin dalam .. Tak bisakah mereka mendengarku dengan hati ??
Aku jatuh oleh letih.. Jutaan peluh menari di tubuhku Lembabnya merasuki jiwaku Dingin .. Hampa.. Tapi membuat apiku makin berkobar
Siapakah yang mengenal aku ?? Kesunyian makin beku ( lagi - lagi tanpa suara ..) Siapakah yang mengingat kata - kataku ?? Iblis - iblis itu muncul mengancungkan tangan.. "Pergilah ... Sebelum kulumat, hingga engkau tak lagi mengenali wujudmu".
Wahai engkau bangsat - bangsat kegelapan Ketika gelap engkau datang.. Ketika terang engakau menghilang ... Bukan karena engkau takut cahaya .. Tapi engkau malu dikenali
Sudah kunajiskan engkau di antara segala penghuni Agar engkau selalu tak kasat mata Hiduplah dimana engkau suka Tapi jangan di hatiku Bahkan hanya bauk kentutumu Bisa membuat ku meradang lagi
Aku merebah.. Pikiranku terurai Menjuntai jadi cerita .. Kuikat perlahan menjadi satu Agar tidak terlepas menjadi kisah yang liar
"Cobalah sadari dan tenangkan hatimu. Tak perlu kamu harus terlalu peduli pada semua hal, karena setiap orang bermain sesuai dengan perannya. Dunia ini sarat oleh kepentingan dan kebohongan," pikiranku menyeruak. Tapi batinku merintih, "Aku belum bisa memahami".
Alam luruh dalam sunyi Sejumput tetes hujan jatuh digenggaman Mei 2008 berlalu .. Tertatih aku melangkahi jiwaku
"Tuhan, inilah aku. Sudah kubunuh hasrat dan kebencianku agar kita bisa kembali berdiskusi. Tapi tolong, berikan air penyucianMu, agar bisa kubasuh tubuh, jiwa dan rohku, karena sudah kubiarkan dunia memperkosa aku sepanjang musim ini."
PS : Maaf untuk semua yang sudah merasa terpojok karena kemarahanku dan kata - kataku . Sekali lagi, Maafkan saya.
Posted at 6/2/2008 6:16:29 pm by KaLvHiN
Permalink
Wednesday, October 17, 2007
KITAB-KITAB TOBIT, YUDIT DAN ESTER
Dalam terjemahan Latin. Vulgata, tiga kitab, yakni Tobit (Latin: Tobias), Yudit dan Ester ditempatkan sesudah kitab-kitab sejarah. Beberapa naskah penting yang memuat terjemahan Yunani (Septuaginta) mengikuti urutan yang sama. Tetapi naskah-naskah Yunani lain menempatkan kitab-kitab itu sesudah kitab-kitab Kebijaksanaan (Hikmat). Ketiga kitab tersebut merupakan sebuah kelompok kecil yang ada banyak ciri khas padanya.
1. TEKS ketiga kitab itu adalah kurang pasti dan kurang terjamin. Kitab Tobit aslinya ditulis dalam bahasa Semit (Ibrani atau Aram). Tetapi teks asli itu sudah hilang. Hieronimus menterjemahkan sebuah teks yang memakaf bahasa “Khaldea” (Aram) dan terjemahan ini tercantum dalam Vulgata. Tetapi teks yang dipakai Hieronimus untuk menterjemahkannya itu juga tidak kita miliki lagi. Tetapi dalam sebuah gua di dekat Qumran ditemukan kembali beberapa kepingan dari empat naskah kitab Tobit yang memakai hahasa Aram dan dari satu naskah yang memakai bahasa Ibrani. Terjemahan Yunani, Siria dan Latin masing-masing mewakili satu dari empat resensi yang tersedia (resensi = teks kitab yang pada umumnya sama, tetapi dengan perbedaan lebih kurang besar). Dua dari keempat resensi adalah paling penting. Yang satu terdapat dalam naskah (kodeks) Vaticanus (B) serta naskah Alexandrianus (A) dan yang lain tersimpan dalam naskah (kodeks) Sinaiticus (S) serta dalam terjemahan Latin kuno. Resensi yang kedua inilah yang sesuai dengan teks yang terdapat dalam kepingan-kepingan dan naskah-naskah yang diketemukan di Qumran. Maka resensi inilah yang nampaknya paling tua usianya. Terjemahan kami ini (pada umumnya) menuruti resensi yang terdapat dalam naskah S.
Teks Ibrani asli dari kitab Yudit juga hilang. Memang dalam abad-abad pertengahan beredarlah beberapa teks dalam bahasa ibrani. Tetapi boleh disangsikan apakah teks it betul-betul teks Ibrani yang asli. Ada tiga teks Yudit dalam bahasa Yunani yang cukup berbeda satu sama lain. Selebihnya terjemahan Latin (Vulgata) juga menyajikan sebuah teks yang berbeda dengan semua teks Yunani. Rupa-rupanya Hieronimus hanya memperbaiki suatu terjemahan Latin kuno berdasarkan sebuah parafrase Ydt yang memakai bahasa Aram.
Kitab Ester ada dua bentuknya, yaitu bentuk pendek dalam bahasa Ibrani (termasuk Alkitab Ibrani) dan bentuk lebih panjang yang disajikan terjemahan Yunani. Terjemahan Yunani itu sendiri ada dua resensinya. Resensi yang satu umumnya dipakai dan terdapat dalam naskah-naskah Septuaginta. Tetapi beberapa naskah Yunani memuat suatu resensi lain yang agak menyimpang dan dikerjakan oleh Lusianus dari Antiokhia. Terjemahan Yunani menambahkan beberapa bagian pada kitab Ester Ibrani, yakni mimpi Mordekhai yang ditempatkan paling dahulu dan tafsiran mimpi itu yang terdapat sesudah 10:3; dan maklumat raja Ahasyweros yang ditempatkan sesudah 3:13 dan 8:12; doa Mordekhai dan doa Ester yang ditaruh sesudah 4:17; suatu ceritera lebih panjang mengenai Ester yang menghadap raja Ahasyweros ditempatkan sesudah 5:1(2) dan mengganti teks Ibrani; suatu kata penutup mengenai dikerjakannya terjemahan Yunani ditaruh pada akhir seluruh kitab. Hieronimus menterjemahkan tambahan-tambahan itu, tetapi semua ditempatkan pada akhir terjemahannya yang menuruti naskah Ibrani (Vulg 10:4-16:26). Dalam terjemahan ini teladan Hieronimus dituruti, sehingga semua tambahan Yunani itu terdapat pada akhir terjemahan menurut naskah Ibrani.
2. Ketiga kitab itu baru di zaman belakangan masuk ke dalam DAFTAR KITAB SUCI. Kitab Yudit dan kitab Tobit tidak tercantum dalam Alkitab Ibrani dan tidak diterinia sebagai Kitab Suci oleh gereja-gereja Reformasi. Maka kitab-kitab itu di sebut “Deuterokanonik” atau dalam peristilahan gereja-gereja reformasi: Apokrip. Baru di zaman para Bapa Gerejn kitab-kitab itu umum diterima sebagai kitab-kitab suci dan itupun dengan agak banyak keberatan dari pihak beberapa orang. Namun demikian sejak dahulu kala kitab-kitab itu dibaca dan dipakai. Karenanya dicantumkan juga dalam daftar resmi kitab-kitab suci, di sebeIah barat sejak sinode di Roma (th 382 Mas.) dan di sebelah timur sejak konsili Konstantinopolis “in Trullo” (th 692). Bagian-bagian tambahan pada kitab Ester juga disebut: “Deuterokanonik” (Apokrip) dan menempuh sejarah sama dengan sejarah kitab Tob dan Ydt. Dalam abad pertama tarikh Mas. para rabi Yahudi berselisih pendapat apakah kitab Ester (Ibrani) termasuk Kitab Suci atau tidak. Tetapi kemudian dari itu kitab itu sangat dihargai oleh orang orang Yahudi.
