|
|
 |
 |
Monday, June 02, 2008
Mei 2008 ( Aku dan Kemarahanku )
Aku terpuruk bersimbah penat Berteriak menggelagar Jiwa - jiwa serakah dan egois itu menatapku Mataku nanar penuh darah Telunjukku menghardik tanpa suara Mereka menjadi kosong Menguap entah kemana Bersembunyi dalam kepalsuan .. Makin dalam .. Tak bisakah mereka mendengarku dengan hati ??
Aku jatuh oleh letih.. Jutaan peluh menari di tubuhku Lembabnya merasuki jiwaku Dingin .. Hampa.. Tapi membuat apiku makin berkobar
Siapakah yang mengenal aku ?? Kesunyian makin beku ( lagi - lagi tanpa suara ..) Siapakah yang mengingat kata - kataku ?? Iblis - iblis itu muncul mengancungkan tangan.. "Pergilah ... Sebelum kulumat, hingga engkau tak lagi mengenali wujudmu".
Wahai engkau bangsat - bangsat kegelapan Ketika gelap engkau datang.. Ketika terang engakau menghilang ... Bukan karena engkau takut cahaya .. Tapi engkau malu dikenali
Sudah kunajiskan engkau di antara segala penghuni Agar engkau selalu tak kasat mata Hiduplah dimana engkau suka Tapi jangan di hatiku Bahkan hanya bauk kentutumu Bisa membuat ku meradang lagi
Aku merebah.. Pikiranku terurai Menjuntai jadi cerita .. Kuikat perlahan menjadi satu Agar tidak terlepas menjadi kisah yang liar
"Cobalah sadari dan tenangkan hatimu. Tak perlu kamu harus terlalu peduli pada semua hal, karena setiap orang bermain sesuai dengan perannya. Dunia ini sarat oleh kepentingan dan kebohongan," pikiranku menyeruak. Tapi batinku merintih, "Aku belum bisa memahami".
Alam luruh dalam sunyi Sejumput tetes hujan jatuh digenggaman Mei 2008 berlalu .. Tertatih aku melangkahi jiwaku
"Tuhan, inilah aku. Sudah kubunuh hasrat dan kebencianku agar kita bisa kembali berdiskusi. Tapi tolong, berikan air penyucianMu, agar bisa kubasuh tubuh, jiwa dan rohku, karena sudah kubiarkan dunia memperkosa aku sepanjang musim ini."
PS : Maaf untuk semua yang sudah merasa terpojok karena kemarahanku dan kata - kataku . Sekali lagi, Maafkan saya.
Posted at 6/2/2008 6:16:29 pm by KaLvHiN
Permalink
Wednesday, October 17, 2007
KITAB-KITAB TOBIT, YUDIT DAN ESTER
Dalam terjemahan Latin. Vulgata, tiga kitab, yakni Tobit (Latin: Tobias), Yudit dan Ester ditempatkan sesudah kitab-kitab sejarah. Beberapa naskah penting yang memuat terjemahan Yunani (Septuaginta) mengikuti urutan yang sama. Tetapi naskah-naskah Yunani lain menempatkan kitab-kitab itu sesudah kitab-kitab Kebijaksanaan (Hikmat). Ketiga kitab tersebut merupakan sebuah kelompok kecil yang ada banyak ciri khas padanya.
1. TEKS ketiga kitab itu adalah kurang pasti dan kurang terjamin. Kitab Tobit aslinya ditulis dalam bahasa Semit (Ibrani atau Aram). Tetapi teks asli itu sudah hilang. Hieronimus menterjemahkan sebuah teks yang memakaf bahasa “Khaldea” (Aram) dan terjemahan ini tercantum dalam Vulgata. Tetapi teks yang dipakai Hieronimus untuk menterjemahkannya itu juga tidak kita miliki lagi. Tetapi dalam sebuah gua di dekat Qumran ditemukan kembali beberapa kepingan dari empat naskah kitab Tobit yang memakai hahasa Aram dan dari satu naskah yang memakai bahasa Ibrani. Terjemahan Yunani, Siria dan Latin masing-masing mewakili satu dari empat resensi yang tersedia (resensi = teks kitab yang pada umumnya sama, tetapi dengan perbedaan lebih kurang besar). Dua dari keempat resensi adalah paling penting. Yang satu terdapat dalam naskah (kodeks) Vaticanus (B) serta naskah Alexandrianus (A) dan yang lain tersimpan dalam naskah (kodeks) Sinaiticus (S) serta dalam terjemahan Latin kuno. Resensi yang kedua inilah yang sesuai dengan teks yang terdapat dalam kepingan-kepingan dan naskah-naskah yang diketemukan di Qumran. Maka resensi inilah yang nampaknya paling tua usianya. Terjemahan kami ini (pada umumnya) menuruti resensi yang terdapat dalam naskah S.
Teks Ibrani asli dari kitab Yudit juga hilang. Memang dalam abad-abad pertengahan beredarlah beberapa teks dalam bahasa ibrani. Tetapi boleh disangsikan apakah teks it betul-betul teks Ibrani yang asli. Ada tiga teks Yudit dalam bahasa Yunani yang cukup berbeda satu sama lain. Selebihnya terjemahan Latin (Vulgata) juga menyajikan sebuah teks yang berbeda dengan semua teks Yunani. Rupa-rupanya Hieronimus hanya memperbaiki suatu terjemahan Latin kuno berdasarkan sebuah parafrase Ydt yang memakai bahasa Aram.
Kitab Ester ada dua bentuknya, yaitu bentuk pendek dalam bahasa Ibrani (termasuk Alkitab Ibrani) dan bentuk lebih panjang yang disajikan terjemahan Yunani. Terjemahan Yunani itu sendiri ada dua resensinya. Resensi yang satu umumnya dipakai dan terdapat dalam naskah-naskah Septuaginta. Tetapi beberapa naskah Yunani memuat suatu resensi lain yang agak menyimpang dan dikerjakan oleh Lusianus dari Antiokhia. Terjemahan Yunani menambahkan beberapa bagian pada kitab Ester Ibrani, yakni mimpi Mordekhai yang ditempatkan paling dahulu dan tafsiran mimpi itu yang terdapat sesudah 10:3; dan maklumat raja Ahasyweros yang ditempatkan sesudah 3:13 dan 8:12; doa Mordekhai dan doa Ester yang ditaruh sesudah 4:17; suatu ceritera lebih panjang mengenai Ester yang menghadap raja Ahasyweros ditempatkan sesudah 5:1(2) dan mengganti teks Ibrani; suatu kata penutup mengenai dikerjakannya terjemahan Yunani ditaruh pada akhir seluruh kitab. Hieronimus menterjemahkan tambahan-tambahan itu, tetapi semua ditempatkan pada akhir terjemahannya yang menuruti naskah Ibrani (Vulg 10:4-16:26). Dalam terjemahan ini teladan Hieronimus dituruti, sehingga semua tambahan Yunani itu terdapat pada akhir terjemahan menurut naskah Ibrani.
2. Ketiga kitab itu baru di zaman belakangan masuk ke dalam DAFTAR KITAB SUCI. Kitab Yudit dan kitab Tobit tidak tercantum dalam Alkitab Ibrani dan tidak diterinia sebagai Kitab Suci oleh gereja-gereja Reformasi. Maka kitab-kitab itu di sebut “Deuterokanonik” atau dalam peristilahan gereja-gereja reformasi: Apokrip. Baru di zaman para Bapa Gerejn kitab-kitab itu umum diterima sebagai kitab-kitab suci dan itupun dengan agak banyak keberatan dari pihak beberapa orang. Namun demikian sejak dahulu kala kitab-kitab itu dibaca dan dipakai. Karenanya dicantumkan juga dalam daftar resmi kitab-kitab suci, di sebeIah barat sejak sinode di Roma (th 382 Mas.) dan di sebelah timur sejak konsili Konstantinopolis “in Trullo” (th 692). Bagian-bagian tambahan pada kitab Ester juga disebut: “Deuterokanonik” (Apokrip) dan menempuh sejarah sama dengan sejarah kitab Tob dan Ydt. Dalam abad pertama tarikh Mas. para rabi Yahudi berselisih pendapat apakah kitab Ester (Ibrani) termasuk Kitab Suci atau tidak. Tetapi kemudian dari itu kitab itu sangat dihargai oleh orang orang Yahudi.
3. GAYA SASTERA ketiga kitab itu pada umumnya sama juga. Baik sejarah mau pun ilmu bumi diperlakukan dengan bebas sekali. Menurut kitab Tob, maka Tobit, ayah Tobia, di masa mudanya masih mengalami terpecahnya kerajaan Israel setelah Salomo mangkat (th 931, Tob 1:4); ia diangkut ke pembuangan bersama suku Naftali (th 734, Tab 1:5,10) dan anaknya, Tobia, baru meninggal setelah kota Ninive hancur (th 612, Tob 14:15); seluruhnya 300 tahun lebih. Kitab Tob menyebut Sanherib sebagai pengganti langsung raja Salmaneser, Tob 1:15, dengan tidak berkata apa-apa tentang raja Sargon yang mengganti Salmaneser. Jarak antara kota Ragai yang terletak di pegunungan dan kota Ekbatana yang letaknya di tengah dataran, menurut Tob 5:6 adalah dua hari perjalanan jauhnya, padahal kedua kota itu terpisah dengan jarak 300 km dan kota Ekbatana terletak di ketinggian 2000 m lebih tinggi dari Ragai. Unsur-unsur historis Kitab Ester memang lebih tepat. Keterangan-keterangan mengenai kota Susan cukup kena. Demikianpun halnya dengan apa yang diceriterakan mengenai beberapa adat Persia. Raja Ahasyweros dengan nama Yunaninya Kserkses cukup dikenal.
Wataknya seperti digambarkan kitab Ester cocok dengan apa yang dikatakan Herodotos tentang raja jtu. Akan tetapi penetapan yang bermaksud membinasakan orang-orang Yahudi dan ditandatangani raja Ahasyweros kurang sesuai dengan politik toleran wangsa Akhemedes. Dan apa yang sama sekali tidak masuk akal ialah: Raja mengizinkan bawahan-bawahannya sendiri dimusnahkan; dan 75.000 orang Persia membiarkan dirinya dibunuh tanpa perlawanan. Di waktu peristiwa yang diceriterakan Est terjadi permaisuri raja Persia sesungguhnya bernama Amestris dan ilmu sejarah tidak tahu-menahu tentang seorang permaisuri yang bernama Wasti atau Ester. Seandainya Mordekhai benar-benar diangkut ke pembuangan di zaman raja Nebukadnezar, Est 2:6, maka di masa pemerintahan Ahasyweros ia berumur lebih kurang 150 tahun.
Khususnya kitab Yudit ternyata tidak menghiraukan sejarah atau ilmu bumi. Peristiwa yang diceriterakan terjadi di zaman pemerintahan “Nebukadnezar” yang merajai orang-orang Asyur di Ninive, Ydt 1:1, padahal Nebukadnezar sesungguhnya raja Babel waktu Ninive sudah dimusnahkan oleh ayah Nebukadnezar, yaitu Nabopolasar. Selebihnya kembalinya Israel dari pembuangan di zaman pemerintahan Karesy, raja Persia, dikisahkan sebagai suatu kejadian di masa yang lampau, Ydt 4:3; 5:19. Nama Holofernes dan Bagoas memang nama-nama Persia, tetapi ada juga beberapa ayat dalam kitab Ydt yang dengan jelas menyinggung adat-istiadat Yunani, 3:7-8;1 5:13. Jalan yang ditempuh tentara Holofernes, Ydt 2:21-28, menjadi suatu teka-teki bagi para ahli ilmu bumi. Setelah Holofernes tiba di daerah Samaria, diharapkan ceritera menjadi lebih tepat. Dan memanglah nama-nama tempat menjadi banyak. Akan tetapi kebanyakan nama tidak dikenal dan bunyinya agak aneh sedikit. Bahkan letak kota Betulia yang menjadi pusat ceritera tidak dapat ditentukan tempatnya di peta negeri Palestina, walaupun keterangan-keterangan yang diberi Ydt tentang tempat letaknya kota itu nampaknya sangat terperinci.
