Nyanyian Jiwa





   

<< January 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31



-- Link - Link --

  • Lirik Barat
  • Dian Sastrowardoyo

  • Wikipedia Indonesia

  • Lirik Lagu Nasional

  • Sekilas Tentang 100 Tokoh Dunia


  • --Cuaca--
    Click for Jogyakarta, Indonesia Forecast Click for Jakarta Observatory, Indonesia Forecast Click for Sorong, Indonesia Forecast Click for Kota Jayapura, Indonesia Forecast -- Statistik-- Statistik User Online
    1
    Page Views
    1991107
    From
    1.1 tazza:3128 (squid/2.6.STABLE5) 61.8.74.186
    Indonesia
    Browser
    Mozilla/4.0 (compatible; MSIE 6.0; Windows NT 5.1)
    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    rss feed

    Tuesday, September 26, 2006
    Injil Yudas [Again]

    Berikut adalah terjemahan bebas dari artikel tentang Injil Yudas yang ditulis oleh Patrick Zukeran, seorang Research Associate dari Probe Ministries (1990-present), author, teacher, national and international speaker on apologetics, cults, world religions, Bible, theology, and current issues.


    --------------------------------------------------------------------------------


    Headline surat kabar di seluruh dunia melaporkan Injil Yudas yang hilang telah ditemukan dan diterjemahkan. Injil ini melahirkan pandangan baru tentang kehidupan Kristus dan hubungan-Nya dengan Yudas yang berbeda dengan apa yang digambarkan dalam Perjanjian Baru. Dia adalah seorang pahlawan! Dan sebagai murid Yesus yang paling dipercaya, Yesus memerintahkan Yudas untuk menyerahkan-Nya kepada prajurit Romawi, dan bukan pengaruh setan!. Akankah Injil Yudas melahirkan kisah baru? Akankah umat Kristiani menjadi bimbang tentang sejarah baru ini?

    Injil Yudas ditemukan pada tahun 1978 oleh seorang petani di sebuah gua dekat El Minya Mesir Tengah. Peneliti memperkirakan penulis-an teks Coptic ini antara 300 M dan 400 M. Mereka percaya teks ini ditulis dalam bahasa Yunani dan manuskrip aslinya ditulis di perteng-ahan abad kedua.

    Walaupun penulisnya tidak diketahui, namun sepertinya bukan Yudas atau pengikut Yesus yang menulisnya. Ini mencerminkan ajaran Gnostik yang mulai berkembang pada zaman tersebut. Irenaeus (Uskup Lyon)yang pertama kali pada tahun 180 M menulis dan menganggap ajaran ini adalah sesat (bidah).

    Injil Yudas sama dengan literatur Gnostik yang ditemukan di sepanjang Nil termasuk Nag Hammadi yang mengandung 45 teks Gnostik yaitu Injil Maria, Injil Petrus dan teks lain.

    Apakah ajaran Gnostik ini?

    Gnostik berkembang dari abad kedua hingga abad keempat. Gnostik berasal dari bahasa Yunani yaitu gnosis yang berarti pengetahuan dan merujuk kepada pengetahuan mistis atau rahasia dari Allah dan penyatuan diri dengan Allah. Berikut ringkasan filosofi Gnostik.

    Pertama, Gnostik mengajar pengetahuan rahasia tentang dualisme yaitu dunia (baca:daging)adalah jahat dan alam roh adalah baik. Kedua, Allah tidak berbeda dari manusia namun manusia memiliki sifat ke-allah-an. Allah adalah semangat dan cahaya dalam setiap individu. Bila seseorang mengerti dirinya, dia akan mengerti semuanya. Ketiga, masalah fundamental dalam Gnostik bukanlah dosa tetapi ketidakmengertian. Cara untuk menyatukan diri dengan ke-allah-an ialah mencapai pengetahuan mistis. Keempat, keselamatan dicapai dengan memperoleh pengetahuan atau gnosis dari alam semesta dan dari diri sendiri. Kelima, tujuan Gnostik ialah unity dengan Allah. Ini dicapai dengan membebaskan diri dari tubuh yang tidak suci ini supaya jiwa dapat pergi melewati udara dan menghindar dari yang jahat dan menyatukan diri dengan Allah.

    Gnostik mengajar Yesus tidak berbeda dari para pengikut-Nya. Mereka yang telah mencapai Gnostik akan menjadi seorang Kristus seperti Yesus. Profesor agama dari Universitas Princeton, Dr. Elaine Pagels menulis, ‘Siapa yang mencapai gnosis bukan lagi seorang Kristen tetapi Kristus”. Jadi Yesus bukanlah Anak Allah dan penyelamat yang mati untuk menebus dosa dunia tetapi hanyalah seorang guru yang memberikan pengetahuan rahasia kepada para pengikutnya.

    Filosofi Gnostik bertentangan dengan pengajaran Perjanjian Lama dan Baru. Alkitab menentang ajaran Gnostik tentang sifat Allah, Kristus, materi dunia (kedagingan), dosa, keselamatan dan kehidupan akhir. Agama Yahudi dan Kristen menentang ajaran Gnostik dan menganggapnya ajaran sesat begitu juga sebaliknya Gnostik yang menentang ajaran Kristen. Filosofi Gnostik yang dikisahkan pada keseluruhan Injil Yudas, seperti literatur Gnostik yang lain, hanya terdapat sedikit sekali persamaan dengan Perjanjian Baru. Injil Yudas ini bahkan bertentangan sama sekali dengan Perjanjian Baru.

    Isi Injil Yudas

    Filosofi Gnostik bertentangan dengan Kristen yang alkitabiah dan Injil Yudas menggambarkan Gnostik dan bukan teologi alkitabiah. Contohnya, filosofi Gnostik yang menggambarkan misi Yesus sebagaimana digambarkan dalam Injil ini.

    Dr. Marvin Meyer, seorang professor Alkitab dari Chapman College, merumuskan misi utama Yesus berdasarkan injil ini. “Kematian Yesus dalam Injil Yudas bukanlah suatu tragedi atau pun penebusan. Kematian adalah jalan keluar dari wujud fisik yang absurd dan tidak menakutkan. Jauh dari kesedihan dan kematian Yesus membebaskannya dari tubuh dan kembali ke rumahnya di surga. Dan deng-an mengkhianati Yesus, Yudas membantu kawannya tersebut (Yesus) untuk melepaskan diri dari tubuhnya.”