3. GAYA SASTERA ketiga kitab itu pada umumnya sama juga. Baik sejarah mau pun ilmu bumi diperlakukan dengan bebas sekali. Menurut kitab Tob, maka Tobit, ayah Tobia, di masa mudanya masih mengalami terpecahnya kerajaan Israel setelah Salomo mangkat (th 931, Tob 1:4); ia diangkut ke pembuangan bersama suku Naftali (th 734, Tab 1:5,10) dan anaknya, Tobia, baru meninggal setelah kota Ninive hancur (th 612, Tob 14:15); seluruhnya 300 tahun lebih. Kitab Tob menyebut Sanherib sebagai pengganti langsung raja Salmaneser, Tob 1:15, dengan tidak berkata apa-apa tentang raja Sargon yang mengganti Salmaneser. Jarak antara kota Ragai yang terletak di pegunungan dan kota Ekbatana yang letaknya di tengah dataran, menurut Tob 5:6 adalah dua hari perjalanan jauhnya, padahal kedua kota itu terpisah dengan jarak 300 km dan kota Ekbatana terletak di ketinggian 2000 m lebih tinggi dari Ragai. Unsur-unsur historis Kitab Ester memang lebih tepat. Keterangan-keterangan mengenai kota Susan cukup kena. Demikianpun halnya dengan apa yang diceriterakan mengenai beberapa adat Persia. Raja Ahasyweros dengan nama Yunaninya Kserkses cukup dikenal.
Wataknya seperti digambarkan kitab Ester cocok dengan apa yang dikatakan Herodotos tentang raja jtu. Akan tetapi penetapan yang bermaksud membinasakan orang-orang Yahudi dan ditandatangani raja Ahasyweros kurang sesuai dengan politik toleran wangsa Akhemedes. Dan apa yang sama sekali tidak masuk akal ialah: Raja mengizinkan bawahan-bawahannya sendiri dimusnahkan; dan 75.000 orang Persia membiarkan dirinya dibunuh tanpa perlawanan. Di waktu peristiwa yang diceriterakan Est terjadi permaisuri raja Persia sesungguhnya bernama Amestris dan ilmu sejarah tidak tahu-menahu tentang seorang permaisuri yang bernama Wasti atau Ester. Seandainya Mordekhai benar-benar diangkut ke pembuangan di zaman raja Nebukadnezar, Est 2:6, maka di masa pemerintahan Ahasyweros ia berumur lebih kurang 150 tahun.
Khususnya kitab Yudit ternyata tidak menghiraukan sejarah atau ilmu bumi. Peristiwa yang diceriterakan terjadi di zaman pemerintahan “Nebukadnezar” yang merajai orang-orang Asyur di Ninive, Ydt 1:1, padahal Nebukadnezar sesungguhnya raja Babel waktu Ninive sudah dimusnahkan oleh ayah Nebukadnezar, yaitu Nabopolasar. Selebihnya kembalinya Israel dari pembuangan di zaman pemerintahan Karesy, raja Persia, dikisahkan sebagai suatu kejadian di masa yang lampau, Ydt 4:3; 5:19. Nama Holofernes dan Bagoas memang nama-nama Persia, tetapi ada juga beberapa ayat dalam kitab Ydt yang dengan jelas menyinggung adat-istiadat Yunani, 3:7-8;1 5:13. Jalan yang ditempuh tentara Holofernes, Ydt 2:21-28, menjadi suatu teka-teki bagi para ahli ilmu bumi. Setelah Holofernes tiba di daerah Samaria, diharapkan ceritera menjadi lebih tepat. Dan memanglah nama-nama tempat menjadi banyak. Akan tetapi kebanyakan nama tidak dikenal dan bunyinya agak aneh sedikit. Bahkan letak kota Betulia yang menjadi pusat ceritera tidak dapat ditentukan tempatnya di peta negeri Palestina, walaupun keterangan-keterangan yang diberi Ydt tentang tempat letaknya kota itu nampaknya sangat terperinci.
Sikap yang tidak ambil pusing mengenai sejarah dan ilmu bumi itu hanya dapat di pahami kalau para pengarang Kitab Tob, Est dan Ydt memang tidak bermaksud menulis buku sejarah, tetapi sesuatu yang lain. Mungkin titik-tolak ceritera-ceritera mereka adalah peristiwa-peristiwa yang sungguh pernah terjadi. Tetapi mustahilah menentukan peristiwa-peristiwa manakah yang menjadi landasan ceritera-ceritera itu. Ceritera-ceritera sendiri memang diciptakan oleh pengarang-pengarang dengan maksud mnenyampaikan suatu pengajaran kepada para pembaca. Maka pentinglah menentukan maksud masing-masing kitab dan menyimpulkan ajarannya.
Adapun KITAB TOBIT adalah sebuah kisah keluarga. Tobit yang bertempat tinggal di kota Niniwe adalah seorang suku Naftali yang masuk pembuangan. Ia seorang saleh yang taat hukum Taurat dan suka beramal, tetapi telah menjadi buta. Di kota Ekbatana ada seseorang sanak-saudara Tobit yang bernama Raguel dan mempunyai seorang anak perempuan, Sara namanya. Sara mengalami bahwa tujuh suaminya benturut-turut mati terbunuh oleh setan Asmodeus pada malam mereka menikah dengan Sara. Baik Tobit maupun Sara memanjatkan doa kepada Allah, supaya ía sudi mencabut nyawa mereka. Tetapi Allah membuat kemalangan mnereka menjadi sukacita besar. Allah mengutus malaikat Rafael yang mengantar Tobia, anak Tobit, kepada Raguel. Tobia diberiNya Sara sebagai isteri dan obat yang dapat menyembuhkan mata Tobit, ayahnya. Kisah yang mengharukan itu mau membina sikap iman dan moral sosial. Perhatian khusus diberikan kepada kewajiban menguburkan mayat dan memberi sedekah; dengan cara menarik peranan keluarga yang baik terungkap dan ditonjolkan keluhuran perkawinan. Perkawinan sebagai yang diidam-idamkan kitab Tob sesungguhnya adalah perkawinan Kristen sebelum agama Kristen tampil di bumi. Malaikat Rafael sebagai alat Allah baik menyingkapkan maupun menyembunyikan karya Allah. Kitab Tob mengajak para pembaca, supaya melihat penyelenggaraan ilahi yang berkarya dalam hidup sehari-hari dan betapa dekatNya Allab yang penuh belas-kasihan. Kitab Tob berlatar-belakang beberapa kisah dan ceritera yang terdapat dalam Kitab Suci. Ceritera-ceritera mengenai para bapa bangsa yang terdapat dalam Kej cukup besar pengaruhnya. Ditinjau dari segi seni sastera Tob menduduki tempat antara kitab Ayb dan Est, antara Za dan Dan. Kecuali itu ada persamaan antara Tob dan suatu karangan yang di zaman dahulu sangat laris, yang berjudul: Hikmat Akhikar, bdk Tob: 1:22; 2:10; 11:18; 14:10. Karangan itu sekurang-kurangnya dalam abad kelima seb. Mas. sudah dikenal. Kitab Tob sendiri agaknya ditulis di sekitar th 200 seb. Mas. dan barangkali di Palestina dengan memakai bahasa Aram.