Sikap yang tidak ambil pusing mengenai sejarah dan ilmu bumi itu hanya dapat di pahami kalau para pengarang Kitab Tob, Est dan Ydt memang tidak bermaksud menulis buku sejarah, tetapi sesuatu yang lain. Mungkin titik-tolak ceritera-ceritera mereka adalah peristiwa-peristiwa yang sungguh pernah terjadi. Tetapi mustahilah menentukan peristiwa-peristiwa manakah yang menjadi landasan ceritera-ceritera itu. Ceritera-ceritera sendiri memang diciptakan oleh pengarang-pengarang dengan maksud mnenyampaikan suatu pengajaran kepada para pembaca. Maka pentinglah menentukan maksud masing-masing kitab dan menyimpulkan ajarannya.
Adapun KITAB TOBIT adalah sebuah kisah keluarga. Tobit yang bertempat tinggal di kota Niniwe adalah seorang suku Naftali yang masuk pembuangan. Ia seorang saleh yang taat hukum Taurat dan suka beramal, tetapi telah menjadi buta. Di kota Ekbatana ada seseorang sanak-saudara Tobit yang bernama Raguel dan mempunyai seorang anak perempuan, Sara namanya. Sara mengalami bahwa tujuh suaminya benturut-turut mati terbunuh oleh setan Asmodeus pada malam mereka menikah dengan Sara. Baik Tobit maupun Sara memanjatkan doa kepada Allah, supaya ía sudi mencabut nyawa mereka. Tetapi Allah membuat kemalangan mnereka menjadi sukacita besar. Allah mengutus malaikat Rafael yang mengantar Tobia, anak Tobit, kepada Raguel. Tobia diberiNya Sara sebagai isteri dan obat yang dapat menyembuhkan mata Tobit, ayahnya. Kisah yang mengharukan itu mau membina sikap iman dan moral sosial. Perhatian khusus diberikan kepada kewajiban menguburkan mayat dan memberi sedekah; dengan cara menarik peranan keluarga yang baik terungkap dan ditonjolkan keluhuran perkawinan. Perkawinan sebagai yang diidam-idamkan kitab Tob sesungguhnya adalah perkawinan Kristen sebelum agama Kristen tampil di bumi. Malaikat Rafael sebagai alat Allah baik menyingkapkan maupun menyembunyikan karya Allah. Kitab Tob mengajak para pembaca, supaya melihat penyelenggaraan ilahi yang berkarya dalam hidup sehari-hari dan betapa dekatNya Allab yang penuh belas-kasihan. Kitab Tob berlatar-belakang beberapa kisah dan ceritera yang terdapat dalam Kitab Suci. Ceritera-ceritera mengenai para bapa bangsa yang terdapat dalam Kej cukup besar pengaruhnya. Ditinjau dari segi seni sastera Tob menduduki tempat antara kitab Ayb dan Est, antara Za dan Dan. Kecuali itu ada persamaan antara Tob dan suatu karangan yang di zaman dahulu sangat laris, yang berjudul: Hikmat Akhikar, bdk Tob: 1:22; 2:10; 11:18; 14:10. Karangan itu sekurang-kurangnya dalam abad kelima seb. Mas. sudah dikenal. Kitab Tob sendiri agaknya ditulis di sekitar th 200 seb. Mas. dan barangkali di Palestina dengan memakai bahasa Aram.
KITAB YUDIT menceriterakan bagaimana umat terpilih mengalahkan seorang musuh berkat tindakan seorang perempuan. Bangsa Yahudi yang kerdil berhadapan dengan tentara raksasa yang dikepalai Holofernes. Panglima raja Nebukadnezar itu telah diberi tugas menaklukkan seluruh bumi kepada raja Nebukadnezar dan memusnahkan setiap ibadah kecuali ibadah kepada raja. Orang-orang Yahudi terkepung di kota Betulia. Mereka menderita kekurangan air dan hampir mau menyerah saja. Pada saat yang gawat itu muncullah Yudit. Ia seorang janda yang cantik, bijak, saleh dan teguh hati. Berturut-turut Yudit dapat niengalahkan ketawaran hati saudara-saudara sebangsa dan bala tentara Asyur. Para pemimpin kota Betulia ditegurnya karena kurang percaya kepada Allah. Lalu ia berdoa, bersolek, meninggalkan kota Betulia dan membiarkan dirinya dibawa menghadap panglima musuh, Holofernes. Dengan cerdiknya Yudit berhasil membujuk dan menipu panglimna itu. Ketika seorang diri dengan pejuang yang berpengalaman, tetapi kini mabuk itu, Yudit memenggal kepala Holofernes. Tentara Asyur mengetahui kejadian itu, lalu terkejut dan gugup melarikan diri. Orang-orang Yahudi habis-hahisan merampasi perkemahan tentara musuh. Mereka memuji-muji Yudit dan pergi ke Yerusalem untuk mengadakan ibadah syukur atas kemenangan yang gemilang itu.
Agaknya pengarang Ydt dengan sengaja mengacaukan peristiwa-peristiwa sejarah, agar supaya pembaca kisahnya jangan terpikat pada konteks historis, tetapi memusatkan perhatiannya kepada drama keagamaan yang dipentaskan dan kepada akhir drama itu. Susunan kisah sangat halus dan lancar. Contoh-contoh seni sastera yang serupa ditemukan dalam sastera Apokaliptik. Holofernes, hamba Nebukadnezar, melambangkan kejahatan; Yudit, yang namanya berarti “Wanita Yahudi”, mengibaratkan pihak Allah yang disamakan dengan pihak umatNya. Umat Allah mau dimusnahkan, tetapi Allah mengurniakan kemenangan dengan perantaraan seorang perempuan yang lemah. Maka umat kudus kembali ke Yerusalem. Ada kesamaan antara kitab Ydt dan Dan, Yeh dan Yl. Peristiwa terjadi di dataran Yizreel, dekai Megindo atau Harmagedon, tempat menurut kitab Why akan berlangsung pertempuran eskatologis, Why 16:16. Kemenangan yang diperoleh Yudit merupakan balasan atas doanya serta ketelitiannya dalam melakukan hukum-hukum tentang ketahiran seperti yang ditentukan hukum Taurat. Namun demikian kisah Ydt mempunyai ciri universil. Sebab keselamatan Yerusalem terjamin oleh apa yang terjadi di Betulia yang terletak di daerah orang-orang Samaria, yang dimusuhi oleh kalangan para saleh dalam agama Yahudi yang picik. Makna keagamaan bentrokan yang dikisahkan Ydt dengan tepat diungkapkan oleh Ahior, orang Amon, Ydt 5:5-21, yang akhirnya bertobat kepada Allah sejati, Ydt 14:5-10. Kitab Ydt dikarang di Palestina, kira-kira di pertengahan abad ke-2 seb. Mas, waktu semangat kebangsaan dan keagamaan hangat-hangatnya sebagai hasil pemberontakan para Makabe.
Sama seperti kitab Ydt, demikianpun KITAB ESTER menceriterakan bagaimana umat terpilih dibebaskan dari musuhmya dengan perantaraan seorang perempuan. Orang-orang Yahudi yang tinggal di negeri Persia terancam kebinasaan karena dibenci oleh perdana menteri, Haman, yang sangat berkuasa. Mereka diselamatkan oleh tindakan Ester, seorang pemudi sebangsa yang telah menjadi permaisuri di istana raja dan yang dibimbing oleh pamannya, Mordekhai. Tindakan Ester berhasil baik, lalu keadaan terbalik: Haman dipecat dan dihukum, Mordekhai menjadi perdana menteri dan orang-orang Yahudi menumpas musuh-musuh mereka. Sebagai kenangan akan kemenangan itu ditetapkan hari raya Purim yang setiap tahun wajib dirayakan orang-orang Yahudi.
Kisah kitab Est rnenggambarkan kebencian yang dialami orang-orang Yahudi di zaman dahulu oleh karena ciri khas cara hidup mereka yang bertentangan dengan hukum raja (bandingkan penganiayaan yang dialami bangsa Yahudi di zaman Antiokhus IV Epifanes). Rasa kebangsaan yang tebal dibangkitkan pada bangsa Yahudi justru sebagai suatu cara untuk membela diri. Rasa kebangsaan tebal yang tampil dalam kitab Est barangkali mengherankan kita. Tetapi tidak boleh kita lupa bahwa kitab Est belum tahu akan sikap hati yang dibawa oleh wahyu Kristus. Kecuali itu, gaya sastera kitab itu perlu diperhatikan juga. Persekongkolan dan tipu-muslihat dalam mahligai raja serta pembunuhan masal yang diceriterakan Est hanya bermaksud secara dramatis mengungkapkan suatu ajaran yang tidak lain kecuali ajaran keagamaan. Tindakan Mordekhai dan Ester yang membawa keselamatan itu mengingatkan kepada kisah mengenai Daniel dan lebih-lehih lagi kepada kisah tentang Yusuf yang dianiaya lalu dimuliakan demi keselamatan bangsanya. Dalam kisah mengenai Yusuf sebagaimana tercantum dalam Kej itu Allah tidak memperlihatkan kekuasaanNya. Namun Dialah yang memimpin jalannya peristiwa. Dan demikianpun halnya dalam kitab Ester yang berbahasa Ibrani. Kitab itu bahkan tidak sampai menyebut nama Allah. Namun penyelenggaraan ilahi membimbing babak demi babak drama umat Israel. Para pelaku drama itu insaf akan bimbingan itu. Mereka dengan sebulat hati percaya pada Allah yang melaksanakan rencana penyelamatanNya, kalaupun manusia yang menjadi pelaksana rencana itu kerap kali mengecewakan. Sehubungan dengan itu perlu dibaca Est 4:13-17, yang menjadi kunci seluruh kitab. Bagiau-bagian tambahan yang ditulis dalam bahasa Yunani mempunyai ciri keagamaan yang lebih nyata. Tetapi tambahan-tambahan ini hanya dengan jelas mengungkapkan apa yang disarankan oleh pengarang Ibrani. Tenjemahan Yunani kitab Est sudah ada dalam tahun 144 (atau 78) seb. Mas. Terjemahan itu dikirim kepada orang-orang Yahudi di negeri Mesir dengan maksud memperkenalkan hari raya Purim (Est tambahan Yunani pada akhir kitab). Kitab Est Ibrani dikarang lebih dahulu. Menurut 2 Mak 15:36 orang-orang Yahudi di Palestina sudah merayakan “Hari (raya) Mordekhai” dalam tahun 160 seb. Mas. Ini membuktikan bahwa kitab Ester dan barangkali kitabnya sudah dikenal pada waktu itu. Maka kitab Est mungkin dikarang di pertengahan abad ke-2 seb. Mas. Bagaimana hubungan sebenarnya antara kitab Ester dan Hari raya Purim tidak jelas. Sebab Est 9:20-32 barangkali suatu tambahan, oleh karena gaya bahasa bagian ini berbeda dengan gaya bahasa seluruh kitab. Asal-usul hari raya Purim juga tidak jelas. Mungkin kitab Est baru di kemudian hari dihubungkan dengan hari raya itu (2Mak 15:36 tidak menyebut Hari raya Purim, tetapi Hari Mordekhai) dengan maksud memberi dasar historis kepada perayaan itu.