    Misi Yesus dalam Perjanjian Baru adalah sangat jelas. Dia datang untuk mati bagi penebusan dosa dunia dan mengalahkan kubur dengan kebangkitan tubuh-Nya. Sangat kontradiksi dengan Injil Yudas yang mengajarkan Yesus yang ingin mati untuk membebaskan diri-Nya dari penjara tubuh-Nya.

    Selain itu, Gnostik mengajarkan bahwa masalah manusia bukanlah dosa tetapi ketidakmengertian. Yesus bukanlah penyelamat tetapi hanyalah seorang guru yang memberikan pengetahuan rahasia kepada orang yang layak menerimanya. Yudaslah yang dianggap layak menerima pengetahuan tersebut. Dr Meyer menulis, “Bagi Gnostik, masalah fundamental bagi hidup manusia bukanlah dosa tetapi ketidakmengertian dan jalan yang terbaik untuk mengatasi masalah ini bukanlah melalui iman tetapi melalui pengetahuan. Dalam Injil Yudas, Yesus menyampaikan kepada Yudas - dan kepada pembaca injil ini – pengetahuan yang dapat menghapuskan ketidaktahuan dan membawa kesadaran pada diri sendiri dan Allah”

    Gnostik juga mengajarkan bahwa dunia nyata ini adalah jahat. Allah tidak menciptakan dunia nyata ini, tetapi Dia menciptakan ion-ion dan malaikat yang kemudian akan menciptakan, mengatur dan menguasai dunia ini. Karena hal tersebut tidak suci, maka Allah tidak secara langsung menciptakannya. Dalam Injil Yudas, Yesus bertanya kepada pengikutnya, “Bagaimanakah kalian mengenal saya” Mereka tidak dapat menjawabnya dengan benar. Sebaliknya Yudas menjawab, “Aku tahu siapa Engkau dan dari mana Engkau datang. Engkau datang dari alam kekal Barbelo”

    Barbelo dalam ajaran Gnostik ialah pencurahan Allah yang pertama, sering digambarkan sebagai figur ibu-ayah. Sebab Allah tidak memasuki dunia yang tidak suci ini, Barbelo adalah alam perantara dari mana dunia ini diciptakan tanpa mencemarkan Allah.

    Jelasnya, Barbelo adalah istilah Gnostik dan asing dalam ajaran Kristen. Yesus menyatakan dalam Yohanes 3:13 bahwa Dia datang dari sorga. Ayat Yunaninya ialah houranos. Penulis Perjanjian Baru melihat Yesus duduk di sebelah kanan Bapa. Yesus berasal dari sorga dan akan tinggal selamanya dengan Bapa-Nya.

    Alasan Bahwa Injil Yudas Bukan Bagian Dari Perjanjian Baru

    Terdapat banyak bukti untuk tidak memasukkan Injil Yudas dalam kitab injil yang diwahyukan. Pertama, ditulis terlalu terlambat untuk memiliki hubungan apostolik. Rasul Kristus diberi kekuasaan untuk menulis injil. Satu syarat untuk dapat masuk dalam kanon Perjanjian Baru adalah bahwa buku tersebut harus ditulis oleh seorang rasul atau yang memiliki hubungan dekat. Karena hubungan kerasulan ini sangat penting, haruslah ditulis pada abad pertama. Injil Yudas ditulis pada pertengahan abad kedua terlalu terlambat untuk dihubungkan dengan para rasul.

    Kedua, literatur yang diwahyukan itu haruslah konsisten dengan wahyu Allah yang terdahulu. Allah bukanlah allah yang salah namun yang adalah Allah yang benar, dan firman-Nya tidak kontradiktif dengan kebenaran. Filosofi Gnostik dalam Yudas ini tidak konsisten dengan ajaran Perjanjian Lama dan Baru.

    Perjanjian Lama mengajarkan Allah menciptakan alam semesta dan Adam Hawa (Kejadian 1-3). Kejadian mengisahkan semua ciptaan Allah adalah baik. Ini bertentangan dengan ajaran Gnostik, Allah menciptakan dunia ini dan menyatakan semuanya baik.

    Ajaran Gnostik mengajarkan Allah tidak menciptakan dunia ini sebab materi dunia ini tidak suci, maka Tuhan menciptakan ion-ion dan malaikat. Makhluk inilah yang kemudian menciptakan alam semesta. Dalam Injil Yudas, Yesus menceritakan tentang penciptaan dunia, manusia dan para ion dan malaikat. Para malaikat ini yang mengatur ketidakteraturan. Salah satunya adalah malaikat Saklas yang menciptakan Adam dan Hawa. Injil ini menceritakan: “Biarlah 12 malaikat datang untuk mengatur ketidakteraturan. Dan lihatlah, dari awan datang malaikat yang wajahnya bercahaya api dan penampakannya dipenuhi dengan darah. Namanya Nebro yang artinya pemberontak atau sering disebut dengan Yaldabaoth. Saklas, malaikat yang lain itu juga datang dari awan. Nebro menciptakan enam malaikat - dan begitu juga dengan Saklas - untuk membantunya, dan terciptalah kedua belas malaikat tersebut yang masing-masing mempunyai bagian dalam sorga.

    Ia juga mengatakan, “Saklas memberitahu malaikat-malaikatnya, ‘Marilah kita menciptakan manusia yang menyerupai kita’. Mereka menciptakan Adam dan isterinya Hawa, yang disebut, dalam awan, Zoe”

    Ini sangat bertentangan dengan Perjanjian Lama di mana Allah-lah yang menciptakan alam semesta. Kemudian Allah menciptakan Adam dari tanah, dan istrinya Hawa dari Adam.

    Injil Yudas juga bertentangan dengan ajaran Perjanjian Baru. Injil ini mengajarkan bahwa tubuh itu jahat dan Yesus ingin membebaskan diri-Nya dari tubuh fisik-Nya. Yesus mengarahkan Yudas, “Tetapi engkau (Yudas) akan melebihi mereka semua. Karena engkau akan mengorbankan orang yang menjadi pakaian-ku”. Yesus mati dengan bantuan Yudas dan akan membebaskan roh-Nya untuk bersatu dengan Allah.