KITAB YUDIT menceriterakan bagaimana umat terpilih mengalahkan seorang musuh berkat tindakan seorang perempuan. Bangsa Yahudi yang kerdil berhadapan dengan tentara raksasa yang dikepalai Holofernes. Panglima raja Nebukadnezar itu telah diberi tugas menaklukkan seluruh bumi kepada raja Nebukadnezar dan memusnahkan setiap ibadah kecuali ibadah kepada raja. Orang-orang Yahudi terkepung di kota Betulia. Mereka menderita kekurangan air dan hampir mau menyerah saja. Pada saat yang gawat itu muncullah Yudit. Ia seorang janda yang cantik, bijak, saleh dan teguh hati. Berturut-turut Yudit dapat niengalahkan ketawaran hati saudara-saudara sebangsa dan bala tentara Asyur. Para pemimpin kota Betulia ditegurnya karena kurang percaya kepada Allah. Lalu ia berdoa, bersolek, meninggalkan kota Betulia dan membiarkan dirinya dibawa menghadap panglima musuh, Holofernes. Dengan cerdiknya Yudit berhasil membujuk dan menipu panglimna itu. Ketika seorang diri dengan pejuang yang berpengalaman, tetapi kini mabuk itu, Yudit memenggal kepala Holofernes. Tentara Asyur mengetahui kejadian itu, lalu terkejut dan gugup melarikan diri. Orang-orang Yahudi habis-hahisan merampasi perkemahan tentara musuh. Mereka memuji-muji Yudit dan pergi ke Yerusalem untuk mengadakan ibadah syukur atas kemenangan yang gemilang itu.
Agaknya pengarang Ydt dengan sengaja mengacaukan peristiwa-peristiwa sejarah, agar supaya pembaca kisahnya jangan terpikat pada konteks historis, tetapi memusatkan perhatiannya kepada drama keagamaan yang dipentaskan dan kepada akhir drama itu. Susunan kisah sangat halus dan lancar. Contoh-contoh seni sastera yang serupa ditemukan dalam sastera Apokaliptik. Holofernes, hamba Nebukadnezar, melambangkan kejahatan; Yudit, yang namanya berarti “Wanita Yahudi”, mengibaratkan pihak Allah yang disamakan dengan pihak umatNya. Umat Allah mau dimusnahkan, tetapi Allah mengurniakan kemenangan dengan perantaraan seorang perempuan yang lemah. Maka umat kudus kembali ke Yerusalem. Ada kesamaan antara kitab Ydt dan Dan, Yeh dan Yl. Peristiwa terjadi di dataran Yizreel, dekai Megindo atau Harmagedon, tempat menurut kitab Why akan berlangsung pertempuran eskatologis, Why 16:16. Kemenangan yang diperoleh Yudit merupakan balasan atas doanya serta ketelitiannya dalam melakukan hukum-hukum tentang ketahiran seperti yang ditentukan hukum Taurat. Namun demikian kisah Ydt mempunyai ciri universil. Sebab keselamatan Yerusalem terjamin oleh apa yang terjadi di Betulia yang terletak di daerah orang-orang Samaria, yang dimusuhi oleh kalangan para saleh dalam agama Yahudi yang picik. Makna keagamaan bentrokan yang dikisahkan Ydt dengan tepat diungkapkan oleh Ahior, orang Amon, Ydt 5:5-21, yang akhirnya bertobat kepada Allah sejati, Ydt 14:5-10. Kitab Ydt dikarang di Palestina, kira-kira di pertengahan abad ke-2 seb. Mas, waktu semangat kebangsaan dan keagamaan hangat-hangatnya sebagai hasil pemberontakan para Makabe.
Sama seperti kitab Ydt, demikianpun KITAB ESTER menceriterakan bagaimana umat terpilih dibebaskan dari musuhmya dengan perantaraan seorang perempuan. Orang-orang Yahudi yang tinggal di negeri Persia terancam kebinasaan karena dibenci oleh perdana menteri, Haman, yang sangat berkuasa. Mereka diselamatkan oleh tindakan Ester, seorang pemudi sebangsa yang telah menjadi permaisuri di istana raja dan yang dibimbing oleh pamannya, Mordekhai. Tindakan Ester berhasil baik, lalu keadaan terbalik: Haman dipecat dan dihukum, Mordekhai menjadi perdana menteri dan orang-orang Yahudi menumpas musuh-musuh mereka. Sebagai kenangan akan kemenangan itu ditetapkan hari raya Purim yang setiap tahun wajib dirayakan orang-orang Yahudi.
Kisah kitab Est rnenggambarkan kebencian yang dialami orang-orang Yahudi di zaman dahulu oleh karena ciri khas cara hidup mereka yang bertentangan dengan hukum raja (bandingkan penganiayaan yang dialami bangsa Yahudi di zaman Antiokhus IV Epifanes). Rasa kebangsaan yang tebal dibangkitkan pada bangsa Yahudi justru sebagai suatu cara untuk membela diri. Rasa kebangsaan tebal yang tampil dalam kitab Est barangkali mengherankan kita. Tetapi tidak boleh kita lupa bahwa kitab Est belum tahu akan sikap hati yang dibawa oleh wahyu Kristus. Kecuali itu, gaya sastera kitab itu perlu diperhatikan juga. Persekongkolan dan tipu-muslihat dalam mahligai raja serta pembunuhan masal yang diceriterakan Est hanya bermaksud secara dramatis mengungkapkan suatu ajaran yang tidak lain kecuali ajaran keagamaan. Tindakan Mordekhai dan Ester yang membawa keselamatan itu mengingatkan kepada kisah mengenai Daniel dan lebih-lehih lagi kepada kisah tentang Yusuf yang dianiaya lalu dimuliakan demi keselamatan bangsanya. Dalam kisah mengenai Yusuf sebagaimana tercantum dalam Kej itu Allah tidak memperlihatkan kekuasaanNya. Namun Dialah yang memimpin jalannya peristiwa. Dan demikianpun halnya dalam kitab Ester yang berbahasa Ibrani. Kitab itu bahkan tidak sampai menyebut nama Allah. Namun penyelenggaraan ilahi membimbing babak demi babak drama umat Israel. Para pelaku drama itu insaf akan bimbingan itu. Mereka dengan sebulat hati percaya pada Allah yang melaksanakan rencana penyelamatanNya, kalaupun manusia yang menjadi pelaksana rencana itu kerap kali mengecewakan. Sehubungan dengan itu perlu dibaca Est 4:13-17, yang menjadi kunci seluruh kitab. Bagiau-bagian tambahan yang ditulis dalam bahasa Yunani mempunyai ciri keagamaan yang lebih nyata. Tetapi tambahan-tambahan ini hanya dengan jelas mengungkapkan apa yang disarankan oleh pengarang Ibrani. Tenjemahan Yunani kitab Est sudah ada dalam tahun 144 (atau 78) seb. Mas. Terjemahan itu dikirim kepada orang-orang Yahudi di negeri Mesir dengan maksud memperkenalkan hari raya Purim (Est tambahan Yunani pada akhir kitab). Kitab Est Ibrani dikarang lebih dahulu. Menurut 2 Mak 15:36 orang-orang Yahudi di Palestina sudah merayakan “Hari (raya) Mordekhai” dalam tahun 160 seb. Mas. Ini membuktikan bahwa kitab Ester dan barangkali kitabnya sudah dikenal pada waktu itu. Maka kitab Est mungkin dikarang di pertengahan abad ke-2 seb. Mas. Bagaimana hubungan sebenarnya antara kitab Ester dan Hari raya Purim tidak jelas. Sebab Est 9:20-32 barangkali suatu tambahan, oleh karena gaya bahasa bagian ini berbeda dengan gaya bahasa seluruh kitab. Asal-usul hari raya Purim juga tidak jelas. Mungkin kitab Est baru di kemudian hari dihubungkan dengan hari raya itu (2Mak 15:36 tidak menyebut Hari raya Purim, tetapi Hari Mordekhai) dengan maksud memberi dasar historis kepada perayaan itu.