Sumber : http://www.kitabsuci.net/tobit.htm
Vulgata Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Langsung ke: navigasi, cari Alkitab Vulgata adalah sebuah versi awal abad ke-5 dari Alkitab dalam Bahasa Latin yang sebahagiannya adalah hasil revisi dan sebahagiannya lagi adalah hasil terjemahan Hieronimus atas perintah Paus Damasus I pada tahun 382. Alkitab ini disebut vulgata dari frase versio vulgata, yakni "terjemahan untuk umum", dan ditulis dalam gaya sastra Latin yang umum pada abad ke-4 yang berbeda dengan Bahasa Latin Cicero yang lebih elegan. Vulgata merupakan perbaikan dari beberapa terjemahan yang digunakan saat itu, dan menjadi versi Alkitab definitif dan resmi dari Gereja Katolik Roma. Sebagaimana halnya Alkitab Peshitta (Alkitab Syria) yang lebih tua, Perjanjian Lama Vulgata diterjemahkan langsung dari Alkitab Masoretika (Alkitab Ibrani), bukan dari Alkitab Septuaginta (Alkitab Yunani). Pada tahun 405 Masehi, Hieronimus menyelesaikan terjemahan kitab-kitab protokanonika Perjanjian Lama dari Bahasa Ibrani, dan kitab-kitab deuterokanonika Tobit dan Yudit dari Bahasa Aram. Kitab-kitab lain dan kitab Mazmur diterjemahkan dari Bahasa Yunani. Dalam Alkitab Vulgata edisi Clementina terdapat 76 kitab, 46 kitab Perjanjian Lama, 46 kitab Perjanjian Baru, dan 3 kitab Apokripa.
Daftar isi [tampilkan] 1 Hubungan dengan Alkitab Latin kuno 2 Terjemahan Hieronimus 3 Mazmur 3.1 Mazmur baru 4 Manuskrip-manuskrip dan edisi-edisi awal 5 Edisi-edisi di kemudian hari 5.1 Vulgata Clementina 5.1.1 Cetakan-cetakan di kemudian hari 5.2 Edisi-edisi kritis yang lebih baru 5.3 Edisi Stuttgart 5.3.1 Vulgata elektronik 5.4 Nova Vulgata 5.4.1 Novum Testamentum Latine 6 Sumber-sumber terjemahan 7 Prolog-prolog 8 Pengaruh terhadap Budaya Barat 8.1 Terjemahan-terjemahan yang didasarkan pada Vulgata 8.2 Pengaruh terhadap Bahasa Inggris 9 Referensi 10 Pranala luar
[sunting] Hubungan dengan Alkitab Latin kuno Pasa masa Hieronimus, kata Vulgata digunakan untuk menyebut Septuaginta (Alkitab berbahasa Yunani). Alkitab berbahasa Latin yang digunakan sebelum Vulgata biasanya disebut Vetus Latina, atau "Alkitab Latin kuno", atau kadang-kadang "Vulgata Latin kuno".
Naskah tersebut tidak diterjemahkan oleh satu orang atau lembaga saja, bahkan tidak disunting secara seragam. Masing-masing kitab berbeda-beda kualitas terjemahan dan gaya bahasanya. Kitab-kitab Perjanjian Lamanya diterjemahkan dari Septuaginta, bukan dari Bahasa Ibrani.
Versi Latin kuno masih digunakan di lingkungan tertentu bahkan sesudah Vulgata Hieronimus menjadi Alkitab standar yang berterima di seluruh Gereja Barat. Beberapa komunitas Gallia terus mempergunakan versi Latin kuno selama berabad-abad.
[sunting] Terjemahan Hieronimus Santo Hieronimus dalam studinya, fresko karya Domenico Ghirlandaio, 1480 (Ognissanti, Florence)Hieronimus tidak terjun dalam pekerjaan ini dengan maksud untuk menciptakan sebuah versi baru dari keseluruhan Alkitab, tetapi hakikat perubahan dari program kerjanya dapat dilacak dalam korespondensinya yang panjang lebar itu (walaupun Hieronimus sendiri bukanlah seorang saksi mata yang dapat diandalkan). Dia telah ditugaskan oleh Paus Damasus pada tahun 382 untuk merevisi naskah Latin Kuno dari keempat Injil hasil terjemahan dari naskah-naskah Yunani terbaik; dan pada saat mangkatnya Paus Damasus pada tahun 384 dia telah sepenuhnya menunaikan tugas itu, bersama dengan sebuah revisi umum dari Septuaginta Yunani atas naskah Latin kuno untuk kitab Mazmur. Seberapa banyak keseluruhan Perjanjian Baru direvisi Hieronimus sulit untuk diketahui saat ini; dan jika demikian maka hanya sedikit dari karyanya yang masih ada dalam naskah Vulgata. Pada tahun 385 Hieronimus diusir dari Roma, lalu pergi menetap di Betlehem. Di sana dia menghasilkan sebuah versi baru dari kitab Mazmur, yang diterjemahkannya dari naskah Yunani Hexapla. Dia juga tampaknya telah menerjemahkan kitab-kitab Septuaginta lainnya ke dalam Bahasa latin; namun lagi-lagi, semuanya itu tidak ditemukan dalam naskah Vulgata. Tetapi sejak tahun 390 sampai 405 Hieronimus beralih menerjemahkan langsung dari Bahasa Ibrani - dan menerjemahkan ulang seluruh 39 kitab dalam Alkitab Ibrani; termasuk suatu versi lanjut, yakni yang ketiga, dari kitab Mazmur yang masih dapat ditemukan dalam sejumlah kecil manuskrip Vulgata.
Dalam prolognya, Hieronimus menganggap kitab-kitab yang termasuk dalam Septuaginta namun tidak ditemukan dalam Alkitab Ibrani, sebagai non-kanonik; kitab-kitab itu disebutnya apokripa.[1] Meskipun demikian, Septuaginta adalah, dan tetap merupakan, Alkitab Perjanjian Lama standar bagi umat Kristiani berbahasa Yunani; dan serta-merta hal yang sama terjadi dengan padanannya Latinnya yakni Alkitab Perjanjian Lama Vulgata. Dari naskah-naskah Perjanjian Lama di luar kanon Ibrani, Hieronimus membuat terjemahan baru untuk kitab Tobit dan Yudit dari Bahasa Aram; namun dari Bahasa Yunani, hanya tambahan-tambahan pada kitab Ester dari Septuaginta, dan tambahan-tambahan pada kitab Daniel dari Theodotion. Kitab-kitab lainnya; Barukh, Kebijaksanaan, Yesus Bin Sirakh, kitab-kitab Makabe, 3 dan 4 Ezra dan Doa Manasye masih dipertahankan terjemahan Latin Kunonya dalam manuskrip-manuskrip Vulgata. Gaya bahasanya masih dapat dibedakan dari gaya bahasa Hieronimus. Dalam naskah Vulgata, terjemahan Hieronimus dari Bahasa Yunani untuk tambahan-tambahan pada kitab Ester dan Daniel, digabungkan dengan terjemahan-terjemahan kitab Ester dan Daniel dari Bahasa Ibrani.
[sunting] Mazmur Mazmur Roma yang disebut Versio Romana atau Psalterium Romanum dari tahun 384 adalah revisi pertama Hieronimus atas kitab Mazmur. Mazmur Roma berasal dari kitab Mazmur Versio Vetus Latina, dan dikoreksi agar lebih sejalan dengan Septuaginta. Versio Romana ini kemudian tergantikan oleh terjemahan Hieronimus yang berikutnya kecuali di Inggris Anglo-Saxon, di mana versi tadi terus digunakan sampai era penaklukan bangsa Normandia (1066). Mazmur Roma masih digunakan saat ini di Basilika Santo Petrus, Vatikan, dan Katedral Santo Markus di Venesia. Versi ini mirip dengan versi yang digunakan dalam Ritus Ambrosiana.[2]
Meskipun beberapa manuskrip Vulgata awal memuat terjemahan kitab Mazmur oleh Hieronimus dari Bahasa Ibrani, versi Mazmur yang termuat dalam semua manuskrip dan edisi di kemudian hari adalah Versio Gallicana hasil terjemahan dari naskah Yunani Hexapla.
[sunting] Mazmur baru Pada abad ke-20 terbit dua Mazmur baru untuk digunakan bersama Vulgata yakni Versio Piana tahun 1945 dan Versio Nova Vulgata tahun 1969. Versi 1969 digunakan dalam Alkitab edisi Nova Vulgata.
[sunting] Manuskrip-manuskrip dan edisi-edisi awal Sejumlah manuskrip awal yang memuat Vulgata awal masih ada sampai sekarang. Codex Amiatinus, berpenanggalan abad ke-8 adalah manuskrip Alkitab Vulgata lengkap tertua yang masih ada. Codex Fuldensis, berpenanggalan sekitar tahun 545, berisikan sebahagian besar Perjanjian baru dalam versi Vulgata; tetapi ke-4 injil Vulgata dalam manuskrip tersebut diselaraskan menjadi sebuah narasi bersambung yang berasal dari Diatessaron.
Selama Abad Pertengahan, Vulgata tidak luput dari kesalahan penyalinan yang dilakukan para penyalin naskah dalam biara-biara di seluruh Eropa. Sejak permulaannya, bacaan-bacaan dari Vetus Latina diperkenalkan. Catatan-catatan pinggir secara keliru dimasukkan menjadi bagian dari naskah. Tak satu pun salinan yang sama dengan salinan lain karena si penyalin menambah, mengurangi, keliru mengeja, atau keliru memperbaiki ayat-ayat dalam Alkitab Latin.
Sekitar tahun 550, Cassiodorus (Flavius Magnus Aurelius Cassiodorus Senator, negarawan dan penulis Romawi) berupaya memulihkan kemurnian Vulgata menjadi seperti semula. Alcuin (Flaccus Albinus Alcuinus atau Ealhwine, pujangga Inggris) dari York menyelia upaya perbaikan Vulgata, yang dipersembahkannya kepada Charlemagne pada tahun 801. Upaya-upaya serupa dilakukan pula oleh Santo Theodulfus Uskup Orleans (787?- 821), Lanfranc Uskup Agung Canterbury (1070-1089), Stephen Harding Abbas (kepala biara) dari Cîteaux (1109-1134), dan Diakon Nicolaus Maniacoria (sekitar permulaan abad ke-13). Universitas Paris menghimpun daftar "correctoria" - bacaan-bacaan resmi yang perbedaan-perbedaan sudah diketahui. Sayang sekali, banyak dari bacaan-bacaan yang direkomendasikan tersebut kini diketahui merupakan interpolasi.
Meskipun hadirnya percetakan sangat memperkecil potensi kesalahn yang diperbuat manusia dan meningkatkan konsistensi dan keseragaman naskah, edisi-edisi cetak awal dari Vulgata hanya mereproduksi manuskrip-manuskrip yang tersedia bagi penerbit. Dari ratusan edisi awal, yang paling menonjol saat ini adalah edisi Mazarin yang diterbitkan oleh Johann Gutenberg pada tahun 1455, terkenal karena keindahan dan keantikannya. Pada tahun 1504 Vulgata pertama dengan variasi-variasi bacaan diterbitkan di Paris. Salah satu naskah dari naskah-naskah Complutensian Polyglot merupakan suatu edisi Vulgata yang disusun dari manuskrip-manuskrip kuno dan dikoreksi agar sesuai dengan naskah Yunaninya. Erasmus menerbitkan sebuah edisi yang dikoreksi agar lebih sesuai dengan Alkitab Bahasa Yunani dan Bahasa Ibrani pada tahun 1516. Edisi-edisi koreksi lainnya diterbitkan oleh Pagninus pada tahun 1518, kardinal Kayetanus, Steuchius pada tahun 1529, Clarius pda tahun 1542, dan lain-lain. Pada tahun 1528, Robertus Stephanus menerbitkan edisi kritis pertama yang menjadi dasar edisi-edisi Sistina dan Clementina di kemudian hari. Edisi kritis Yohanes Hentenius dari Louvain menyusul pada tahun [3]. Pada tahun 1550, Stephanus lari ke Jenewa tempat dia menerbitkan, pada tahun 1555, edisi kritis Vulgata terakhirnya, yang berupa Alkitab lengkap pertama yang terbagi-bagi dalam bab-bab dan ayat-ayat - dan yang menjadi naskah referensi Alkitab standar dalam Reformasi teologi pada akhir abad ke-16.
[sunting] Edisi-edisi di kemudian hari Judul "Vulgata" kini diberikan kepada tiga naskah yang berbeda, semuanya dipergunakan secara luas di internet. Pembaca dengan cepat dapat mengetahui naskah yang mana yang dibacanya dengan cara mencermati ejaan nama Hawa dalam 'Kejadian 3:20'.