    Sebaliknya, Perjanjian Baru mengajarkan bahwa Yesus tidak pernah ingin membebaskan diri-Nya dari tubuh-Nya. Faktanya, Yesus mengajar bahwa kebangkitanNya adalah kebangkitan fisik (Yohanes 2:19-22). Dalam Lukas 24:39, Yesus menjelaskan kepada para pengikut-Nya bahwa Dia mempunyai tubuh fisik-Nya. “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." Dalam Yohanes 20 dan 21, Yesus menyatakan bahwa tubuh-Nya yang disalibkan itu yang dibangkit-kan. Dia mengundang Thomas dalam pasal 20 untuk menyentuh parut-Nya. Jika Yesus bangkit sebagai roh, Dia bersalah kerana menipu para pengikut-Nya.

    Paulus mengajar dalam 1 Korintus 15 tentang kebangkitan tubuh. Dia menerangkan bahwa Yesus bangkit dari maut dan lebih dari 500 orang bersaksi terhadap fakta ini. Dia juga menerangkan bahwa kebangkitan tubuh itu ialah tubuh fisik tetapi berlainan dengan tubuh kita di dunia ini. Pada saat kebangkitan, tubuh umat Kristiani akan memperoleh tubuh kemuliaan. Ini jelas bertentangan dengan ajaran Gnostik yang berusaha membebaskan diri dari tubuh yang tidak suci. Paulus tidak mengajar umat Kristiani untuk membebaskan diri dari tubuh, namun menantikan kebangkitan tubuh (1 Tesalonika 4:13-18).

    Kesimpulan

    Meskipun adanya sensasi media, Injil Yudas sama sekali tidak mempengaruhi kebenaran sejarah atas Injil-Injil dan bukan ancaman bagi ketuhanan Kristus. Injil ini tidak dapat dianggap sebagai injil yang diwahyukan seperti buku-buku dalam Perjanjian Baru. Ia ditulis pada akhir abad kedua dan apalagi, tidak ditulis oleh Rasul Kristus atau orang yang dekat dengan rasul. Ajarannya bertentangan dengan Perjanjian Lama dan Baru. Dan menjelaskan informasi yang sangat sedikit sehingga dapat dianggap sebagai sejarah. Injil Yudas memberikan kita gambaran yang lebih kepada permulaan Gnostik. Dan tentu saja injil ini tidak menjelaskan fakta sejarah baru dari Yesus yang akan mempengaruhi Perjanjian Baru.

    Sumber : http://www.geocities.com/injilyudas/Probe1.htm


    Based On : http://sehati.blogsome.com/2006/07/04/download-versi-alkitab/#more-21

    Posted at 9/26/2006 5:35:46 am by KaLvHiN
    Make a comment  

    INJIL GNOSTIK

    Ada beberapa pertanyaan yang diajukan sekitar artikel dan renungan yang membahas Injil Gnostik. Untuk memperjelas, berikut pertanyaan dan jawabannya:

    (Tanya-1) Apakah tidak mungkin bahwa penemuan-penemuan naskah kuno Injil Gnostik merupakan kehendak Allah yang mau mengungkapkan kebenaran-Nya?

    (Jawab-1) Alkitab kanonik sudah cukup mengungkapkan kehendak Allah, karena itu adalah mustahil kalau Injil-Injil Gnostik yang justru merupakan karya kelompok gnostik kristen yang menyerang kepercayaan kanonik dan memutar balikkan berita Injil itu bisa disebut kehendak Allah untuk mengungkapkan kebenaran. Dibalik itu, kehadiran Injil Gnostik sekalipun menarik sebagian orang, tidak diterima umumnya jemaat mula-mula dan dianggap sebagai buku apokrifa atau psedopigrafa saja.

    (T-2) Saya pernah mendengar bahwa Injil Thomas adalah Injil yang asli karena memuat ucapan-ucapan Yesus yang lebih pendek dan ditulis pada abad pertama (sedini tahun 40-50) sebelum Injil-Injil Kanonik (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) ditulis, jadi karenanya patut disebut sebagai Injil kelima.

    (J2) Injil Thomas tidak ditulis pada abad pertama tetapi pada abad kedua atau ketiga, sebab, pertama kalau ditulis pada abad pertama, karena isinya mengajarkan ajaran gnostik yang bertentangan dengan Injil Kanonik, tentunya dalam Injil-Injil Kanonik disebutkan adanya Injil Thomas yang disebut palsu. Kedua, aliran gnostik berkembang pada abad-2/3 sehingga Injil Thomas tentunya ditulis pada abad-abad ini. Injil Thomas jelas mengajarkan doktrin Gnostik seperti yang bisa dibaca pada a.l. ayat-ayat berikut:

    (Logion-1) Inilah ucapan-ucapan rahasia yang diucapkan oleh Yesus yang dicatat oleh Didimus Yudas Thomas. Dan ia berkata: “Barangsiapa menemukan rahasia ucapan-ucapan ini tidak akan mengalami kematian;

    (Logion-77) Aku adalah cahaya yang menyinari segala sesuatunya. Saya ada dimana-mana. Dari diriku semua akan nyata, dan kepadaku semua akan kembali. Angkatlah batu dan kamu akan menemukan aku disitu;

    (Logion-108) Barangsiapa minum dari mulutku akan menjadi seperti Aku. Saya sendiri akan menjadi orang itu, dan hal-hal tersembunyi akan dinyatakan kepadanya;

    (Logion-114) Simon Petrus berkata kepada mereka, “Biarkan Maria meninggalkan kita, karena perempuan tidak layak memperoleh hidup.” Yesus berkata: “Lihatlah, aku akan membimbingnya untuk menjadi laki-laki, agar ia juga bisa menjadi roh yang hidup seperti kamu laki-laki. Karena semua perempuan yang menjadikan dirinya sendiri laki-laki akan masuk ke dalam kerajaan surga.”

    Ucapan rahasia yang digambarkan tersalur melalui bibir yang beradu (ciuman) berbicara mengenai gnosis (pengetahuan rahasia) yang menyelematkan, gambaran mengenai esensi semesta yang adalah cahaya merupakan konsep dasar keberadaan monisme gnostik, dan anggapan bahwa perempuan lebih rendah dari laki-laki juga merupakan ajaran gnostik. Jadi Injil Thomas adalah Injil Gnostik, dan memasukkannya sebagai Injil ke-5 oleh Jesus Seminar pada tahun 1993 (Buku The Five Gospels diterbitkan pada tahun ini) tidak pernah diterima kalangan luas kristen.