Sumber : http://www.kitabsuci.net/tobit.htm
Vulgata Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Langsung ke: navigasi, cari Alkitab Vulgata adalah sebuah versi awal abad ke-5 dari Alkitab dalam Bahasa Latin yang sebahagiannya adalah hasil revisi dan sebahagiannya lagi adalah hasil terjemahan Hieronimus atas perintah Paus Damasus I pada tahun 382. Alkitab ini disebut vulgata dari frase versio vulgata, yakni "terjemahan untuk umum", dan ditulis dalam gaya sastra Latin yang umum pada abad ke-4 yang berbeda dengan Bahasa Latin Cicero yang lebih elegan. Vulgata merupakan perbaikan dari beberapa terjemahan yang digunakan saat itu, dan menjadi versi Alkitab definitif dan resmi dari Gereja Katolik Roma. Sebagaimana halnya Alkitab Peshitta (Alkitab Syria) yang lebih tua, Perjanjian Lama Vulgata diterjemahkan langsung dari Alkitab Masoretika (Alkitab Ibrani), bukan dari Alkitab Septuaginta (Alkitab Yunani). Pada tahun 405 Masehi, Hieronimus menyelesaikan terjemahan kitab-kitab protokanonika Perjanjian Lama dari Bahasa Ibrani, dan kitab-kitab deuterokanonika Tobit dan Yudit dari Bahasa Aram. Kitab-kitab lain dan kitab Mazmur diterjemahkan dari Bahasa Yunani. Dalam Alkitab Vulgata edisi Clementina terdapat 76 kitab, 46 kitab Perjanjian Lama, 46 kitab Perjanjian Baru, dan 3 kitab Apokripa.
Daftar isi [tampilkan] 1 Hubungan dengan Alkitab Latin kuno 2 Terjemahan Hieronimus 3 Mazmur 3.1 Mazmur baru 4 Manuskrip-manuskrip dan edisi-edisi awal 5 Edisi-edisi di kemudian hari 5.1 Vulgata Clementina 5.1.1 Cetakan-cetakan di kemudian hari 5.2 Edisi-edisi kritis yang lebih baru 5.3 Edisi Stuttgart 5.3.1 Vulgata elektronik 5.4 Nova Vulgata 5.4.1 Novum Testamentum Latine 6 Sumber-sumber terjemahan 7 Prolog-prolog 8 Pengaruh terhadap Budaya Barat 8.1 Terjemahan-terjemahan yang didasarkan pada Vulgata 8.2 Pengaruh terhadap Bahasa Inggris 9 Referensi 10 Pranala luar
[sunting] Hubungan dengan Alkitab Latin kuno Pasa masa Hieronimus, kata Vulgata digunakan untuk menyebut Septuaginta (Alkitab berbahasa Yunani). Alkitab berbahasa Latin yang digunakan sebelum Vulgata biasanya disebut Vetus Latina, atau "Alkitab Latin kuno", atau kadang-kadang "Vulgata Latin kuno".
Naskah tersebut tidak diterjemahkan oleh satu orang atau lembaga saja, bahkan tidak disunting secara seragam. Masing-masing kitab berbeda-beda kualitas terjemahan dan gaya bahasanya. Kitab-kitab Perjanjian Lamanya diterjemahkan dari Septuaginta, bukan dari Bahasa Ibrani.
Versi Latin kuno masih digunakan di lingkungan tertentu bahkan sesudah Vulgata Hieronimus menjadi Alkitab standar yang berterima di seluruh Gereja Barat. Beberapa komunitas Gallia terus mempergunakan versi Latin kuno selama berabad-abad.
[sunting] Terjemahan Hieronimus Santo Hieronimus dalam studinya, fresko karya Domenico Ghirlandaio, 1480 (Ognissanti, Florence)Hieronimus tidak terjun dalam pekerjaan ini dengan maksud untuk menciptakan sebuah versi baru dari keseluruhan Alkitab, tetapi hakikat perubahan dari program kerjanya dapat dilacak dalam korespondensinya yang panjang lebar itu (walaupun Hieronimus sendiri bukanlah seorang saksi mata yang dapat diandalkan). Dia telah ditugaskan oleh Paus Damasus pada tahun 382 untuk merevisi naskah Latin Kuno dari keempat Injil hasil terjemahan dari naskah-naskah Yunani terbaik; dan pada saat mangkatnya Paus Damasus pada tahun 384 dia telah sepenuhnya menunaikan tugas itu, bersama dengan sebuah revisi umum dari Septuaginta Yunani atas naskah Latin kuno untuk kitab Mazmur. Seberapa banyak keseluruhan Perjanjian Baru direvisi Hieronimus sulit untuk diketahui saat ini; dan jika demikian maka hanya sedikit dari karyanya yang masih ada dalam naskah Vulgata. Pada tahun 385 Hieronimus diusir dari Roma, lalu pergi menetap di Betlehem. Di sana dia menghasilkan sebuah versi baru dari kitab Mazmur, yang diterjemahkannya dari naskah Yunani Hexapla. Dia juga tampaknya telah menerjemahkan kitab-kitab Septuaginta lainnya ke dalam Bahasa latin; namun lagi-lagi, semuanya itu tidak ditemukan dalam naskah Vulgata. Tetapi sejak tahun 390 sampai 405 Hieronimus beralih menerjemahkan langsung dari Bahasa Ibrani - dan menerjemahkan ulang seluruh 39 kitab dalam Alkitab Ibrani; termasuk suatu versi lanjut, yakni yang ketiga, dari kitab Mazmur yang masih dapat ditemukan dalam sejumlah kecil manuskrip Vulgata.
Dalam prolognya, Hieronimus menganggap kitab-kitab yang termasuk dalam Septuaginta namun tidak ditemukan dalam Alkitab Ibrani, sebagai non-kanonik; kitab-kitab itu disebutnya apokripa.[1] Meskipun demikian, Septuaginta adalah, dan tetap merupakan, Alkitab Perjanjian Lama standar bagi umat Kristiani berbahasa Yunani; dan serta-merta hal yang sama terjadi dengan padanannya Latinnya yakni Alkitab Perjanjian Lama Vulgata. Dari naskah-naskah Perjanjian Lama di luar kanon Ibrani, Hieronimus membuat terjemahan baru untuk kitab Tobit dan Yudit dari Bahasa Aram; namun dari Bahasa Yunani, hanya tambahan-tambahan pada kitab Ester dari Septuaginta, dan tambahan-tambahan pada kitab Daniel dari Theodotion. Kitab-kitab lainnya; Barukh, Kebijaksanaan, Yesus Bin Sirakh, kitab-kitab Makabe, 3 dan 4 Ezra dan Doa Manasye masih dipertahankan terjemahan Latin Kunonya dalam manuskrip-manuskrip Vulgata. Gaya bahasanya masih dapat dibedakan dari gaya bahasa Hieronimus. Dalam naskah Vulgata, terjemahan Hieronimus dari Bahasa Yunani untuk tambahan-tambahan pada kitab Ester dan Daniel, digabungkan dengan terjemahan-terjemahan kitab Ester dan Daniel dari Bahasa Ibrani.
[sunting] Mazmur Mazmur Roma yang disebut Versio Romana atau Psalterium Romanum dari tahun 384 adalah revisi pertama Hieronimus atas kitab Mazmur. Mazmur Roma berasal dari kitab Mazmur Versio Vetus Latina, dan dikoreksi agar lebih sejalan dengan Septuaginta. Versio Romana ini kemudian tergantikan oleh terjemahan Hieronimus yang berikutnya kecuali di Inggris Anglo-Saxon, di mana versi tadi terus digunakan sampai era penaklukan bangsa Normandia (1066). Mazmur Roma masih digunakan saat ini di Basilika Santo Petrus, Vatikan, dan Katedral Santo Markus di Venesia. Versi ini mirip dengan versi yang digunakan dalam Ritus Ambrosiana.[2]
Meskipun beberapa manuskrip Vulgata awal memuat terjemahan kitab Mazmur oleh Hieronimus dari Bahasa Ibrani, versi Mazmur yang termuat dalam semua manuskrip dan edisi di kemudian hari adalah Versio Gallicana hasil terjemahan dari naskah Yunani Hexapla.