Vulgata Clementina; Alkitab Latin resmi Gereja Katolik Roma sejak tahun 1592 sampai 1979. Meskipun edisi terakhir merupakan reproduksi dari Alkitab Vulgata Clementina terbitan tahun 1592, naskahnya telah mengalami perubahan ejaan dan tanda baca; serta memuat pembagian-pembagian ayat seperti Vulgata Jenewa tahun 1555. Dalam Kitab Kejadian 3:20, nama "Hawa" dieja "Heva". Edisi-edisi kritis moderen dari Vulgata (Stuttgart, Wordsworth, dan White). Edisi-edisi tersebut mencoba sedapat mungkin memperbaiki naskah agar kembali seperti naskah asli dari Heronimus, khususnya dalam hal mengeluarkan bacaan-bacaan yang telah terinterpolasi ke dalam Vulgata Clementina. Dalam Kitab Kejadian 3:20, nama "Hawa" dieja "Hava". Nova Vulgata; Alkitab Latin resmi Gereja Katolik Roma sejak tahun 1979. Merupakan Vulgata Clementina yang telah diperbaiki dan dimodifikasi. Dalam Kitab Kejadian 3:20, nama "Hawa" dieja "Eva".
[sunting] Vulgata Clementina Prolog Injil Yohanes, Alkitab Vulgata Clementina, edisi 1922Vulgata Clementina (Biblia Sacra Vulgatae Editionis Sixti Quinti Pontificis Maximi iussu recognita atque edita) merupakan edisi yang paling dikenal umat Katolik yang hidup pada masa sebelum adanya reformasi liturgis sesudah Konsili Vatikan II (salah satu konsekuensi dari reformasi tersebut adalah makin jarangnya Bahasa Latin dipergunakan dalam liturgi).
Sesudah Reformasi Protestan, tatkala Gereja Katolik berjuang menghadapi doktrin-doktrin Protestantisme, Vulgata diteguhkan kembali dalam Konsili Trente sebagai satu-satunya Alkitab berbahasa Latin yang diizinkan untuk digunakan.[4] Untuk memperkuat deklarasi itu, dewan Konsili menugaskan Sri Paus untuk membuat sebuah naskah standar dari Vulgata di luar dari edisi-edisi produksi masa renaissance dan manuskrip-manuskrip produksi Abad Pertengahan yang begitu banyak jumlahnya. Wujud nyata pertama dari naskah resmi ini baru muncul pada tahun 1590. Naskah ini disponsori oleh Paus Sixtus V (1585-1590) dan dikenal sebagai Vulgata Sistina. Naskah ini didasarkan atas edisi Robertus Stephanus yang dikoreksi agar sesuai dengan naskah Yunani, akan tetapi karena buru-buru dicetak maka nahkah ini mengalami banyak kesalahan cetak. Vulgata Sistina dengan segera digantikan oleh sebuah edisi baru setelah terpilihnya paus yang baru, Klemens VIII (1592-1605) yang segera memerintahkan agar dilakukan koreksi dan revisi. Versi baru itu lebih banyak didasarkan atas edisi Hentenius, dan dikenal sebagai Vulgata Sixto-Clementina, atau singkatnya Vulgata Clementina, meskipun nama 'Sixtus' yang tampak pada halaman judul. Klemens menerbitkan 3 cetakan edisi ini pada tahun 1592, 1593, dan 1598.
Vulgata Clementina berbeda dari manuskrip-manuskrip yang menjadi dasarnya karena di dalamnya berbagai kata pengantar dari St. Heronimus dikelompokkan menjadi satu di bagian permulaan, dan menempatkan Kitab 3 dan 4 Ezra serta Doa Manasye ke dalam sebuah lampiran.
Kitab Mazmur Vulgata Clementina, seperti halnya dalam hampir semua edisi di kemudian hari, adalah Gallicanum.
Vulgata Clementina 1592 menjadi Alkitab standar Gereja Katolik Ritus Roma sampai tahun 1979, tahun diperkenalkannya Nova Vulgata.
[sunting] Cetakan-cetakan di kemudian hari Setelah cetakan Vulgata 1598 dari Paus Klemens, Tahta Suci tidak lagi mengeluarkan cetakan resmi lain, tugas tersebut ditinggalkan bagi pencetak-pencetak lain. Meskipun percetakan-percetakan Vulgata Clementina lainnya dengan setia mereproduksi kata-kata dari edisi resmi, mereka sering bebas dalam hal ejaan, tanda baca, penggunaan huruf Kapital, dan batas paragraf. Pada tahun 1906, P. Michael Hetzenauer memproduksi suatu edisi yang kembali ke versi asli Vulgata Clementina dengan memperhatikan variasi-variasi tiga edisi yang diterbitkan Paus Klemens serta correctoria resmi yang dikeluarkan Vatikan.
Pada tahun 1986, Biblioteca de Autores Cristianos menerbitkan cetak ulang Vulgata Clementina (ISBN 8-479-14021-6), mengeluarkan Kitab-Kitab Apokripa, tetapi memuat berbagai dokumen magisterium dan Mazmur Latin Versio Piana selain Mazmur Latin Versio Gallicana.
[sunting] Edisi-edisi kritis yang lebih baru Sesudah penerbitan Vulgata Clementina, diterbitkan beberapa edisi kritis. Pada tahun 1734, Vallarsi menerbitkan sebuah edisi Vulgata yang sudah dikoreksi. Sebahagian besar dari edisi-edisi di kemudian hari terbatas pada Perjanjian Baru saja, teristimewa edisi Fleck[5] tahun 1840, Edisi Tischendorf tahun 1864, dan Edisi Oxford oleh Uskup J. Wordsworth dan H.J. White pada tahun 1889.
Pada tahun 1907, Paus Pius X menugaskan para rahib Biara Benediktin St. Hieronimus di Roma untuk menyusun sebuah edisi kritis dari Vulgata Hieronimus sebagai dasar bagi revisi atas edisi Clementina.[6][7] Hanya Perjanjian Lama yang dapat diselesaikan, namun edisi kritis tersebut menjadi pelengkap bagi edisi Wordsworth dan White. Edisi buah karya para rahib benediktin ini mendorong terciptanya Nova Vulgata. Edisi tersebut digunakan sebagai dasar bagi banyak bagian Perjanjian Lama Vulgata Stuttgart.[8]
[sunting] Edisi Stuttgart Vulgata edisi Stuttgart pertama kali diterbitkan pada tahun 1969 (edisi ke-4, tahun 1994) oleh Lembaga Alkitab Jerman (Deutsche Bibelgesellschaft), yang bertempat di Stuttgart. Edisi ini, yang secara alternatif dijuduli Biblia Sacra Vulgata atau Biblia Sacra iuxta vulgatam versionem (ISBN 3-438-05303-9), merupakan suatu "edisi manual" karena edisi ini meringkas banyak informasi dalam edisi-edisi kritis yang berbab-bab tebalnya menjadi satu bab yang padat. Edisi ini merusaha merekonstruksi naskah Vulgata awal yang lebih dekat dengan naskah yang dihasilkan Hieronimus 1.600 tahun yang lalu. Edisi ini didasarkan atas edisi-edisi kritis Vulgata yang telah terbit sebelumnya, edisi Benediktin dan Perjanjian Baru Latin karya Wordsworth dan White, yang menyediakan beragam bacaan dari berbagai manuskrip dan edisi-edisi cetak Vulgata serta perbandingan penggunaan kata yang berbeda dalam catatan-catatan kakinya. Vulgata Stuttgart mencoba, melalui perbandingan kritis manuskrip-manuskrip Vulgata historis yang penting, untuk menciptakan kembali sebuah naskah awal yang bersih dari kesalahan-kesalahan penyalinan naskah selama satu milenium. Salah satu sumber kritis penting bagi Vulgata Stuttgart adalah Codex Amiatinus, satu-gulungan utuh manuskrip abad ke-8 yang sangat dihargai, berisi keseluruhan Alkitab Latin yang dibuat di Inggris, dan dianggap sebagai bukti terbaik Abad Pertengahan dari naskah asli karya Hieronimus.
Bagi mereka yang mempelajari Vulgata, edisi Stuttgart cukup penting karena memuat semua prolog Hieronimus untuk Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kitab-kitab utama dan bagian-bagian Alkitab (Pentateukh, Injil-Injil, Nabi-Nabi Minor, dst.). Dalam hal ini Vulgata Stuttgart meneladani gaya edisi-edisi Vulgata Abad Pertengahan yang tidak pernah terbit tanpa prolog-prolog Hieronimus. Dalam ejaannya, Edisi Stuttgart juga mempertahankan ortografi Latin abad pertengahan melebihi Edisi Clementina, kadang-kadang menggunakan oe bukannya ae, dan berisi lebih banyak nomina berawalan huruf H yang tepat (misalnya, Helimelech bukannya Elimelech), akan tetapi ejaan tersebut tidak konsisten digunakan secara menyeluruh, seperti dalam manuskrip-manuskrip tersebut. Vulgata Stuttgart juga mengikuti manuskrip-manuskrip abad pertengahan dalam hal menggunakan cara penggal kalimat, bukannya sistem tanda baca moderen, untuk menunjukkan struktur tiap ayat. Karena hal-hal inilah maka mula-mula Vulgata Stuttgart terasa asing bagi para pembaca yang sudah terbiasa dengan Vulgata Clementina.
Edisi ini memuat dua versi Mazmur, yakni Versio Gallicana dan Versio juxta Hebraicum, yang dicetak bersebelahan halamannya agar mudah membandingkannya satu sama lain. Edisi ini juga memuat beberapa kitab Apokripa, selain bab 3 dan 4 dari kitab Ezra, dan kitab Doa Manasye, ada pula Mazmur 151, dan Surat kepada Jemaat di Laodikia.
Selain itu, kata-kata pengantarnya yang moderen merupakan sumber informasi yang berharga mengenai sejarah Vulgata.
[sunting] Vulgata elektronik Salah satu alasan mengapa edisi Stuttgart memiliki arti penting adalah kenyataan bahwa edisi tersebut merupakan edisi yang paling banyak dipergunakan di Internet. Versi Elektronik tersebut biasanya terpenggal-penggal, tidak terformat secara keseluruhan, tanpa catatan-catatan, kata pengantar dan alat-bantu (apparatus), tanpa Kitab Mazmur Gallia, Apokripa, dan Deuterokanonika, dan bahkan kerap hanya memuat tiga bab pertama Kitab Daniel (berakhir pada bagian di mana naskah deuterokanika Nyanyian Tiga Anak Suci berawal)
[sunting] Nova Vulgata Nova Vulgata (Bibliorum Sacrorum nova vulgata editio, ISBN 88-209-2163-4) adalah edisi Latin yang diterbitkan oleh Gereja Katolik Roma dan disetujui untuk dipergunakan dalam liturgi. Pada tahun 1965, menjelang penutupan Konsili Vatikan II, Paus Paulus VI membentuk sebuah komisi untuk merevisi Vulgata yang ada saat itu agar sesuai dengan studi linguistik dan tekstual moderen dengan tetap melestarikan atau memulihkan kembali kemurnian gaya Latin Kristianinya. Komisi tersebut menerbitkan karyanya dalam delapan bagian bersama catatan-catatan penjelasan masing-masing, yang mengundang kritikan dari para sarjana Katolik tiap kali masing-masing bagian diterbitkan. Mazmur Latin diterbitkan pada tahun 1969 dan keseluruhan Nova Vulgata pada tahun 1979.[9]
Naskah dasar dari kebanyakan bagian Nova Vulgata adalah edisi kritis karya para rahib Benediktin dari biara St. Hieronimus atas perintah Paus Pius X. Naskah dasar kitab Tobit dan kitab Yudit adalah manuskrip-manuskrip Vetus Latina, bukannya Vulgata. Semua naskah dasar tersebut direvisi agar sesuai dengan edisi-edisi kristis moderen dalam bahasa Yunani, Ibrani, dan Aram. Terdapat pula sejumlah perubahan pada bagian-bagian di mana para sarjana moderen merasa bahwa Hieronimus telah gagal dalam menyerap makna dari bahasa-bahasa aslinya.