    (T-3) Tetapi, bagaimana menjelaskan adanya kenyataan bahwa setengah dari isi Injil Thomas ada dalam Injil-Injil Kanonik? Bukankah ini menunjukkan keaslian Injil Thomas dan bahwa ia lebih tua atau setidaknya setua Injil Kanonik karena ucapan-ucapan Yesus itu lebih pendek?

    (J-3) Adanya ayat-ayat yang mirip jelas mungkin karena Injil-Injil Kanonik sudah ada untuk dikutip. Adanya ucapan-ucapan Yesus dalam Injil Kanonik yang ada di Injil Thomas dan lebih pendek dan tidak ada narasinya menunjukkan bahwa memang ajaran gnostik disalurkan melalui ucapan gnosis (pengetahuan rahasia) sehingga ia kurang memberi nilai pada cerita narasi. Injil Gnostik mengutip Injil Kanonik dan memetik sarinya yang menunjang ajaran gnostik-kristen (pencampuran ajaran gnostik dan kristen).

    (T-4) Uskup Irenius menyebut Injil Thomas sebagai Injil sesat pada tahun 180. Bukankah ini menunjukkan bahwa sejarah ditulis oleh yang menang dan yang kalah akan dibungkam?

    (J-4) Pandangan bahwa ‘sejarah ditulis oleh yang menang’ jelas keliru karena fakta menunjukkan bahwa banyak terjadi dimana yang kalahlah yang menulis sejarah. Inskripsi Mesir kuno tidak pernah menyebut kegagalan Mesir melawan Musa dan umat Israel yang dibawanya, demikian juga Jepang menulis sejarah perang dunia ke-2 yang berbeda dengan kenyataan sejarah sehingga diprotes oleh Cina dan Korea. Yang benar, ‘sejarah mengungkapkan apa yang benar menurut penulisnya.’ Sekalipun Irenius adalah seorang uskup tidak berarti menentukan apa yang diajarkan gerejalah yang menang. Injil-Injil Kanonik dan surat-surat yang ada dalam Alkitab Perjanjian Baru sudah dipercaya oleh mereka yang tersebar dari Roma sampai Mesopotamia dan Mesir dan dipercaya oleh banyak orang diluar struktur gereja Katolik Lama dimana para uskup memerintah, sebelum akhirnya diakui sebagai kanon. Fakta justru menunjukkan bahwa ’11 Injil Apokrif’ yang dipercayai yang menang (gereja Katolik Roma menyebutnya Deuterokanonika) justru tidak diterima oleh gereja-gereja yang lebih kecil di luar gereja RK.

    (T-5) Mengapa Injil Gnostik kita tolak, bukankah yang menulis adalah murid-murid Yesus juga?

    (J-5) Injil-Injil Gnostik tidak ditulis oleh murid-murid Yesus tetapi ditulis oleh para pengikut aliran gnostik-kristen yang menggunakan nama-nama para murid Yesus untuk memperkuat identitas mereka. Injil-Injil Gnostik ditulis pada abad ke-2/3 sesudah para murid Yesus meninggal dunia. Ini berbeda dengan Injil-Injil Kanonik dan Surat-Surat para Rasul yang ditulis dalam kurun waktu abad ke-1 antara tahun 50 s/d 90. Yang menarik, berbeda dengan isi Injil-Injil Kanonik dimana Yesuslah yang ditinggikan sebagai Tuhan dan Juruselamat, dalam Injil Gnostik para penulisnya menganggap diri merekalah yang tahu rahasia gnostik itu dan yang lainnya tidak, bahkan dalam Injil Yudas ditulis bahwa Yudaslah juruselamat bagi Yesus.

    (T-6) Menurut Injil Yudas, bukankah masuk akal bahwa Yudas dipilih sebagai tumbal agar Yesus bisa disalibkan, mengapa Yudas harus disalahkan? Bukankah kalau tidak ada Yudas Yesus tidak disalibkan jadi tidak menebus manusia?

    (J-6) Ada atau tidaknya Yudas, semangat anti Yesus sudah memuncak dikalangan umat Yahudi dan para Imam yang menolaknya. Yesus adalah orang populer yang sudah dikenal luas raut wajahnya karena melayani selama 3 tahun, jadi ada atau tidaknya orang bernama Yudas, Yesus akan mudah ditangkap. Ditengah kondisi demikianlah Yudas mengail di air keruh demi memperoleh uang dengan cara ia ingin menjadi pialang yang menunjukkan Yesus.


    Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org

    Posted at 9/26/2006 4:51:52 am by KaLvHiN
    Make a comment  

    YESUS DIGUGAT

    Bulan Mei 2006 bukan saja diisi dengan perayaan/demo Hari Buruh Sedunia, tetapi bulan ini tercatat diisi dengan dua peristiwa penting yang ‘Menggugat Yesus,’ yaitu: (1) Terbitnya majalah National Geographic, May 2006, yang berisi artikel utama ‘Judas Gospel’ yang intinya ingin membalik kesan ‘Yudas sebagai penghianat’ menjadi ‘Yudas sebagai pahlawan yang menjalankan kehendak Yesus’ (lihat Renungan dalam milis ini); dan (2) Akan dirilisnya di sinema film ‘The Da Vinci Code’ yang didalamnya diceritakan mengenai Yesus yang baru diangkat menjadi Tuhan di Konsili Nicea tahun 325 dan Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan keturunannya menyebar ke Perancis dan Inggeris. Beberapa pertanyaan sekitar ‘Menggugat Yesus’ didiskusikan di bawah ini:

    (Tanya-1)
    Dalam artikel ‘Teka-Teki Seputar Salib’ disebutkan bahwa kalangan Islam menyebut bahwa Yesus tidak disalib melainkan digantikan orang yang serupa dengan Dia, ayatnya ada di mana ya? Apakah Ada ayat dalam Al-Quran yang menyebutkan bahwa Yesus disalib sesuai berita Injil?