[sunting] Mazmur baru Pada abad ke-20 terbit dua Mazmur baru untuk digunakan bersama Vulgata yakni Versio Piana tahun 1945 dan Versio Nova Vulgata tahun 1969. Versi 1969 digunakan dalam Alkitab edisi Nova Vulgata.
[sunting] Manuskrip-manuskrip dan edisi-edisi awal Sejumlah manuskrip awal yang memuat Vulgata awal masih ada sampai sekarang. Codex Amiatinus, berpenanggalan abad ke-8 adalah manuskrip Alkitab Vulgata lengkap tertua yang masih ada. Codex Fuldensis, berpenanggalan sekitar tahun 545, berisikan sebahagian besar Perjanjian baru dalam versi Vulgata; tetapi ke-4 injil Vulgata dalam manuskrip tersebut diselaraskan menjadi sebuah narasi bersambung yang berasal dari Diatessaron.
Selama Abad Pertengahan, Vulgata tidak luput dari kesalahan penyalinan yang dilakukan para penyalin naskah dalam biara-biara di seluruh Eropa. Sejak permulaannya, bacaan-bacaan dari Vetus Latina diperkenalkan. Catatan-catatan pinggir secara keliru dimasukkan menjadi bagian dari naskah. Tak satu pun salinan yang sama dengan salinan lain karena si penyalin menambah, mengurangi, keliru mengeja, atau keliru memperbaiki ayat-ayat dalam Alkitab Latin.
Sekitar tahun 550, Cassiodorus (Flavius Magnus Aurelius Cassiodorus Senator, negarawan dan penulis Romawi) berupaya memulihkan kemurnian Vulgata menjadi seperti semula. Alcuin (Flaccus Albinus Alcuinus atau Ealhwine, pujangga Inggris) dari York menyelia upaya perbaikan Vulgata, yang dipersembahkannya kepada Charlemagne pada tahun 801. Upaya-upaya serupa dilakukan pula oleh Santo Theodulfus Uskup Orleans (787?- 821), Lanfranc Uskup Agung Canterbury (1070-1089), Stephen Harding Abbas (kepala biara) dari Cîteaux (1109-1134), dan Diakon Nicolaus Maniacoria (sekitar permulaan abad ke-13). Universitas Paris menghimpun daftar "correctoria" - bacaan-bacaan resmi yang perbedaan-perbedaan sudah diketahui. Sayang sekali, banyak dari bacaan-bacaan yang direkomendasikan tersebut kini diketahui merupakan interpolasi.
Meskipun hadirnya percetakan sangat memperkecil potensi kesalahn yang diperbuat manusia dan meningkatkan konsistensi dan keseragaman naskah, edisi-edisi cetak awal dari Vulgata hanya mereproduksi manuskrip-manuskrip yang tersedia bagi penerbit. Dari ratusan edisi awal, yang paling menonjol saat ini adalah edisi Mazarin yang diterbitkan oleh Johann Gutenberg pada tahun 1455, terkenal karena keindahan dan keantikannya. Pada tahun 1504 Vulgata pertama dengan variasi-variasi bacaan diterbitkan di Paris. Salah satu naskah dari naskah-naskah Complutensian Polyglot merupakan suatu edisi Vulgata yang disusun dari manuskrip-manuskrip kuno dan dikoreksi agar sesuai dengan naskah Yunaninya. Erasmus menerbitkan sebuah edisi yang dikoreksi agar lebih sesuai dengan Alkitab Bahasa Yunani dan Bahasa Ibrani pada tahun 1516. Edisi-edisi koreksi lainnya diterbitkan oleh Pagninus pada tahun 1518, kardinal Kayetanus, Steuchius pada tahun 1529, Clarius pda tahun 1542, dan lain-lain. Pada tahun 1528, Robertus Stephanus menerbitkan edisi kritis pertama yang menjadi dasar edisi-edisi Sistina dan Clementina di kemudian hari. Edisi kritis Yohanes Hentenius dari Louvain menyusul pada tahun [3]. Pada tahun 1550, Stephanus lari ke Jenewa tempat dia menerbitkan, pada tahun 1555, edisi kritis Vulgata terakhirnya, yang berupa Alkitab lengkap pertama yang terbagi-bagi dalam bab-bab dan ayat-ayat - dan yang menjadi naskah referensi Alkitab standar dalam Reformasi teologi pada akhir abad ke-16.
[sunting] Edisi-edisi di kemudian hari Judul "Vulgata" kini diberikan kepada tiga naskah yang berbeda, semuanya dipergunakan secara luas di internet. Pembaca dengan cepat dapat mengetahui naskah yang mana yang dibacanya dengan cara mencermati ejaan nama Hawa dalam 'Kejadian 3:20'.
Vulgata Clementina; Alkitab Latin resmi Gereja Katolik Roma sejak tahun 1592 sampai 1979. Meskipun edisi terakhir merupakan reproduksi dari Alkitab Vulgata Clementina terbitan tahun 1592, naskahnya telah mengalami perubahan ejaan dan tanda baca; serta memuat pembagian-pembagian ayat seperti Vulgata Jenewa tahun 1555. Dalam Kitab Kejadian 3:20, nama "Hawa" dieja "Heva". Edisi-edisi kritis moderen dari Vulgata (Stuttgart, Wordsworth, dan White). Edisi-edisi tersebut mencoba sedapat mungkin memperbaiki naskah agar kembali seperti naskah asli dari Heronimus, khususnya dalam hal mengeluarkan bacaan-bacaan yang telah terinterpolasi ke dalam Vulgata Clementina. Dalam Kitab Kejadian 3:20, nama "Hawa" dieja "Hava". Nova Vulgata; Alkitab Latin resmi Gereja Katolik Roma sejak tahun 1979. Merupakan Vulgata Clementina yang telah diperbaiki dan dimodifikasi. Dalam Kitab Kejadian 3:20, nama "Hawa" dieja "Eva".
[sunting] Vulgata Clementina Prolog Injil Yohanes, Alkitab Vulgata Clementina, edisi 1922Vulgata Clementina (Biblia Sacra Vulgatae Editionis Sixti Quinti Pontificis Maximi iussu recognita atque edita) merupakan edisi yang paling dikenal umat Katolik yang hidup pada masa sebelum adanya reformasi liturgis sesudah Konsili Vatikan II (salah satu konsekuensi dari reformasi tersebut adalah makin jarangnya Bahasa Latin dipergunakan dalam liturgi).
Sesudah Reformasi Protestan, tatkala Gereja Katolik berjuang menghadapi doktrin-doktrin Protestantisme, Vulgata diteguhkan kembali dalam Konsili Trente sebagai satu-satunya Alkitab berbahasa Latin yang diizinkan untuk digunakan.[4] Untuk memperkuat deklarasi itu, dewan Konsili menugaskan Sri Paus untuk membuat sebuah naskah standar dari Vulgata di luar dari edisi-edisi produksi masa renaissance dan manuskrip-manuskrip produksi Abad Pertengahan yang begitu banyak jumlahnya. Wujud nyata pertama dari naskah resmi ini baru muncul pada tahun 1590. Naskah ini disponsori oleh Paus Sixtus V (1585-1590) dan dikenal sebagai Vulgata Sistina. Naskah ini didasarkan atas edisi Robertus Stephanus yang dikoreksi agar sesuai dengan naskah Yunani, akan tetapi karena buru-buru dicetak maka nahkah ini mengalami banyak kesalahan cetak. Vulgata Sistina dengan segera digantikan oleh sebuah edisi baru setelah terpilihnya paus yang baru, Klemens VIII (1592-1605) yang segera memerintahkan agar dilakukan koreksi dan revisi. Versi baru itu lebih banyak didasarkan atas edisi Hentenius, dan dikenal sebagai Vulgata Sixto-Clementina, atau singkatnya Vulgata Clementina, meskipun nama 'Sixtus' yang tampak pada halaman judul. Klemens menerbitkan 3 cetakan edisi ini pada tahun 1592, 1593, dan 1598.