Nova Vulgata tidak memuat kitab-kitab apokripa yang termuat dalam Edisi Clementina serta edisi-edisi lain, misalnya Kitab Doa Manasye serta bab 3 dan 4 dari Kitab Ezra.
Pada tahun 1979, setelah melalui persiapan beberapa dasawarsa lamanya, Nova Vulgata diterbitkan dan dinyatakan sebagai Alkitab versi Latin resmi dari Gereja Katolik dalam Konstitusi Apostolik Scripturarum Thesaurus[10] dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II.
Nova Vulgata tidaklah disambut hangat oleh umat Katolik konservatif, yang umumnya memandangnya sebagai salah satu dari beberapa versi terjemahan baru dari Kitab Perjanjian Lama, ketimbang sebagai suatu revisi atas karya Hieronimus. Lagi pula, beberapa bacaan di dalamnya kurang akrab di telinga mereka yang sudah terbiasa dengan Vulgata Clementina.
Pada tahun 2001, Vatikan mengeluarkan instruksi Liturgiam Authenticam,[11] yang menetapkan Nova Vulgata sumber utama bagi semua terjemahan liturgi dari bahasa aslinya ke dalam bahasa setempat, "dengan maksud mempertahankan tradisi penafsiran yang sesuai dengan Liturgi Latin".
[sunting] Novum Testamentum Latine Pada tahun 1984 dan 1992, Kurt dan Barbara Aland menerbitkan Novum Testamentum Latine (ISBN 1-598-56175-8). Naskahnya merupakan cetak ulang dari Perjanjian Baru Nova Vulgata yang diberi apparatus kritis yang menyajikan variasi-variasi bacaan dari edisi-edisi sebelumnya. Edisi-edisi yang tersaji dalam apparatus adalah Alkitab Gutenberg, naskah Latin dari Complutensian Polyglot, edisi Wittenberg yang disukai Luther, edisi Robertus Stephanus, edisi Christophorus Plantinus, edisi Paus Sixtus V, edisi Paus Clemens VIII, edisi Wordsworth dan White, serta edisi Stuttgart.
[sunting] Sumber-sumber terjemahan Kitab-kitab Perjanjian Baru, Mazmur, sebagian besar kitab deuterokanonika, dan apokripa dalam Perjanjian Lama dari Vulgata merupakan hasil terjemahan dari naskah Yunani[8].
Untuk menerjemahkan ke-36 kitab dalam Alkitab Ibrani, Hieronimus relatif bebas dalam mengalihbahasakan naskahnya ke Bahasa Latin; namun dapat dipastikan bahwa manuskrip-manuskrip tertua yang masih ada sampai sekarang dari Naskah Masoretik - dihasilkan hampir 600 tahun sesudah Hieronimus - bagaimanapun juga mewarisi naskah Ibrani konsonantal (hanya berupa huruf-huruf konsonan) yang sangat dekat dengan naskah yang digunakan oleh Hieronimus. Konsekuensinya, ke-36 kitab Vulgata tersebut - meskipun tinggi kualitas sastranya - hanya sedikit yang dapat dibahas mengenai independensi naskahnya. Hieronimus menerjemahkan kitab Tobit dan kitab Yudit dengan susah payah, ia menggunakan jasa seorang penerjemah Yahudi untuk mengalihbahasakan naskah Bahasa Aram ke dalam Bahasa Ibrani secara lisan, barulah kemudian diterjemahkannya ke dalam bahasa Latin. Naskah-naskah tersebut kecil nilai tekstualnya. Akan tetapi naskah-naskah Perjanjian Lama Vulgata yang diterjemahkan dari bahasa Yunani - baik oleh Hieronimus sendiri maupun versi-versi Latin-Kuno yang tetap dipertahankan - merupakan saksi-saksi awal dan penting sekunder bagi Septuaginta.
Paus Damasus menginstruksikan Hieronimus agar bersikap konservatif dalam merevisi Injil-Injil naskah Latin-Kuno, dan ketaatan Hieronimus dapat dilihat dari dipertahankannya beragam kosa kata Latin dalam Vulgata untuk istilah-istilah Yunani yang sama. Hasilnya, kata "imam besar" diterjemahkannya sebagai "princeps sacerdotum" dalam Injil Matius; sebagai "summus sacerdos" dalam Injil Markus; dan sebagai "pontifex" dalam Injil Yohanes Vulgata. Perbandingan naskah-naskah Injil terjemahan Hieronimus dengan naskah-naskah Injil Latin Kuno membuktikan bahwa revisi yang dilakukannya secara substansial berkaitan dengan penyuntingan karakteristik fraseologi yang meluas dalam tipe-naskah Barat, sejalan dengan naskah-naskah Aleksandria, atau mungkin naskah-naskah Byzantium awal. Karena metode-metode Hieronimus yang konservatif, dan karena jarangnya bukti-bukti manuskrip dari luar Mesir pada masa itu; maka bacaan-bacaan Vulgata tersebut lumayan memiliki daya tarik kritis. Yang masih tetap paling menarik - karena secara efektif tidak tersentuh oleh Hieronimus - adalah kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya dalam Vulgata; yang justru lebih memperlihatkan ekspansi-ekspansi "Barat" yang dimaksud, dan yang justru merupakan warisan dari naskah Latin Kuno yang paling awal. Yang paling berharga di atas semuanya, dari sudut pandang kritis sebuah naskah, adalah naskah kitab Wahyu dalam Vulgata, karena naskah-naskah kitab tersebut dalam Bahasa Yunani sangatlah sedikit dan sangat bervariasi.
Bagaimanapun juga, seluruh evaluasi di atas mengacu pada naskah Vulgata kritis yang direka-ulang sejak akhir abad ke-19 dan selanjutnya - menyusun kembali susunan naskah yang beredar di Italia pada pertengahan abad ke-6 Masehi. Naskah Clementina yang standar memiliki perbedaan dalam banyak bacaan-bacaan penting - misalnya Comma Johanneum (1 Yohanes 5: 7-8), kata-kata dari Mazmur 22 (Matius 27:35), serta Malaikat di Bethesda (Yohanes 5: 4) - dan kurang bernilai bagi studi tekstual.
[sunting] Prolog-prolog Selain ayat-ayat Alkitab, Vulgata juga memuat tujuh belas prolog, enam belas di antaranya ditulis oleh Hieronimus. Prolog-prolog Hieronimus dari segi tertentu tidaklah tepat disebut sebagai prolog karena ditulis tidak seperti lazimnya prolog melainkan sebagai surat pengantar kepada individu-individu tertentu yang menyertai salinan terjemahan-terjemahannya. Karena prolog-prolog itu tidak dimaksudkan untuk dibaca oleh umum, maka beberapa komentar Hieronimus di dalamnya tidak dapat difahami dengan jelas. Prolog-prolog yang dimaksud adalah prolog untuk Pentateukh (5 Kitab Musa)[12], Yosua,[13] Raja-Raja, yang juga disebut Prologus Galeatus.[14] Selanjutnya adalah prolog-prolog untuk Tawarikh,[15] Ezra,[16] Tobit,[17] Yudit,[18] Ester,[19] Ayub,[20] Mazmur,[21] Kebijaksanaan Salomo,[22] Yesaya,[23] Yeremia,[24] Yehezkiel,[25] Daniel,[26] Nabi-Nabi Minor,[27] Injil-Injil,[28], serta prolog terakhirnya yakni prolog untuk Surat-Surat Paulus dan yang lebih dikenal sebagai Primum quaeritur.[29] Masih terkait dengan itu adalah tulisan Hieronimus berupa Catatan-catatan mengenai Tambahan pada Kitab Ester[30] serta Prolog untuk Mazmur Ibrani.[31]
Sebuah tema dari Perjanjian Lama yang berulang-ulang muncul dalam prolog-prolog tersebut adalah kecenderungan Hieronimus untuk lebih menyukai Hebraica veritas (Kebenaran Ibrani) dari pada Septuaginta, kecenderungan lebih-suka yang dipertahankannya dengan gigih dari para penentangnya. Dia menyatakan bahwa naskah Ibrani lebih jelas dari pada naskah Yunani dalam hal meramalkan figur Kristus. Salah satu dari prolog-prolog yang paling istimewa adalah Prologus Galeatus, yang di dalamnya Hieronimus memaparkan kanon 22 kitab Perjanjian Lama, yang menurutnya terwakilkan dalam 22-huruf dari abjad Ibrani. Sebagai alternatif, dia memberi jumlah 24 kitab, yang menurutnya menggambarkan 24 tua-tua dalam Kitab Wahyu yang melemparkan mahkota mereka ke hadapan Anak Domba.
Yang juga patut dicermati adalah Primum quaeritur, yang membela pendapat bahwa Paulus adalah penulis dari Surat Ibrani, dan membandingkan sepuluh surat Paulus kepada Gereja-Gereja dengan 10 Perintah Allah. Tidak diketahui siapa penulis Primum quaeritur. Para editor Vulgata Stuttgart memberi keterangan bahwa versi dari surat-surat tersebut mula-mula populer di kalangan kaum Pelagian.
Selain Primum quaeritur, banyak manuskrip memuat catatan-catatan singkat untuk tiap surat yang berisi keterangan mengenai dimana surat itu ditulis, serta di mana penerima surat tersebut tinggal. Adolf von Harnack,[32] berpendapat bahwa catatan-catatan tersebut ditulis oleh Marcion dari Sinope atau salah seorang pengikutnya. Harnack menulis: "Kita sesungguhnya sudah lama mengetahui bahwa bacaan-bacaan Marcionit berhasil menyusup ke dalam naskah gerejawi dari surat-surat Paulus, namun kini selama tujuh tahun telah kita ketahui bahwa Gereja-Gereja sebenarnya menerima prefasi-prefasi Marcionit atas surat-surat Paulus! De Bruyne telah menghasilkan salah satu penemuan terbaik di kemudian hari yang membuktikan bahwa prefasi-prefasi tersebut, yang mula-mula kita baca dalam Codex Fuldensis dan kemudian dalam sejumlah manuskrip-manuskrip yang dibuat sesudahnya, bersifat Marcionit, dan bahwa Gereja-Gereja tidak sadar akan kehadiran si iblis."
[sunting] Pengaruh terhadap Budaya Barat Dalam hal memiliki arti penting bagi budaya, seni, dan kehidupan Abad Pertengahan, Vulgatalah yang paling unggul. Selama abad-abad kegelapan dan berlanjut pada masa Renaissance dan Reformasi, karya agung Santo Hieronimus itu tegak laksana pilar terakhir kejayaan Romawi dan batu karang Gereja Latin karena Vulgata berjuang mempersatukan Eropa yang terpecah-pecah melalui iman Katolik. Karena Versi Alkitab ini dikenal baik dan dibaca oleh umat beriman selama seribu tahun (antara tahun 400–1530 Masehi), Vulgata menjadi sangat berpengaruh, terutama atas seni dan musik, sebab Vulgata menjadi sumber ilham bagi lukisan-lukisan, kidung-kidung dan drama-drama rohani populer yang tak terbilang banyaknya. Bahkan tatkala tradisi Reformasi Jenewa berusaha menggantikan Vulgata Latin dengan versi bahasa setempat yang diterjemahkan dari bahasa aslinya, Vulgata tetap mereka pertahankan dan gunakan dalam debat teologis. Baik dalam kumpulan khotbah-khotbah Yohanes Calvin dalam Bahasa latin, maupun dalam edisi Perjanjian Baru Bahasa Yunani karya Theodorus Beza, teks referensi Latin pendamping yang digunakan adalah Vulgata; dan di tempat-tempat gereja-gereja Protestan meneladani Jenewa melakukan upaya yang sama - seperti di Inggris dan Skotlandia - justru timbul apresiasi yang lebih luas atas terjemahan Hieronimus karena gaya bahasanya yang agung dan prosanya yang luwes. Padanan Vulgata yang paling dekat dalam Bahasa Inggris, yakni Alkitab Raja Yakobus (Alkitab King James Version), atau Authorised Version, memperlihatkan tanda-tanda pengaruh Vulgata, teristimewa jika dibandingkan dengan versi bahasa setempat yang lebih awal karya William Tyndale; dalam hal cara Hieronimus memadukan secara teknis kosa kata religius Latin yang tepat dengan gaya prosa yang agung dan ritme-ritme puitis yang kuat.