    (Jawab-1)
    Cerita mengenai Yesus yang tidak disalib dan digantikan orang lain ada dalam Quran Sura 4 An Nissa 157, 158. Ayat yang menceritakan Yesus mati mirip dengan berita Injil dapat ditemui di Quran Sura 19 Maryam 33,34, dimana disebutkan bahwa Yesus yang a.l. berbunyi: “Pada hari aku diwafatkan dan dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” Ayat terakhir ini diterima dan menjadi pendapat beberapa penafsir Islam, namun banyak yang menolaknya dan ditafsirkan dengan keterangan waktu bahwa kebangkitan itu akan terjadi di akhir zaman, jadi bersifat future-tense dan bukan menceritakan mengenai kebangkitan Yesus seperti di-klaim dalam Injil Kristen.


    (T-2) Bagaimana pula dengan Injil Barnabas? Bagaimana kitab ini berbicara mengenai kematian Yesus?
    (J2) Injil Barnabas lain lagi, disitu disebutkan bahwa Yesus tidak mati disalib tetapi digantikan oleh Yudas yang disalibkan ganti Yesus. Injil Barnabas adalah sebuah kitab yang disebut Injil yang mencoba menyelaraskan semua kitab Injil Kanonik (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) menjadi satu ditambah beberapa tradisi Yahudi, Kristen dan Islam menjadi buku dalam 222 fasal. Mencolok adanya isi ‘Injil’ ini yang mempromosikan ajaran Islam dan mengatakan bahwa seakan-akan Yesus dilahirkan dari keturunan Ismail dan dikorbankan Abraham (Al-Quran sebenarnya tidak mencatat siapa yang dikorbankan oleh Ibrahim), dan Yesus tidak disalib melainkan digantikan oleh Yudas (Al-Quran mencatat Yesus digantikan orang lain yang diserupakan dengan Yesus). Isinya mengandung ajaran Islam, misalnya tentang lima waktu sembahyang, Allah dengan sifat-sifatnya, ada syahadat Islam yang mencantumkan nama Muhammad, dan dihadapan Sanhedrin Yesus menyangkal bahwa Ia anak Allah dan pengakuan Yesus sebagai anak Allah adalah dosa besar, bahkan dibanyak bagian disebutkan bahwa nabi Muhammad sebagai Messias yang akan datang, Yesus menyatakan diri sebagai pengawal Messias dan Yohanes Pembaptis tidak disebut-sebut (jadi seakan-akan Yesuslah Yohanes Pembaptis yang meramalkan kedatangan Messias Muhammad). Kitab ini ditulis pada akhir abad pertengahan (abad-15-16) oleh orang Katolik yang masuk Islam dan berusaha menyesuaikan Injil Kristen dengan ajaran Islam. Beberapa penulis Islam percaya bahwa Injil ini palsu (hoax) namun masih banyak yang mempercayainya sebagai cerita otentik.


    (T-3) Apakah aliran Ahmadyah itu termasuk Islam? Kalau benar mengapa dalam hal penyaliban Yesus mereka berbeda dengan kepercayaan Islam mainstream?(J-3) Aliran Ahmadyah mengaku bahwa mereka beragama Islam, hanya bedanya, mereka menganggap bahwa nabi Muhammad bukan rasul terakhir melainkan Mirza Ghulam Ahmad. Pelopor aliran Ahmadyah ini berasal dari Pakistan dan mereka mempercayai legenda bahwa Yesus tidak mati disalib melainkan pingsan dan kemudian pergi ke India, mati dan dikuburkan di Srinagar, Kashmir. Legenda ini memang berkembang di Kashmir yang berbatasan dengan Pakistan, legenda mana didasarkan buku Nocolas Notovitch, seorang wartawan perang Rusia yang mengaku pernah berkunjung ke biara Himis di dekat Ladakh, ibukota Kashmir, dan memperoleh informasi bahwa Yesus pernah ke India. Buku ini kemudian dianggap berotoritas disamping Al-Quran dan tradisi Mirza Gulam Ahmad dan dijadikan ajaran Ahmadyah. Buku Nicolas Notovitch sudah dibuktikan bohong (hoax) setelah para ahli menyelidiki langsung ke biara itu dan berbicara dengan pemimpin dan biarawan disitu. Tidak pernah ada orang Rusia yang mengunjungi biara itu dalam 10 tahun terakhir dan di biara itu tidak ada cerita mengenai Issa yang datang ke India. Yang menarik dialami dalam fenomena ini adalah bahwa ‘kebohongan’ sekalipun sudah diakui oleh penulisnya (dalam hal diatas Notovitch akhirnya mengakui tulisannya fiktif), tetapi karena memenuhi harapan banyak orang akan gosip dan akan terus diberitakan dan dipercayai sebagai benar.


    (T-4) Bagaimana pula dengan Injil Yudas yang ramai dibicarkan akhir-akhir ini?
    (J-4) Injil Yudas dari penggalian pustaka Gnostik merupakan produk Gnostik, suatu aliran yang sinkretis antara ajaran Kristen dengan kepercayaan Gnostik. Esensi ajaran Gnostik adalah:

    “dunia adalah tempat yang jahat diciptakan oleh Tuhan yang jahat (Yahweh), dan yang berbalikan dari Tuhan yang benar dan Esa. Pengikut Gnostik Kristen menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Kristus dikirim untuk mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka para pengikut Gnostik agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar.” (Graham Stanton, Gospel Truth?, hlm.8)

    Bagi Gnostik, kematian Yesus menebus umat manusia tidak ada artinya sama sekali karena manusia bisa menyelamatkan diri sendiri melalui aktualisasi percikan api ilahi dalam dirinya sendiri terlebih dengan adanya peringatan yang diberikan Yesus yang mereka percayai sebagai pembimbing mistik/kebatinan. Dalam Injil Yudas, Yudas tidak digambarkan negatif sebagai pengkhianat melainkan sebagai pahlawan yang mendapat tugas dari Yesus untuk menjalankan misi menyerahkan Yesus. (Untuk uraian lebih lanjut bacalah ‘Injil Yudas’ dalam Renungan di www.yabina.org).