Vulgata Clementina berbeda dari manuskrip-manuskrip yang menjadi dasarnya karena di dalamnya berbagai kata pengantar dari St. Heronimus dikelompokkan menjadi satu di bagian permulaan, dan menempatkan Kitab 3 dan 4 Ezra serta Doa Manasye ke dalam sebuah lampiran.
Kitab Mazmur Vulgata Clementina, seperti halnya dalam hampir semua edisi di kemudian hari, adalah Gallicanum.
Vulgata Clementina 1592 menjadi Alkitab standar Gereja Katolik Ritus Roma sampai tahun 1979, tahun diperkenalkannya Nova Vulgata.
[sunting] Cetakan-cetakan di kemudian hari Setelah cetakan Vulgata 1598 dari Paus Klemens, Tahta Suci tidak lagi mengeluarkan cetakan resmi lain, tugas tersebut ditinggalkan bagi pencetak-pencetak lain. Meskipun percetakan-percetakan Vulgata Clementina lainnya dengan setia mereproduksi kata-kata dari edisi resmi, mereka sering bebas dalam hal ejaan, tanda baca, penggunaan huruf Kapital, dan batas paragraf. Pada tahun 1906, P. Michael Hetzenauer memproduksi suatu edisi yang kembali ke versi asli Vulgata Clementina dengan memperhatikan variasi-variasi tiga edisi yang diterbitkan Paus Klemens serta correctoria resmi yang dikeluarkan Vatikan.
Pada tahun 1986, Biblioteca de Autores Cristianos menerbitkan cetak ulang Vulgata Clementina (ISBN 8-479-14021-6), mengeluarkan Kitab-Kitab Apokripa, tetapi memuat berbagai dokumen magisterium dan Mazmur Latin Versio Piana selain Mazmur Latin Versio Gallicana.
[sunting] Edisi-edisi kritis yang lebih baru Sesudah penerbitan Vulgata Clementina, diterbitkan beberapa edisi kritis. Pada tahun 1734, Vallarsi menerbitkan sebuah edisi Vulgata yang sudah dikoreksi. Sebahagian besar dari edisi-edisi di kemudian hari terbatas pada Perjanjian Baru saja, teristimewa edisi Fleck[5] tahun 1840, Edisi Tischendorf tahun 1864, dan Edisi Oxford oleh Uskup J. Wordsworth dan H.J. White pada tahun 1889.
Pada tahun 1907, Paus Pius X menugaskan para rahib Biara Benediktin St. Hieronimus di Roma untuk menyusun sebuah edisi kritis dari Vulgata Hieronimus sebagai dasar bagi revisi atas edisi Clementina.[6][7] Hanya Perjanjian Lama yang dapat diselesaikan, namun edisi kritis tersebut menjadi pelengkap bagi edisi Wordsworth dan White. Edisi buah karya para rahib benediktin ini mendorong terciptanya Nova Vulgata. Edisi tersebut digunakan sebagai dasar bagi banyak bagian Perjanjian Lama Vulgata Stuttgart.[8]
[sunting] Edisi Stuttgart Vulgata edisi Stuttgart pertama kali diterbitkan pada tahun 1969 (edisi ke-4, tahun 1994) oleh Lembaga Alkitab Jerman (Deutsche Bibelgesellschaft), yang bertempat di Stuttgart. Edisi ini, yang secara alternatif dijuduli Biblia Sacra Vulgata atau Biblia Sacra iuxta vulgatam versionem (ISBN 3-438-05303-9), merupakan suatu "edisi manual" karena edisi ini meringkas banyak informasi dalam edisi-edisi kritis yang berbab-bab tebalnya menjadi satu bab yang padat. Edisi ini merusaha merekonstruksi naskah Vulgata awal yang lebih dekat dengan naskah yang dihasilkan Hieronimus 1.600 tahun yang lalu. Edisi ini didasarkan atas edisi-edisi kritis Vulgata yang telah terbit sebelumnya, edisi Benediktin dan Perjanjian Baru Latin karya Wordsworth dan White, yang menyediakan beragam bacaan dari berbagai manuskrip dan edisi-edisi cetak Vulgata serta perbandingan penggunaan kata yang berbeda dalam catatan-catatan kakinya. Vulgata Stuttgart mencoba, melalui perbandingan kritis manuskrip-manuskrip Vulgata historis yang penting, untuk menciptakan kembali sebuah naskah awal yang bersih dari kesalahan-kesalahan penyalinan naskah selama satu milenium. Salah satu sumber kritis penting bagi Vulgata Stuttgart adalah Codex Amiatinus, satu-gulungan utuh manuskrip abad ke-8 yang sangat dihargai, berisi keseluruhan Alkitab Latin yang dibuat di Inggris, dan dianggap sebagai bukti terbaik Abad Pertengahan dari naskah asli karya Hieronimus.
Bagi mereka yang mempelajari Vulgata, edisi Stuttgart cukup penting karena memuat semua prolog Hieronimus untuk Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kitab-kitab utama dan bagian-bagian Alkitab (Pentateukh, Injil-Injil, Nabi-Nabi Minor, dst.). Dalam hal ini Vulgata Stuttgart meneladani gaya edisi-edisi Vulgata Abad Pertengahan yang tidak pernah terbit tanpa prolog-prolog Hieronimus. Dalam ejaannya, Edisi Stuttgart juga mempertahankan ortografi Latin abad pertengahan melebihi Edisi Clementina, kadang-kadang menggunakan oe bukannya ae, dan berisi lebih banyak nomina berawalan huruf H yang tepat (misalnya, Helimelech bukannya Elimelech), akan tetapi ejaan tersebut tidak konsisten digunakan secara menyeluruh, seperti dalam manuskrip-manuskrip tersebut. Vulgata Stuttgart juga mengikuti manuskrip-manuskrip abad pertengahan dalam hal menggunakan cara penggal kalimat, bukannya sistem tanda baca moderen, untuk menunjukkan struktur tiap ayat. Karena hal-hal inilah maka mula-mula Vulgata Stuttgart terasa asing bagi para pembaca yang sudah terbiasa dengan Vulgata Clementina.
Edisi ini memuat dua versi Mazmur, yakni Versio Gallicana dan Versio juxta Hebraicum, yang dicetak bersebelahan halamannya agar mudah membandingkannya satu sama lain. Edisi ini juga memuat beberapa kitab Apokripa, selain bab 3 dan 4 dari kitab Ezra, dan kitab Doa Manasye, ada pula Mazmur 151, dan Surat kepada Jemaat di Laodikia.
Selain itu, kata-kata pengantarnya yang moderen merupakan sumber informasi yang berharga mengenai sejarah Vulgata.