[sunting] Terjemahan-terjemahan yang didasarkan pada Vulgata Sebelum Divino Afflante Spiritu, ensiklik Paus Pius XII, dipublikasikan, Vulgata merupakan naskah sumber bagi berbagai terjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa setempat. Dalam Bahasa Inggris, terjemahan kata per kata Injil-Injil Lindisfarne (Lindisfarne Gospels) dan terjemahan-terjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Inggris Kuno lainnya, Alkitab terjemahan John Wycliffe, Alkitab Douay Rheims, Alkitab Confraternity (Confraternity Bible), serta Alkitab terjemahan Ronald Knox semuanya diterjemahkan dari Vulgata.
[sunting] Pengaruh terhadap Bahasa Inggris Vulgata berpengaruh besar terhadap perkembangan Bahasa Inggris, khususnya dalam bidang keagamaan dan Kitab Suci. Banyak kata Latin yang diambil dari Vulgata ke dalam Bahasa Inggris nyaris tanpa perubahan arti atau ejaan: creation dari creatio (Kejadian 1:1, Ibrani 9:11), salvation dari salvatio (Yesaya 37:32, Efesus 2:5), justification dari justificatio (Roma 4:25, Ibrani 9:1), testament dari testamentum (Matius 26:28), sanctify dari sanctificatio (1 Petrus 1:2, 1 Korintus 1:30), regenerate dari regeneratio (Matius 19:28), dan rapture dari raptura (dari bentuk nomina untuk verba rapiemur dalam 1 Tesalonika 4:17). Kata "publican" berasal dari kata Latin publicanus (Matius 10:3), dan frase "far be it" adalah terjemahan dari ungkapan Latin absit (misalnya dalam Matius 16:22 pada Alkitab King James). Contoh-contoh lainnya adalah apostle dari apostolus, church dari ecclesia, gospel dari evangelium, Passover dari Pascha, dan angel dari angelus.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Vulgata
Posted at 10/17/2007 5:48:44 pm by KaLvHiN
Permalink
KITAB-KITAB APOKRIFA DAN PSEUDEPIGRAFA
KITAB-KITAB APOKRIFA
Kata 'apocrypha' berarti "tersembunyi". Ketika digunakan untuk kumpulan tulisan-tulisan Yahudi dari masa intertestamental kata tersebut mempunyai dua konotasi:
1. Kitab-kitab yang "disembunyikan" karena sifatnya yang esoteric (hanya dipahami dan diketahui oleh beberapa orang tertentu saja), atau
2. Kitab-kitab yang "disembunyikan" karena memang harus demikian - karena kitab-kitab tersebut tidak pernah diakui sebagai kanon oleh orang-orang Ibrani.
Apokrifa adalah kumpulan empat belas (atau lima belas, bergantung pada penghitungannya) kitab yang ditulis oleh penulis-penulis saleh Ibrani antara tahun 200 sebelum Masehi dan tahun 100 Masehi. Kitab-kitab ini semula ditulis dalam bahasa Yunani dan Aram dan telah dipelihara dalam bahasa Yunani, Latin, Etiopia, Kupti, Arab, Siria, dan Armenia. Apokrifa berisi enam gaya atau jenis sastra yang berbeda-beda, termasuk sastra yang bersifat mendidik (didaktik) agama, romantis, sejarah, nubuat(menyangkut surat dan wahyu), dan legenda.
Berikut adalah nama-nama kitab Apokrifa:
1. Kebijaksanaan Salomo (kira-kira tahun 30 sM) 2. Eklesiastikus (Sirakh) (132 sM) 3. Tobit (kira-kira tahun 200 sM) 4. Yudit (kira-kira tahun 150 sM) 5. 1 Esdras (kira-kira 150-100 sM) 6. 1 Makabe (kira-kira tahun 110 sM) 7. 2 Makabe (kira-kira 110-70 sM) 8. Barukh (kira-kira 150-50 sM) 9. Surat Nabi Yeremia (300-100 sM) 10. 2 Esdras (kira-kira tahun 100) 11. Tambahan pada Ester (140-130 sM) 12. Doa Azaria (abad kedua atau pertama sM) (Kidung Tiga Pemuda) 13. Susana (abad kedua atau pertama sM) 14. Dewa Bel dan Naga (kira-kira 100 sM) 15. Doa Manasye (abad kedua atau pertama sM)
Pada mulanya kitab-kitab Apokrifa itu ditambahkan satu demi satu pada edisi Septuaginta yang belakangan, terjemahan dalam bahasa Yunani dari Perjanjian Lama Ibrani yang diselesaikan sekitar tahun 250 sM karena dianggap perlu sebab dampak Helenisme terhadap Yudaisme. Kitab-kitab ini jelas terpisah dari Alkitab Ibrani dan tidak dianggap oleh orang Ibrani sebagai bagian dari kanon Perjanjian Lama. Namun, para ahli kitab Ibrani tidak membuat catatan apa pun mengenai hal ini, sehingga menimbulkan sedikit kebingungan di antara orang-orang Kristen yang berbahasa Yunani yang menerima Septuaginta sebagai Alkitab mereka. Hal ini terutama terjadi sesudah tahun 100, semenjak beberapa salinan Septuaginta diterjemahkan oleh para juru tulis Kristen.
Selama abad-abad awal dari kekristenan terjadi silang pendapat sehubungan dengan kanonitas kitab-kitab Apokrifa. Misalnya, bapa-bapa gereja Yunani dan Latin seperti Ireneus, Tertulianus, dan Klemes dari
Aleksandria mengutip Apokrifa dalam tulisan mereka sebagai "Kitab Suci", dan Sinode di Hippo (tahun 393) mengesahkan penggunakan Apokrifa sebagai kanon. Akan tetapi, orang lain seperti Eusebius dan Athanasius membedakan Apokrifa dari Perjanjian Lama.
Pertentangan mengenai Apokrifa sebagai kanon Perjanjian Lama memuncak dengan penerbitan Vulgata, Perjanjian Lama dalam bahasa Latin oleh Hieronimus (tahun 405). Ditugaskan oleh Paus Damasus, terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Latin ini dimaksudkan sebagai edisi "populer" Alkitab untuk Gereja Roma yang kudus. Hieronimus menentang pengakuan Apokrifa sebagai kanon Perjanjian Lama dan membuat catatan-catatan yang cermat dalam edisi Vulgatanya dengan tujuan itu.
Akan tetapi, beberapa revisi yang belakangan dari Vulgata Hieronimus ini lalai untuk mencantumkan perbedaan-perbedaan yang jelas ini, dan segera saja kebanyakan pembaca Latin tidak mengetahui adanya perbedaan antara Perjanjian Lama dan Apokrifa.
Reformasi sekali lagi memunculkan masalah Apokrifa sebagai kanon dalam diskusi-diskusi utama gereja. Sementara para tokoh reformasi menerjemahkan Perjanjian Lama ke dalam bahasa umat mereka, mereka mendapatkan bahwa Alkitab Ibrani tidak memuat kitab-kitab Apokrifa.
Jadi, penilaian mereka "kitab-kitab yang kurang penting" ini tidak dicantumkan dalam kanon Perjanjian Lama atau dilampirkan sebagai kumpulan kitab yang terpisah dan lebih rendah mutunya. Hal membedakan antara kanon dan Apokrifa ini diantisipasi oleh Wycliffe dalam terjemahan bahasa Inggris yang dilakukannya pada tahun 1382. Kaum puritan diakui sebagai kelompok yang telah mengeluarkan seluruh Apokrifa dari Alkitab bahasa Inggris. Tradisi tidak mencantumkan Apokrifa ini masih tetap merupakan ciri khas dari mayoritas versi bahasa Inggris yang diterbitkan oleh golongan protestan.
Gereja Roma Kudus menanggapi para tokoh reformasi pada konsili di Trente (1545-1564). Di konsili tersebut pada pemimpin menegaskan kembali Vulgata sebagai Alkitab gereja yang benar dan mengumumkan bahwa Apokrifa adalah sama dengan materi kanonik (teristimewa kitab Tobit, Sirakh, Kebijaksanaan, Yudit, 1-2 Makabe, Barukh, dan Tambahan-tambahan pada kitab Ester dan kitab Daniel). Sekarang kumpulan tersebut biasanya disebut Deuterokanonika, dan hal ini dibenarkan oleh konsili Vatikan pada tahun 1870. Gereja Katolik Roma mengutip Deuterokanonika untuk menguatkan doktrin, termasuk konsep Api Penyucian, manfaat melakukan perbuatan-perbuatan baik, dan praktek mendoakan orang mati.
* Tobit 12:9, "The same night also I returned from the burial, and slept by the wall of my courtyard, being polluted and my face was uncovered."
* 2 Makabe 12:43-45, "43 And when he had made a gathering throughout the company to the sum of two thousand drachms of silver, he sent it to Jerusalem to offer a sin offering, doing therein very well and honestly, in that he was mindful of the resurrection: For if he had not hoped that they that were slain should have risen again, it had been superfluous and vain to pray for the dead. And also in that he perceived that there was great favour laid up for those that died godly, it was an holy and good thought. Whereupon he made a reconciliation for the dead, that they might be delivered from sin."
* 2 Esdras 8:33, "For the just, which have many good works laid up with thee, shall out of their own deeds receive reward."
* 2 Esdras 13:46, "Then dwelt they there until the latter time; and now when they shall begin to come,"
* Sirakh 3:30, "Water will quench a flaming fire; and alms maketh an atonement for sins."
Pengakuan Westminster pada tahun 1647 menolak pengilhaman dan otoritas Apokrifa dan tidak bersedia menerima kumpulan kitab tersebut sebagai bagian dari kanon Alkitab. Gereja-gereja Protestan pada umumnya menganut pendapat ini sehubungan dengan Apokrifa. Kendatipun tidak diakui ataupun dipraktekkan secara luas dewasa ini, penilaian Martin Luther terhadap Apokrifa masih tetap bermanfaat. Ia berpendapat bahwa kitab-kitab Apokrifa tidak sepadan dengan Alkitab, tetapi berguna untuk dibaca dan bernilai untuk membangun diri sendiri.
Salah satu alasan tidak diterimanya kitab-kitab Apokrifa adalah karena kitab-kitab itu mengandung kesalahan dan bertentangan dengan kitab-kitab yang resmi dalam Alkitab sebagai contoh:
* 2 Makabe 2:23, "All these things, I say, being declared by Jason of Cyrene in five books, we will assay to abridge in one volume." - "Semuanya itu telah diuraikan oleh Yason dari Kirene dalam lima buku lima buah. Kami ini hendak berusaha mengikhtisarkan semuanya dalam satu jilid saja."
* 2 Makabe 15:37b-38, "And here will I make an end. And if I have done well, and as is fitting the story, it is that which I desired: but if slenderly and meanly, it is that which I could attain unto." - "Maka aku sendiripun mau mengakhiri kisah ini. Jika susunannya baik lagi tepat, maka itulah yang kukehendaki. Tetapi jika susunannya hanya sedang-sedang dan setengah-setengah saja, maka hanya itulah yang mungkin bagiku."
Kutipan di atas menentang kebenaran bahwa Alkitab diilhamkan oleh Allah, bukan oleh manusia serta tidak ada nubuat atau kitab yang dihasilkan oleh pikiran manusia, dalam ayat-ayat berikut:
* 2 Timotius 3:16, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."
* 2 Petrus 1:20-21, "Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah."
Kesalahan-kesalahan lain dalam kitab Apokrifa adalah kesalahan sejarah, kesalahan doktrin, misalnya membenarkan bunuh diri, menyetujui doa untuk orang mati, membenarkan kekejaman terhadap budak-budak, mengajarkan praeksistensi jiwa, membenarkan penipuan dan pengutukan.