    (T-5) Mengenai buku The Da Vinci Code, penulisnya sendiri menyebut cerita itu fiksi (Bahkan diakhir cerita disebutkan bahwa Ia bermimpi), tetapi mengapa buku itu laris manis dan bahkan sekarang di’film’kan ? Tepatkan kita ikut menyebarkan buku dan film itu agar umat Kristen tahu atau sebaiknyakah kita melarang orang melihat buku dan film itu ?
    (J-5) Bagi mereka yang mencari kebenaran, mereka tidak akan terpengaruh fiksi-fiksi yang sudah ketahuan motivasi penulisnya yang mencari uang dan popularitas dengan menyebarkan gosip dan skandal yang dikemas dalam bentuk thriller dan ditective dengan pemutar-balikkan fakta kebenaran yang memang dicari oleh mereka yang tidak mencari kebenaran melainkan senang dengan kebohongan. Kenyataan dunia memang begitu, yaitu orang lebih senang berita (sekalipun bohong) yang sesuai dengan keinginan hatinya dan orang tidak suka berita (sekalipun benar) tentang kebenaran yang menyebut manusia berdosa dan membutuhkan tangan penebusan Yesus yang disalib ganti kita. Melarang orang membaca buku dan menonton film ‘The Da Vinci Code’ sama halnya dengan mendorong orang ingin tahu dan membaca dan melihat film itu, sebaliknya mendorong orang menonton juga membuat buku dan film itu laku dan tidak bijak karena bagi mereka yang masih ke kanak-kanakan imannya, mereka akan dengan mudah terpengaruh apa yang dilihatnya yang dikemas secara profesional dan artistik selama 2 jam di layar lebar.


    (T-6) Mengapa umat Kristen tidak marah terhadap buku maupun film (misalnya The Da Vinci Code) yang berbicara sumbang mengenai kekristenan?
    (J-6) Umat Kristen mengikuti teladan Yesus untuk tidak melawan pedang dengan pedang. Ketika ada muridnya yang ingin membela Yesus dari penangkapan para tentara Romawi, Yesus menghalangi mereka. Yesus pernah mengajarkan agar ‘kalau dipukul pipi kiri berikan pipi yang kanan juga.’ Pengujatan tidak akan menjadi baik karena dihujat balik, tetapi kasih, doa-doa dan pimpinan Roh Kudus (dan bukan kekuatan manusiawi) membuka kemungkinan untuk mengubah si penggugat untuk menyadari perilaku mereka. Namun, Yesus juga tidak menyuruh kita berdiam diri dengan meditasi pasif, melainkan agar kita bersaksi dan memberitakan Injil kebenaran.


    Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org

    Posted at 9/26/2006 4:34:09 am by KaLvHiN
    Make a comment  

    Injil Yudas

    Kitab Injil Yudas adalah sebuah injil gnostik, yang sebagian dari teksnya berhasil direkonstruksikan pada 2006. Kitab ini mempunyai fokus yang sangat positif tentang pribadi Yudas Iskariot, yang menurut kitab-kitab Injil ortodoks mengkhianati Yesus Kristus kepada pemerintah Romawi yang kemudian menyalibkannya. Injil Yudas menggambarkan hal ini sebagai ketaatan kepada perintah Yesus, dan bukan sebagai pengkhianatan. Namun, Injil ini tidak secara khusus "melawan" Kekristenan, seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang percaya akan teks ini, melainkan konon "menambahkan" penjelasan kepada Alkitab Kristen. Di masa kini tidak ada bukti historis lainnya yang cocok dengan injil ini. Kitab ini pun tidak banyak mengubah bukti-bukti yang didukung oleh teks-teks asli yang dikanonisasikan sebagai Alkitab Kristen.

    Latar belakang
    Ada lebih kurang 50 karya yang menyebut dirinya sebagai injil dari gereja perdana, tetapi hanya informasi lebih jauh untuk 20 kitab dari semua injil ini, dan empat di antaranya adalah injil-injil kanonik yang kita kenal sebagai Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Injil Yudas adalah satu di antara ke-16 injil lainnya yang informasinya telah disimpan secara historis dalam tulisan-tulisan gereja perdana.

    Satu-satunya manuskrip yang mencakup teks Injil ini muncul pada tahun 1970-an, setelah 1700 tahun berada di padang pasir Mesir dalam bentuk sebuah manuskrip papirus yang dijilid dengan kulit. Papirus yang ditulisi Injil ini sudah terpecah-pecah, karena beberapa bagiannya hilang, dalam hal tertentu kata-katanya tersebar-sebar, dan dalam kasus lainnya beberapa barisan tulisannya hilang. Ini kemungkinan besar disebabkan oleh kerusakan yang disebabkan oleh bahan-bahannya dan zaman. Menurut Rodolphe Kasser, codex ini aslinya terdiri atas 62 halaman; tetapi ketika tiba di pasar pada 1999, hanya 26 halaman yang tersisa, sebagian karena beberapa halaman telah diangkat dan dijual. Dari waktu ke waktu, halaman-halaman yang hilang ini muncul dan berhasil diindetifikasikan.

    Satu-satunya manuskrip yang diketahui dari Injil Yudas ini ditetapkan waktunya dengan teknik radiokarbon antara tahun 220 dan 340 oleh Timothy Jull, seorang ahli penetapan tanggal dengan radiokarbon di pusat fisika Universitas Arizona. Ini berarti sekitar 200-300 tahun setelah tanggal kebangkitan Yesus menurut Alkitab. Akibatnya, sejumlah orang mempertanyakan ketepatan historis karya ini. Namun demikian, sebagian orang dengan akurat menunjukkan bahwa kita tidak tahu apakah manuskrip Injil Yudas yang dikenal ini merupakan salinan pertamanya. Selain itu, diketahui pula bahwa sarjana Gereja Kristen perdana (dan santo Katolik), Ireneus, merujuk kepada "Injil Yudas" seawal tahun 180. Tidak diketahui dengan pasti berapa lama sebelum waktu itu Injil Yudas telah ditulis.

    Hampir dapat dipastikan bahwa pengarang Injil Yudas bukanlah Yudas Iskariot. Namun demikian, siapa pengarang Injil Yohanes dan banyak kitab Perjanjian Baru Lainnya pun telah dipertanyakan sejumlah pakar pula.