[sunting] Vulgata elektronik Salah satu alasan mengapa edisi Stuttgart memiliki arti penting adalah kenyataan bahwa edisi tersebut merupakan edisi yang paling banyak dipergunakan di Internet. Versi Elektronik tersebut biasanya terpenggal-penggal, tidak terformat secara keseluruhan, tanpa catatan-catatan, kata pengantar dan alat-bantu (apparatus), tanpa Kitab Mazmur Gallia, Apokripa, dan Deuterokanonika, dan bahkan kerap hanya memuat tiga bab pertama Kitab Daniel (berakhir pada bagian di mana naskah deuterokanika Nyanyian Tiga Anak Suci berawal)
[sunting] Nova Vulgata Nova Vulgata (Bibliorum Sacrorum nova vulgata editio, ISBN 88-209-2163-4) adalah edisi Latin yang diterbitkan oleh Gereja Katolik Roma dan disetujui untuk dipergunakan dalam liturgi. Pada tahun 1965, menjelang penutupan Konsili Vatikan II, Paus Paulus VI membentuk sebuah komisi untuk merevisi Vulgata yang ada saat itu agar sesuai dengan studi linguistik dan tekstual moderen dengan tetap melestarikan atau memulihkan kembali kemurnian gaya Latin Kristianinya. Komisi tersebut menerbitkan karyanya dalam delapan bagian bersama catatan-catatan penjelasan masing-masing, yang mengundang kritikan dari para sarjana Katolik tiap kali masing-masing bagian diterbitkan. Mazmur Latin diterbitkan pada tahun 1969 dan keseluruhan Nova Vulgata pada tahun 1979.[9]
Naskah dasar dari kebanyakan bagian Nova Vulgata adalah edisi kritis karya para rahib Benediktin dari biara St. Hieronimus atas perintah Paus Pius X. Naskah dasar kitab Tobit dan kitab Yudit adalah manuskrip-manuskrip Vetus Latina, bukannya Vulgata. Semua naskah dasar tersebut direvisi agar sesuai dengan edisi-edisi kristis moderen dalam bahasa Yunani, Ibrani, dan Aram. Terdapat pula sejumlah perubahan pada bagian-bagian di mana para sarjana moderen merasa bahwa Hieronimus telah gagal dalam menyerap makna dari bahasa-bahasa aslinya.
Nova Vulgata tidak memuat kitab-kitab apokripa yang termuat dalam Edisi Clementina serta edisi-edisi lain, misalnya Kitab Doa Manasye serta bab 3 dan 4 dari Kitab Ezra.
Pada tahun 1979, setelah melalui persiapan beberapa dasawarsa lamanya, Nova Vulgata diterbitkan dan dinyatakan sebagai Alkitab versi Latin resmi dari Gereja Katolik dalam Konstitusi Apostolik Scripturarum Thesaurus[10] dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II.
Nova Vulgata tidaklah disambut hangat oleh umat Katolik konservatif, yang umumnya memandangnya sebagai salah satu dari beberapa versi terjemahan baru dari Kitab Perjanjian Lama, ketimbang sebagai suatu revisi atas karya Hieronimus. Lagi pula, beberapa bacaan di dalamnya kurang akrab di telinga mereka yang sudah terbiasa dengan Vulgata Clementina.
Pada tahun 2001, Vatikan mengeluarkan instruksi Liturgiam Authenticam,[11] yang menetapkan Nova Vulgata sumber utama bagi semua terjemahan liturgi dari bahasa aslinya ke dalam bahasa setempat, "dengan maksud mempertahankan tradisi penafsiran yang sesuai dengan Liturgi Latin".
[sunting] Novum Testamentum Latine Pada tahun 1984 dan 1992, Kurt dan Barbara Aland menerbitkan Novum Testamentum Latine (ISBN 1-598-56175-8). Naskahnya merupakan cetak ulang dari Perjanjian Baru Nova Vulgata yang diberi apparatus kritis yang menyajikan variasi-variasi bacaan dari edisi-edisi sebelumnya. Edisi-edisi yang tersaji dalam apparatus adalah Alkitab Gutenberg, naskah Latin dari Complutensian Polyglot, edisi Wittenberg yang disukai Luther, edisi Robertus Stephanus, edisi Christophorus Plantinus, edisi Paus Sixtus V, edisi Paus Clemens VIII, edisi Wordsworth dan White, serta edisi Stuttgart.
[sunting] Sumber-sumber terjemahan Kitab-kitab Perjanjian Baru, Mazmur, sebagian besar kitab deuterokanonika, dan apokripa dalam Perjanjian Lama dari Vulgata merupakan hasil terjemahan dari naskah Yunani[8].
Untuk menerjemahkan ke-36 kitab dalam Alkitab Ibrani, Hieronimus relatif bebas dalam mengalihbahasakan naskahnya ke Bahasa Latin; namun dapat dipastikan bahwa manuskrip-manuskrip tertua yang masih ada sampai sekarang dari Naskah Masoretik - dihasilkan hampir 600 tahun sesudah Hieronimus - bagaimanapun juga mewarisi naskah Ibrani konsonantal (hanya berupa huruf-huruf konsonan) yang sangat dekat dengan naskah yang digunakan oleh Hieronimus. Konsekuensinya, ke-36 kitab Vulgata tersebut - meskipun tinggi kualitas sastranya - hanya sedikit yang dapat dibahas mengenai independensi naskahnya. Hieronimus menerjemahkan kitab Tobit dan kitab Yudit dengan susah payah, ia menggunakan jasa seorang penerjemah Yahudi untuk mengalihbahasakan naskah Bahasa Aram ke dalam Bahasa Ibrani secara lisan, barulah kemudian diterjemahkannya ke dalam bahasa Latin. Naskah-naskah tersebut kecil nilai tekstualnya. Akan tetapi naskah-naskah Perjanjian Lama Vulgata yang diterjemahkan dari bahasa Yunani - baik oleh Hieronimus sendiri maupun versi-versi Latin-Kuno yang tetap dipertahankan - merupakan saksi-saksi awal dan penting sekunder bagi Septuaginta.
Paus Damasus menginstruksikan Hieronimus agar bersikap konservatif dalam merevisi Injil-Injil naskah Latin-Kuno, dan ketaatan Hieronimus dapat dilihat dari dipertahankannya beragam kosa kata Latin dalam Vulgata untuk istilah-istilah Yunani yang sama. Hasilnya, kata "imam besar" diterjemahkannya sebagai "princeps sacerdotum" dalam Injil Matius; sebagai "summus sacerdos" dalam Injil Markus; dan sebagai "pontifex" dalam Injil Yohanes Vulgata. Perbandingan naskah-naskah Injil terjemahan Hieronimus dengan naskah-naskah Injil Latin Kuno membuktikan bahwa revisi yang dilakukannya secara substansial berkaitan dengan penyuntingan karakteristik fraseologi yang meluas dalam tipe-naskah Barat, sejalan dengan naskah-naskah Aleksandria, atau mungkin naskah-naskah Byzantium awal. Karena metode-metode Hieronimus yang konservatif, dan karena jarangnya bukti-bukti manuskrip dari luar Mesir pada masa itu; maka bacaan-bacaan Vulgata tersebut lumayan memiliki daya tarik kritis. Yang masih tetap paling menarik - karena secara efektif tidak tersentuh oleh Hieronimus - adalah kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya dalam Vulgata; yang justru lebih memperlihatkan ekspansi-ekspansi "Barat" yang dimaksud, dan yang justru merupakan warisan dari naskah Latin Kuno yang paling awal. Yang paling berharga di atas semuanya, dari sudut pandang kritis sebuah naskah, adalah naskah kitab Wahyu dalam Vulgata, karena naskah-naskah kitab tersebut dalam Bahasa Yunani sangatlah sedikit dan sangat bervariasi.
Bagaimanapun juga, seluruh evaluasi di atas mengacu pada naskah Vulgata kritis yang direka-ulang sejak akhir abad ke-19 dan selanjutnya - menyusun kembali susunan naskah yang beredar di Italia pada pertengahan abad ke-6 Masehi. Naskah Clementina yang standar memiliki perbedaan dalam banyak bacaan-bacaan penting - misalnya Comma Johanneum (1 Yohanes 5: 7-8), kata-kata dari Mazmur 22 (Matius 27:35), serta Malaikat di Bethesda (Yohanes 5: 4) - dan kurang bernilai bagi studi tekstual.