KITAB-KITAB PSEUDEPIGRAFA
Yudaisme intertestamental menghasilkan kumpulan kedua dari karya-karya sastra yang tidak diterima dalam kanon Alkitab dan berbeda dari Apokrifa. Kumpulan kitab ini dikenal sebagai Psedepigrafa Perjanjian Lama (atau "kitab-kitab yang ditulis dengan nama samaran"). Delapan belas kitab ini ditulis oleh para penulis Yahudi yang saleh antara tahun 200 sebelum Masehi dan tahun 200 Masehi. Kitab-kitab tersebut mula-mula ditulis dalam bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani, dan sudah dipelihara dalam bahasa Yunani, Siria, Etiophia, Kupti, dan Armenia.
Berikut daftar kumpulan standar dari Pseudepigrafa
1. Kitab Yobel 2. Surat Aristeas 3. Kitab Adam dan Hawa 4. Yesaya Mati Syahid 5. 1 Henokh 6. Wasiat Dua Belas Patriarkh 7. Orakel dari Sibyl 8. Pengangkatan Musa ke Surga 9. 2 Henokh, atau Kitab Rahasia Henokh 10. 2 Barukh, atau Apokalips Siria dari Barukh 11. 3 Barukh, atau Apokalips Yunani dari Barukh 12. 3 Makabe 13. 4 Makabe 14. Aboth Pirke 15. Kisah Ahikar 16. Mazmur-mazmur Salomo 17. Mazmur 131 18. Fragmen Sebuah Karya Tulisan Orang Zadok
Kendatipun kumpulan kitab tersebut tetap berada di luar kanon yang diakui baik dalam Yudaisme maupun dalam kekristenan, kitab-kitab itu tetap diedarkan dan dibaca di mana-mana dalam gereja Kristen. Bahkan, surat Yudas dalam Perjanjian Baru diduga mengutip 1 Henokh dan menyinggung hal Musa diangkat ke surga, namun kebenarannya masih menjadi perdebatan, karena ada kemungkinan Kitab Henokh justru ditulis setelah Kitab Yudas Perjanjian Baru ditulis.
Sumber:
- "A Survey of the Old Testament", Andrew E. Hill, Michigan, USA: 1991 - "Oxford Apocrypha 1769," October 1995 - "Anda Bertanya? Alkitab Menjawab", Dr. Caprili Guanga, Departemen Literatur Saat, Malang: 1998.
Pseudepigrafa atau tulisan samar-samar. Istilah ini dipakai bagi karya tulis Yahudi yang tidak termasuk Kanon PL dan tidak mendapat tempat dalam Apokrifa. Karya-karya tulis ini juga tidak meliputi Gulungan Laut Mati.
Kitab-kitab Apokrifa dimasukkan ke dalam Alkitab Yunani, tapi Pseudepigrafa tidak pernah dianggap kanonik. Kendati demikian Pseudepigrafa penting selama kurun waktu antar perjanjian, dan berharga demi kejelasan latar belakang Yahudi dalam PB. Sebagian besar, walaupun tidak semua tulisan yang termasuk kelompok ini diterbitkan dibawah nama alias, dan oleh karena itu nama samaran pada umumnya cocok.
Tulisan itu dapat dibagi menjadi kelompok Palestina dan kelompok Yahudi-Helenistis, sebab tempat asalnya sangat mempengaruhi bentuk dan tujuannya. Karena ada suatu tema yang begitu berperan pada jumlah terbesar tulisan itu, maka tepat bila digambarkan sebagai kepustakaan gerakan apokaliptik.
1.Kelompok Palestina
Kelompok Palestina memuat tiga jenis pustaka yang berbeda yaitu puisi, legenda dan apokaliptik. Psalms of Salomons hampir pasti termasuk kepada paroan kedua abad 1 SM dan menjadi contoh polemik anti-Saduki dari Farisi pada kurun waktu itu. Dalam sebagian besar dari 18 mazmur ini, yang meniru Mazmur Daud, tiada hunjukan (pernyataan yang merujuk-red) pada Mesias (kecuali Psalms of Solomons 17) tapi bicara banyak tentang kerajaan mesianis.
Penggulingan wangsa (keturunan raja-red) Hasmon oleh Pompius dari Roma dipandang sebagai tindakan ilahi, sekalipun Pompius sendiri dikutuk karena mencemarkan Bait Suci. Ada upaya pengumpulan mazmur lainnya selama kurun waktu antar perjanjian, misalnya Psalms of Joshua, dapat ditemukan di perpustakan Qumran.
Ada banyak kitab berwujud perluasan legendaris dari sejarah alkitabiah yang didasarkan terutama pada hukum Taurat, sekalipun memasukkan beberapa legenda tentang nabi-nabi. Yang tertua diantaranya adalah Testaments of the Twelve Patriachs, didasarkan pada Kejadian 49. Masing-masing putra Yakub memberikan petuah kepada keturunannya, dan banyak dari ajaran ini yang bermoral tinggi. Mereka ditampilkan sebagai tinjauan kegagalan mereka sendiri dalam berperan sebagai beringatan bagi orang lain.
Buku lain didasarkan atas Kitab Kejadian adalah Book of Jubilees disebut demikian karena sistem penanggalannya. Penulisnya menyokong tahun yang terdiri 364 hari, guna membantu orang Yahudi dapat melaksanakan perayaan pada hari yang tepat. Seluruh isi kitab itu cenderung sebagai pernyataan Musa di gunung Sinai dan jelas bermaksud untuk menegakkan nilai kekal hukum Taurat.
Penulisnya seorang farisi, bermaksud memberantas pengaruh Helenisme yang merajalela selama bagian terakhir dari abad kedua SM. Di sepanjang ‘pernyataan’ itu ada banyak tambahan kepada sejarah alkitabiah, seperti pendapat yang mengatakan bahwa yang mendorong Abraham mengurbankan Ishak (17:16; 18:9; 12) bukanlah Allah melainkan iblis. Penulis menuntut dengan keras supaya orang-orang melaksanakan upacara-upacara Yahudi khususnya sunat dan pensucian sabat (15:33; 2:23-31; 50:6-13). Kitab ini dikenal di Qumran dan ada kemiripannya dengan naskah Damsyik.
Dalam nada yang sama dengan kitab Testaments of the Twelve Patriarchs ialah Testaments of Job, dimana Ayub memberikan kata-kata perpisahan kepada anak-anak dari sitri keduanya. Ayub digambarkan menilik kembali hidupnya yang lampau.
Kitab itu diakhiri dengan uraian tentang percakapan khusus yang diberikan kepada tiga putrinya untuk menyanyikan nyanyian sorgawi, dan sementara itu jiwanya diangkat dengan kereta ke surga. nampaknya penulis kitab itu adalah salah satu anggota dari salah satu bidat Yahudi yang paling keras(mungkin aliran Khasidim) dan dapat diberi penanggalan kurang dari 100 SM.
Tulisan Pseudepigrafa lainnya yaitu Life of Adam and Eve yang beberapa bagiannya sejajar dengan Apocalypse of Moses (bahasa Yunani),berisi sebuah rekonstruksi khayali tentang sejarah setelah kejatuhan ke dalam dosa. Dan sepanjang sejarah itu Adam mendapat penglihatan tentang perkembangan sejarah Yahudi hingga zaman setelah pembuangan. Pada umumnya diberi penanggalan antara tahun 20 dan 70 M, karena tulisan itu mengandaikan Bait Suci bangunan Herodes masih ada (29:6).
Martyrdom of Isaiah adalah sebuah buku sebagian Yahudi dan sebagian Kristen dalam bahasa Etiopia. Buku ini menceritakan bagaimana yesaya dibunuh dengan digergaji kayu (bab1-5;bnd Ibr 11:37). Vision of Isaiah yang telah disisipkan ke dalam tulisan asli, jelas mencirikan tambahan Kristen, karena menceritakan tentang kemarahan iblis tentang nubuat Yesaya mengenai penyelamatan melalui Kristus, dan menyebutkan sejarah kristiani sampai zaman penghambatan Nero (3:13 ; 4:18).
Bagian buku yang dikenal sebagai Ascension of Isaiah juga bersifat Yahudi-Kristen, sebab Yesaya tidak hanya diberitahu oleh Allah tentang kedatangan Yesus, tapi juga bersaksi akan kelahiran, kematian dan kebangkitan Yesus, tapi juga bersaksi akan kelahiran, kematian dan kebangkitan Mesias yang akan datang. Penanggalannya mungkin abad 2 SM.
Tambahan lagi ada beberapa buku Yeremia palsu dan Daniel palsu dari zaman pra Kristen, yang baru saja muncul dari perpustakaan Qumran dan belum diteliti secara cermat. Tapi karya yang telah dikenal sebagai Paralipomena of Jeremiah The Prophet, jelas pengaruh Kristen. Dalam buku ini menyajikan catatan mengenai lingkungan Yeremia yang agak lebih dini. Tujuannya khusus menentang perkawinan campuran.
Kelompok Pseudepigrafa Yahudi yang jauh lebih penting ialah apokaliptik-apokaliptik, diantaranya Book of Enoch. Kitab ini adalah karya tulis gabungan, beberapa bagiannya ditulis pada kurun waktu yang berbeda-beda selama dua abad terakhir SM. bagian-bagiannya yang tertua ditulis pada zaman Makabe. Ada 5 bagian pokok dalam kitab.
Yang pertama mengenai penglihatan Henokh tentang penghakiman di masa depan, khususnya penghakiman kepada malaikat yang telah jatuh ke dalam dosa. Kedua, dikenal sebagai The Similitudes of Enoch, terdiri dari 3 perumpamaan yang pokoknya membicarakan tema tentang penghakiman atas dunia, tapi orang benar melalui harapan mesianis mempunyai jaminan keselamatan.
Ketiga, sebuah buku astronomi. Keempat, terdiri dari dua penglihatan ; satu tentang air bah dan yang satu lagi menceritakan sejarah dunia hingga zaman mesianis. Yang terakhir adalah bunga rampai dari peringatan-peringatan dan bahan-bahan lain, diantaranya yang paling penting ialah Apocalypse of Weeks, yang membagi sejarah dunia dalam 10 minggu, dimana 3 minggu terakhir bersifat apokaliptik.
Karya tulis lainnya termasuk pada kurun waktu Kristen ialah Apocalypse of Ezra (2 atau 4 Esdras). Dalam buku ini ada beberapa penglihatan yang ditunjukkan kepada Ezra di Babel, yang berkaitan dengan soal penderitaan Israel, dan ihwal itu diteruskan hingga zaman penulis sendiri (hingga kurun waktu setelah tahun 70 M, ketika persoalan itu menjadi hangat).
Rasa tidak berpengharapan yang meliputi buku ini akhirnya diringankan hanya oleh kepercayaan yang samar-samar kepada suatu zaman emas yang akan datang. Buku ini adalah hasil jerih payah yang sungguh-sungguh, tapi tak berhasil memecahkan persoalan yang mendesak. Penanggalannya kira-kira pada akhir abad pertama SM.
Pada waktu yang kira-kira sama, muncullah Apocalypse of Baruch (atau Barukh Siria), yang memiliki banyak pemikiran yang sama dengan buku yang diatas. Buku ini oleh beberapa ahli dipandang sebagai tiruan dari buku yang lebih hebat yaitu 2 Esdras. Di tengah pesimisme yang diakibatkan keruntuhan Yerusalem, bersemi harapan tipis hingga mulainya pemerintahan damai Mesianis. Zaman sekarang adalah zaman keputusasaan tanpa keringanan, ditandai oleh air laut yang amat jorok, tapi kedatangan Mesias, yang ditandai oleh petir, membawa penghiburan.
2.Kelompok Yahudi-Helenisme
Pseudepigrafa Yahudi-Helenisme yang lebih menonjol adalah tulisan-tulisan propaganda (Letter of Aristeas dan bagian-bagian dari Sibyline Oracles), sejarah legendaris (3 Makabe), filsafat (4 Makabe) dan apokaliptik (sebagian dari Slavonic Enoch, dan sebagian Greek Baruch).