    Isi
    Isi Injil Yudas dirujuk oleh Ireneus, seorang Uskup perdana dari Lyons, dalam Adversus Haereses (Melawan Ajaran Sesat), yang ditulis pada sekitar 180, yang mengatakan bahwa sebagian orang

    menyatakan bahwa Kain memperoleh keberadaannya dari Kuasa di atas dan mengakui bahwa Esau, Korah, orang-orang Sodom, serta orang-orang sejenis itu, terkait dengan mereka. Mereka menyatakan bahwa Yudas si pengkhianat sepenuhnya terhubung dengan semua ini, dan bahwa ia sendiri, yang mengetahui kebenaran ini lebih daripada yang lainnya, mencapai misteri pengkhianatan itu; dan olehnya segala sesuatu, baik di bumi maupun di dalam surga, dilemparkan ke dalam kekacauan. Mereka menghasilkan sebuah sejarah fiktif seperti ini yang mereka sebut sebagai "Injil Yudas". [1]
    Ini adalah rujukan kepada orang-orang Keni, sebuah sekte gnostisisme yang secara khusus menyembah Kain sebagai pahlawan. Orang Keni, seperti sebagian besar kelompok gnostik, adalah kelompok setengah malteis yang percaya bahwa Allah Perjanjian Lama — yaitu Yahweh — jahat, dan agak berbeda serta merupakan makhluk yang jauh lebih rendah daripada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi, dan bertanggung jawab atas pengutusan Yesus. Kelompok-kelompok gnostik seperti itu juga menyembah semua tokoh Alkitab yang telah berusaha untuk menemukan pengetahuan atau menantang kewibawaan Yahweh, sementara menganggap jahat semua yang dianggap sebagai pahlawan dalam penafsiran yang lebih ortodoks.



    Based On : http://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Yudas

    Posted at 9/26/2006 4:21:06 am by KaLvHiN
    Make a comment  

    Mempersoalkan YESUS SEJARAH

    Oleh : Herlianto

    YESUS. Siapakah dia ini sehingga namanya ramai dibicarakan di seluruh dunia dan sejarah dihitung waktunya secara populer dan dikaitkan dengan namanya dan kelahiran semua pemimpin spiritual dan sekular di dunia dikaitkan tahunnya dengan tahun kelahiran Yesus? (BC = before christ & AD = anno domini). Kebangkitan Yesus sebagai juruselamat manusia juga menghasilkan lambang salib yang digunakan sebagai lambang bendera Swiss dan kemudian oleh Henri Dunant digunakan sebagai lambang palang merah yang bila ada yang datang dengan tanda ini berarti pengharapan hidup dan keselamatan datang? Suatu kebetulan atau ada unsur kebenaran sejarah dibaliknya? Soalnya, negara-negara Arab syak terhadap tanda ini dan menggantinya dengan tanda Bulan Sabit (Red Crescent).

    Namun, sepanjang sejarah nama itu juga banyak dipersoalkan, ditolak bahkan dicerca banyak orang, tetapi sekaligus nama itu tetap disebut, dipercaya dan dimuliakan banyak orang pula.

    MASA HIDUP YESUS

    Sejak kelahirannyapun Yesus tidak dianggap istimewa oleh lingkungannya, orang Farisi pernah menyebutnya pesuruh 'Beelzebul' penghulu setan (Mat.12:24) dan ketika akan disalib ia di olok-olok dan dihina sebagai 'raja' dan direndahkan lebih rendah dari seorang pembunuh bernama 'Barabas' (Mat.27:21). Di kalangan orang kebanyakan, Yesus disebut sebagai 'Yohanes Pembaptis, Elia atau Yeremia' (Mar.8:27), tetapi banyak juga yang menyebutnya 'Tuhan'.

    Keragu-raguan akan siapa Yesus sebenarnya juga terjadi di kalangan murid-murid Yesus. Thomas 'meragukan kebangkitannya' (Yoh.20:25), dan Yudaslah yang menyerahkan Yesus untuk di salib. Tetapi, menanggapi pertanyaan Yesus yang berbunyi "siapakah Aku ini?", dengan yakin Petrus yang pernah menyangkali Yesus sampai tiga kali mengatakan "Engkau adalah Messias, Anak Allah yang hidup." (Mat.16:15-16). Para Rasul lainnya juga berlandaskan ajaran mereka pada Yesus sebagai Kristus dan Tuhan, bahkan rasul Paulus menjadikan peristiwa kebangkitan Yesus sebagai fondasi iman Kristen:

    "Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih tinggal dalam dosamu." (Ikor.15:17).

    SEPANJANG SEJARAH GEREJA

    "Itu kan kata Alkitab" kata sebagian orang, dan gema komentar ini terus timbul sepanjang sejarah gereja di tengah mayoritas umat Kristen yang tetap mengimani bahwa Yesus adalah Tuhan.

    Perkembangan Rasionalisme yang mempengaruhi kekristenan menghasilkan keragu-raguan akan nilai 'Yesus Sejarah' yang disebut Alkitab, bahkan kemudian sejalan dengan tumbuhnya 'Kritik Historis' atas Alkitab oleh Teologia Liberal sejak abad ke XVIII, pada abad ke-XIX dikenal dengan 'The Quest' (penyelidikan) ramailah dipersoalkan soal 'Yesus Sejarah' terutama oleh David Friedrich Strauss, Albert Schweitzer dan Joseh Ernst Renan, ini memuncak dalam diri Rudolf Bultmann yang dikenal dengan 'demitologi'sasinya itu pada medio abad ke-XX.

    Strauss mempersoalkan mujizat Yesus yang dikatakannya tidak benar-benar terjadi dan Reimarus menyebutnya sebagai mitos. Albert Ritschl menjadikan etika Yesus sebagai jantung keristenan, Adolf Harnack menyebut Yesus sebagai manusia pembawa damai bagi orang lain, Albert Schweitzer menolak liberalisme lama yang mengabaikan unsur eskatologis Yesus tetapi ia juga menolak mujizat. Faham anti-supranatural ini memuncak dalam diri Rudolf Bultmann yang memisahkan Yesus Iman dan Yesus Sejarah yang dikenal dengan 'demitologisasi'nya itu.

    Pada umumnya kritik-kritik itu berkisar pada penolakan akan hal-hal yang bersifat supra-natural disekeliling sejarah Yesus terutama soal kelahirannya dari anak dara, mujizat yang dilakukan dan kebangkitannya, sehingga ketuhanan Yesus ditolak dan Yesus dipaksakan untuk sekedar menjadi manusia biasa yang mengalami pergumulan sosial dan politik di Palestina di abad pertama.