[sunting] Prolog-prolog Selain ayat-ayat Alkitab, Vulgata juga memuat tujuh belas prolog, enam belas di antaranya ditulis oleh Hieronimus. Prolog-prolog Hieronimus dari segi tertentu tidaklah tepat disebut sebagai prolog karena ditulis tidak seperti lazimnya prolog melainkan sebagai surat pengantar kepada individu-individu tertentu yang menyertai salinan terjemahan-terjemahannya. Karena prolog-prolog itu tidak dimaksudkan untuk dibaca oleh umum, maka beberapa komentar Hieronimus di dalamnya tidak dapat difahami dengan jelas. Prolog-prolog yang dimaksud adalah prolog untuk Pentateukh (5 Kitab Musa)[12], Yosua,[13] Raja-Raja, yang juga disebut Prologus Galeatus.[14] Selanjutnya adalah prolog-prolog untuk Tawarikh,[15] Ezra,[16] Tobit,[17] Yudit,[18] Ester,[19] Ayub,[20] Mazmur,[21] Kebijaksanaan Salomo,[22] Yesaya,[23] Yeremia,[24] Yehezkiel,[25] Daniel,[26] Nabi-Nabi Minor,[27] Injil-Injil,[28], serta prolog terakhirnya yakni prolog untuk Surat-Surat Paulus dan yang lebih dikenal sebagai Primum quaeritur.[29] Masih terkait dengan itu adalah tulisan Hieronimus berupa Catatan-catatan mengenai Tambahan pada Kitab Ester[30] serta Prolog untuk Mazmur Ibrani.[31]
Sebuah tema dari Perjanjian Lama yang berulang-ulang muncul dalam prolog-prolog tersebut adalah kecenderungan Hieronimus untuk lebih menyukai Hebraica veritas (Kebenaran Ibrani) dari pada Septuaginta, kecenderungan lebih-suka yang dipertahankannya dengan gigih dari para penentangnya. Dia menyatakan bahwa naskah Ibrani lebih jelas dari pada naskah Yunani dalam hal meramalkan figur Kristus. Salah satu dari prolog-prolog yang paling istimewa adalah Prologus Galeatus, yang di dalamnya Hieronimus memaparkan kanon 22 kitab Perjanjian Lama, yang menurutnya terwakilkan dalam 22-huruf dari abjad Ibrani. Sebagai alternatif, dia memberi jumlah 24 kitab, yang menurutnya menggambarkan 24 tua-tua dalam Kitab Wahyu yang melemparkan mahkota mereka ke hadapan Anak Domba.
Yang juga patut dicermati adalah Primum quaeritur, yang membela pendapat bahwa Paulus adalah penulis dari Surat Ibrani, dan membandingkan sepuluh surat Paulus kepada Gereja-Gereja dengan 10 Perintah Allah. Tidak diketahui siapa penulis Primum quaeritur. Para editor Vulgata Stuttgart memberi keterangan bahwa versi dari surat-surat tersebut mula-mula populer di kalangan kaum Pelagian.
Selain Primum quaeritur, banyak manuskrip memuat catatan-catatan singkat untuk tiap surat yang berisi keterangan mengenai dimana surat itu ditulis, serta di mana penerima surat tersebut tinggal. Adolf von Harnack,[32] berpendapat bahwa catatan-catatan tersebut ditulis oleh Marcion dari Sinope atau salah seorang pengikutnya. Harnack menulis: "Kita sesungguhnya sudah lama mengetahui bahwa bacaan-bacaan Marcionit berhasil menyusup ke dalam naskah gerejawi dari surat-surat Paulus, namun kini selama tujuh tahun telah kita ketahui bahwa Gereja-Gereja sebenarnya menerima prefasi-prefasi Marcionit atas surat-surat Paulus! De Bruyne telah menghasilkan salah satu penemuan terbaik di kemudian hari yang membuktikan bahwa prefasi-prefasi tersebut, yang mula-mula kita baca dalam Codex Fuldensis dan kemudian dalam sejumlah manuskrip-manuskrip yang dibuat sesudahnya, bersifat Marcionit, dan bahwa Gereja-Gereja tidak sadar akan kehadiran si iblis."
[sunting] Pengaruh terhadap Budaya Barat Dalam hal memiliki arti penting bagi budaya, seni, dan kehidupan Abad Pertengahan, Vulgatalah yang paling unggul. Selama abad-abad kegelapan dan berlanjut pada masa Renaissance dan Reformasi, karya agung Santo Hieronimus itu tegak laksana pilar terakhir kejayaan Romawi dan batu karang Gereja Latin karena Vulgata berjuang mempersatukan Eropa yang terpecah-pecah melalui iman Katolik. Karena Versi Alkitab ini dikenal baik dan dibaca oleh umat beriman selama seribu tahun (antara tahun 400–1530 Masehi), Vulgata menjadi sangat berpengaruh, terutama atas seni dan musik, sebab Vulgata menjadi sumber ilham bagi lukisan-lukisan, kidung-kidung dan drama-drama rohani populer yang tak terbilang banyaknya. Bahkan tatkala tradisi Reformasi Jenewa berusaha menggantikan Vulgata Latin dengan versi bahasa setempat yang diterjemahkan dari bahasa aslinya, Vulgata tetap mereka pertahankan dan gunakan dalam debat teologis. Baik dalam kumpulan khotbah-khotbah Yohanes Calvin dalam Bahasa latin, maupun dalam edisi Perjanjian Baru Bahasa Yunani karya Theodorus Beza, teks referensi Latin pendamping yang digunakan adalah Vulgata; dan di tempat-tempat gereja-gereja Protestan meneladani Jenewa melakukan upaya yang sama - seperti di Inggris dan Skotlandia - justru timbul apresiasi yang lebih luas atas terjemahan Hieronimus karena gaya bahasanya yang agung dan prosanya yang luwes. Padanan Vulgata yang paling dekat dalam Bahasa Inggris, yakni Alkitab Raja Yakobus (Alkitab King James Version), atau Authorised Version, memperlihatkan tanda-tanda pengaruh Vulgata, teristimewa jika dibandingkan dengan versi bahasa setempat yang lebih awal karya William Tyndale; dalam hal cara Hieronimus memadukan secara teknis kosa kata religius Latin yang tepat dengan gaya prosa yang agung dan ritme-ritme puitis yang kuat.
[sunting] Terjemahan-terjemahan yang didasarkan pada Vulgata Sebelum Divino Afflante Spiritu, ensiklik Paus Pius XII, dipublikasikan, Vulgata merupakan naskah sumber bagi berbagai terjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa setempat. Dalam Bahasa Inggris, terjemahan kata per kata Injil-Injil Lindisfarne (Lindisfarne Gospels) dan terjemahan-terjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Inggris Kuno lainnya, Alkitab terjemahan John Wycliffe, Alkitab Douay Rheims, Alkitab Confraternity (Confraternity Bible), serta Alkitab terjemahan Ronald Knox semuanya diterjemahkan dari Vulgata.
[sunting] Pengaruh terhadap Bahasa Inggris Vulgata berpengaruh besar terhadap perkembangan Bahasa Inggris, khususnya dalam bidang keagamaan dan Kitab Suci. Banyak kata Latin yang diambil dari Vulgata ke dalam Bahasa Inggris nyaris tanpa perubahan arti atau ejaan: creation dari creatio (Kejadian 1:1, Ibrani 9:11), salvation dari salvatio (Yesaya 37:32, Efesus 2:5), justification dari justificatio (Roma 4:25, Ibrani 9:1), testament dari testamentum (Matius 26:28), sanctify dari sanctificatio (1 Petrus 1:2, 1 Korintus 1:30), regenerate dari regeneratio (Matius 19:28), dan rapture dari raptura (dari bentuk nomina untuk verba rapiemur dalam 1 Tesalonika 4:17). Kata "publican" berasal dari kata Latin publicanus (Matius 10:3), dan frase "far be it" adalah terjemahan dari ungkapan Latin absit (misalnya dalam Matius 16:22 pada Alkitab King James). Contoh-contoh lainnya adalah apostle dari apostolus, church dari ecclesia, gospel dari evangelium, Passover dari Pascha, dan angel dari angelus.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Vulgata
Posted at 10/17/2007 5:48:44 pm by KaLvHiN
Permalink
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|