Letter of Aristeas, gayanya berasal dari zaman penulisan LXX seperti diusulkan Ptolemeus II, Filadelfos, dari Mesir (285-245 SM). Ceritanya sendiri bersifat legendaris dan dalam kenyataannya ditulis oleh seorang Yahudi (kira-kira 100 SM), yang ingin memuji dan mempropagandakan hukum Taurat dan agama Yahudi kepada kaum Helenisme yang sezaman dengan dia. Buku ini adalah sebuah pembelaan agama Yahudi terhadap pencela-pencelanya dari golongan non-Yahudi.
Sekitar tahun 140 Sm seorang yahudi dari Aleksandria menghasilkan beberapa Sybiline Oracles, meniru firman-firman dewi Yunani kuno yang dianggap berasal dari Sibil, seorang nabiah kafir yang sangat dihormati oleh orang Yunani yang sezaman, juga oleh banyak orang Yahudi bahkan orang Kristen dari kurun waktu yang lebih kemudian. Tak terbilang banyaknya tambahan yang dimasukkan kepada firman dewi ini.
Dari 12 buku yang ada sebagian besar nampaknya berasal dari orang Kristen, tapi buku 3-5 pada umumnya dipandang bersifat Yahudi. Buku-buku ini khususnya adalah propaganda, memuat terutama ihwal penghakiman-penghakiman atas bangsa-bangsa non Yahudi. Dalam buku 3 muncul tinjauan ulang atas sejarah Israel zaman Salomo hingga Antiokhus Epifanes dan pengganti-penggantinya, tapi masyarakat yahudi diuntungkan oleh kedatangan mesias.
Ada himbauan khusus kepada Yunani supaya menghentikan kebaktian kafirnya, dan tujuan apologetik yang kuat ini selanjutnya nampak dalam anggapan bahwa Sibil sebenarnya adalah keturunan Nuh.
3 Makabe adalah hiasan legendaris, dirancang bagi pemuliaan orang Yahudi di Mesir pada masa pemerintahan Ptomeleus Fiskon. 4 Makabe adalah khotbah filsafati, penulisnya seorang Yahudi Helenistis yang jelas bersifat legalistis, membicarakan pengawasan nafsu-nafsu oleh akal, dan dengan ini ia memperlihatkan kecenderungannya kepada Stoa. Namun yang benar-benar dikaguminya ialah hukum Taurat Musa. Kendati tak berhasil ia telah berusaha mencari suatu sintese antara keduanya.
Secara keseluruhan, pustaka Pseudepigrafa menyinarkan terang yang menarik pada kurun waktu persiapan Injil. Kepustakaan ini ditunjuk pada zaman nabi tidak lagi berperan menyampaikan pengumuman, dan ketika penghormatan kepada hukum Taurat makin bertambah-tambah.
Zaman itu adalah zaman kebingungan dan sastra apokaliptik muncul guna mendamaikan janjinubuat dengan perjanjian sejarah mutakhir yang membawa malapetaka, dan untuk memproyeksikan pemenuhan janji-janji ini ke dalam suatu zaman yang masih harus datang. Buku-buku itu beredar luas diantara bangsa Yahudi. Beberapa penulis PB mungkin mengenal tulisan ini.
Mengenai pemakaian nama orang dari zaman-zaman lampau memang asing bagi gagasan-gagasan modern. Tapi karya tulis yang jumlahnya amat besar memakai nama orang lain membuktikan kemanfaatannya bagi zamannya, mungkin hal itu demikian demi keamanan dan guna menjamin otoritas tulisan itu semaksimal mungkin.
Banyak perbedaan dan perkembangan teologis dalam kepustakaan ini dibandingkan kurun waktu nubuat yang mendahuluinya. Secara hakiki zaman yang akan datang berbeda dari zaman sekarang. Zaman yang akan datang mempunyai asalnya sendiri yang adikodrati yang akan mengganti zaman ini, yang dipandang berada di bawah kekuasaan pengaruh-pengaruh jahat.
Ajaran tentang dua zaman ini menjadi ciri khas dari kurun waktu antar perjanjian dan mengema disana-sini di dalam PB. Perlu diperhatikan bahwa kendati ini adalah pendekatan apokaliptik kepada sejarah masa akan datang, harapan Mesianis selama kurun waktu itu tidak begitu ditonjolkan seperti sebelumnya.
Gambaran yang paling jelas terdapat dalam Book of Enoch. Disitu gagasan Mesianis lebih transedental, sejajar dengan transendentalisme yang makin bertambah-tambah dalam gagasan tentang Allah. Anan Manusia sebagai tokoh surgawi yang telah ada sebelum dilahirkan, digambarkan menghakimi bersama Allah.
Ciri lain yang mencolok dari kepustakaan ini adalah perhatian yang surut dalam hal kebangsaan yang murni dan dalam perkembangan perseorangan, disatu pihak, dan universalisme di lain pihak. Tapi barangkali sumbangan kepustakaan ini yang paling besar, ialah menentang upaya legalisme agama Yahudi yang makin bertambah-tambah, khususnya antara Farisi, sekalipun legalisme ini tidak tuntas terhapus dari banyak buku itu.
Sumber : Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid 2, p 275-277
Posted at 10/17/2007 5:40:41 pm by KaLvHiN
Permalink
Friday, March 23, 2007
Kau menyebutku bangsat. Harus bagaimana aku menyebutmu ??
Ah, sudahlah, terlalu banyak kata - kata makian di kepalaku, tapi tak ada yang benar - benar pantas untukmu ...
Tapi beri aku waktu mencari Sebutan yang cocok untukmu ... Menunggu redanya amarah kita
Sementara aku mencari .. Hingga kita bertemu lagi.. Aku ingin bilang, "Semoga Tuhan memberkatimu,memaafkanku dan mengampuniku dengan menjadikanku sahabatmu lagi, karena aku sudah membuatmu marah dan terpaksa memaki aku karena kemarahan itu".
Posted at 3/23/2007 1:55:47 am by KaLvHiN
Permalink
Friday, March 16, 2007
Oleh : Andrie Wongso
Pada suatu pagi buta, seorang pemuda mendatangi rumah gurunya yang dikenal bijak di desa itu. Dia mengetuk pintu rumah dengan keras, sambil suaranya terdengar memanggil-manggil gurunya.
Si guru sambil mengusap matanya dan menahan kuap membuka pintu sambil berkata, "Ada apa anakku pagi-pagi begini mengganggu nyenyak tidurku? Ada sesuatu yang penting?" "ampun guru, maafkan saya terpaksa mengganggu tidur guru. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan" Si guru kemudian mempersilahkannya masuk kedalam rumah dan pemuda itupun segera menceritakan kegundahannya yakni semalam dia bermimpi di jemput malaekat dan diajak pergi meninggalkan dunia ini. Dia ingin menolak tetapi sesuatu seperti memaksanya harus pergi. Saat tarik menarik itulah dia terbangun sambil berkeringat dan tidak dapat tidur lagi. Timbul perasaan takut dan tidak berdaya membayangkan bila malaekat benar-benar datang kepadanya.
Si pemuda kemudian bertanya kepada gurunya, "Guru, kapan kematian akan datang kepada manusia?" Gurunya menjawab, "Saya tidak tahu anakku. Kematian adalah rahasia Tuhan". "Aaaakh, guru pasti tahu. Guru kan selalu menjadi tempat bertanya bagi semua orang di daerah sini desak si murid. "Baiklah. Sebenarnya, rata-rata manusia meninggal berusia 70 sampai 75 tahun. Tetapi sebagian ada yang tidak mencapai atau lebih dari perkiraan tersebut". Merasa tidak puas dia kembali bertanya "jadi, umur berapakah manusia pantas untuk mati?" sambil pandangannya menerawang keluar jendela, sang guru menjawab, "Sesungguhnya, begitu manusia dilahirkan, proses penuaan langsung terjadi. Sejak saat itu, manusia semakin tua dan kapanpun bisa mengalami kematian". "lalu, bagaimana sebaiknya saya menjalani hidup ini?"tanyanya lagi. "
Hidup sesungguhnya adalah saat ini, bukan besok atau kemarin. Hargai hidup yang singkat ini, jangan sia siakan waktu. bekerjalah secara jujur dan bertanggung jawab, usahakan berbuat baik pada setiap kesempatan. Jangan takut mati, nikmati kehidupanmu! Mengerti? Dengan wajah gembira si murid berkata, "Terima kasih guru, saya mengerti. saya akan belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh, berani menghadapi hidup ini sekaligus menikmatinya. Saya pamit guru".
Hiduplah saat ini, tidak usah menyesali hari kemarin, karena hari kemarin sudah berlalu, tidak usah cemas akan hari esok, karena hari esok belum datang,
Hanya hari ini yang menjanjikan kesuksesan , kebahagian bagi setiap orang yang mau dan mampu mengaktualisasikan dirinya dengan penuh totalitas! Sekali lagi,
Hiduplah saat ini!!
Merdeka dan Tetap Semangat !!
Posted at 3/16/2007 6:11:37 pm by KaLvHiN
Permalink
Wednesday, March 07, 2007
TUHAN : Kamu memanggilKu ?
AKU : Memanggilmu? Tidak.. Ini siapa ya?
TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
AKU : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.
AKU : Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun. Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.
TUHAN : Benar sekali. Aktivitas memberimu kesibukan. Tapi produktivitas memberimu hasil. Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu.
AKU : Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.
TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.
AKU : OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?
TUHAN : Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisalah yang membuatnya jadi rumit.
AKU : Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?
TUHAN : Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
AKU : Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.
TUHAN : Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
AKU : Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.
TUHAN : Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.
AKU : Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita ?
TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.
AKU : Maksudnya pengalaman pahit itu berguna ?
TUHAN : Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.
AKU : Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu ? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah ?
TUHAN : Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental. Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.
AKU : Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah...
TUHAN : Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah. Lihatlah ke dalam. Melihat ke luar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.
AKU : Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan?
TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.
AKU : Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?
TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
AKU : Apa yang menarik dari manusia ?
TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?". Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?"
AKU : Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?
TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.
AKU : Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?
TUHAN : Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
AKU : Pertanyaan terakhir, Tuhan. Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.
TUHAN : Tidak ada doa yang tidak dijawab. Seringkali jawabannya adalah TIDAK.
AKU : Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.
TUHAN : Oke. Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut. Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan. Percayalah padaKu. Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.
Writer : NN
Posted at 3/7/2007 5:09:14 pm by KaLvHiN
Permalink
Wednesday, February 28, 2007
Langit murka ! <"Tak biasa hatiku begini gelisah", bisikku sendiri.>
Hujan Lebat seolah mengurung .. Dalam ketakutan .. Kami merasa terkurung
Ku dengar di sisi sana Badai mulai datang Menguji kepasrahan Memasung harapan di belung hati terdalam
Lalu hujan tiba - tiba diam Ku arahkan mataku tinggi Memaksa resahku ikut selidik ... <"Sunyi yang asing ", hatiku meragu.> Disela isak tangis yang tertahan <"Sudah saatnyakah meratap ?", lirihku berdoa.>
<"Sebentar ... ", ucap otakku kepada hati.> Lamat terdengar suara burung bernyanyi riang - seolah bersyukur atas berkah hujan hari ini Menjadi sebuah keindahan yang janggal .. < - Jeda - >
Dan hujan datang kembali Kali ini, menemani kami menangis Meratapi hidup yang berserakkan Di antara puing - puing damai Yang pagi tadi masih indah ..
<"Ah, Thanx Dear Lord, kami masih boleh hidup meski harus kehilangan lagi", ucapku lirih sebagai sekelumit doa yang terucap dari hati ketika kembali menatap langit di antara hujan rintik rintik malam itu.>
- Dipersembahkan kepada Para Korban Puting beliung Yogyakarta -
- Satu Jogja - - Satu Wajah - - Satu Duka - - Satu Tangis -
Posted at 2/28/2007 4:03:37 am by KaLvHiN
Permalink
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|