    Dirintis Ernst Kasemann murid Bultmann dari Jerman, dimulailah 'The New Quest' (penyelidikan baru) yang memuncak dalam apa yang disebut 'Jesus Seminar' di Amerika Serikat dengan tokoh a.l. Robert Funk dan John Dominic Crossan. Ini disusul dengan 'The Third Quest' (penyelidikan ketiga) dengan tokoh-tokohnya a.l. Marcus Borg dan E.P. Sanders. Banyak teolog-teolog demikian menyebut 'Yesus sebagai pemimpin dan pemberontak Yahudi yang gagal'.

    Perbedaan penting masa 'the quest' dengan 'the new & third quests' adalah bahwa pada penyelidikan pertama kitab Injil diterima sebagai benar tetapi aspek mujizatnya ditolak, sedangkan dalam penyelidikan-penyelidikan berikutnya justru kebenaran kitab Injil itulah yang ditolak dan dinilai dari pemikiran rasionalisme, kitab apokrifa atau rekaan manusia modern. Kritik-kritik demikian berjalan terus dan sejalan dengan era informasi sejak tahun 1960-an, mass mediapun termasuk Film, TV, Radio, Majalah, Surat Kabar& Internet dijadikan sarana untuk menyebar-luaskan keragu-raguan akan Yesus Sejarah.

    YESUS DALAM ERA INFORMASI

    Sejak tahun 1960-an bermunculan buku-buku dan film-film yang mencoba mendiskreditkan pribadi Yesus, dan ini memuncak pada pertengahan tahun 1980-an dengan aktipnya Jesus Seminar di Amerika Serikat yang mempopulerkan keragu-raguannya melalui mass media dengan intensip.

    Di tahun 1960-an terbit sebuah buku yang kemudian difilmkan di tahun 1970-an dengan judul 'Jesus Christ Superstar' karya Tim Rice dan Andrew Lord Weber yang menjadikan Yudas Iskariot sebagai pahlawan dan Yesus digambarkan sebagai seorang yang frustrasi dan mati dalam kegagalan. Di tahun 1980-an terbit pula karya Nikos Kazantzakis yang difilmkan dengan judul 'The Last Temptation of Christ' dimana disamping skandal Yesus dengan Maria Magdalena yang dipertunjukkan disitu dan usaha Yesus yang ingin melepaskan diri dari 'godaan terakhir' kepuasan seksualnya di kayu salib, Yesus mengucapkan::

    "Aku seorang penipu, aku seorang munafik, aku takut akan segala sesuatu ... Lucifer ada di dalam diriku."

    Memang Martin Scorsese yang menyutradarai film tersebut pada awal film menyatakan bahwa 'Film ini tidak didasarkan kitab-kitab Injil tetapi cerita fiksi tentang pertentangan rohani yang kekal,' namun film itu tidak terhindarkan telah menjadi film yang meng-olok-olok Yesus dan kekristenan. Tragisnya beberapa pendeta termasuk yang ada di Indonesia ikut mempromosikan film tersebut.

    Puncak dari promosi perendahan Yesus itu terjadi ketika pada tahun 1985 ada sekelompok teolog Amerika Serikat merintis apa yang disebut sebagai "Jesus Seminar". Ini disambut mass media ketika hasil seminar itu dibukukan pada tahun 1993. Midwest Today, sebuah majalah dalam edisi Maret 1994 mengangkat masalah ini dengan judul 'Debate Rages Over the Jesus Seminar' dengan sub-judul berbunyi:

    "Ketika 77 ahli Alkitab menyebut bahwa 80% dari yang dianggap ucapan Yesus dalam Alkitab sebenarnya tidak diucapkan Yesus, kepanikan menyebar."

    Majalah Time dalam edisi Paskahnya (8 April, 1996) memperkenalkan soal Jesus Seminar ini secara internasional dengan judul 'The Gospel Truth' dengan sub-judulnya:

    "Yesus Seminar yang provokatif mengemukakan bahwa tidak banyak bagian Perjanjian Baru dapat dipercaya. Bila demikian, apa yang dipercaya orang Kristen?"

    Film mutakhir yang sedang dipersiapkan oleh Paul Verhoeven (peserta Jesus Seminar dan sutradara film Basic Instinct, Showgirls dan Robocop) dan Sharon Stone (pemain film Basic Instinct) adalah tentang Yesus dalam kemanusiaannya yang penuh yang berpacaran dengan Maria Magdalena.

    Masalah studi 'Yesus Sejarah' yang semula merupakan perdebatan sekelompok teolog, dalam era informasi yang dipacu oleh pemuatan di surat kabar, majalah dan TV, dan buku-buku telah mencuat menjadi debat terbuka yang cukup mendatangkan silang-pendapat yang kontroversial lebih-lebih dengan berita-berita provokatif seperti di atas, apalagi dengan terbitnya buku-buku 'pop-Yesus Sejarah' seperti karya John Shelby Spong yang menyebut Maria diperkosa dan melahirkan Yesus, Barbara Thiering menyebut 'Yesus menikah dengan Maria Magdalena, bercerai, kawin lagi dengan Lydia dan kemudian mempunyai tiga anak' sedang Crossan mengatakan bahwa 'Yesus mati disalib dan mayatnya dimakan anjing', sedang Michael Baigent menyebut Yesus tidak mati di salib kemudian lari dan menetap di Perancis Selatan, dan adapula yang menyebutnya lari ke Kashmir.

    Di internet sekitar 400.000 bahan dibawah judul 'Jesus Seminar' bisa ditelusuri dan di Indonesia di toko-toko buku asing yang sekarang mulai beroperasi di mal-mal di kota-kota besar di Indonesia, dijual buku-buku mengenai 'Yesus Sejarah' terbitan luar negeri seperti antara lain tulisan Jesus Seminar, John Dominic Crossan, dan Barbara Thiering yang sekalipun tidak bergabung dengan Jesus Seminar tetapi mempunyai misi serupa.

    JESUS SEMINAR

    'Jesus Seminar' diselenggarakan atas sponsor Westar Institute di Amerika Serikat dengan maksud memperbaharui penyelidikan Yesus Sejarah tepatnya 'ucapan-ucapan Yesus yang otentik.' Laporan lengkap penyelidikan ini dibukukan dalam buku berjudul 'The Search for the Authentic Words of Jesus, The Five Gospels, What Did Jesus Really Say?' (1993). Pada bagian awal halaman v buku itu kita dapat melihat kemana arah nafas seminar tersebut:

    "Laporan ini dipersembahkan kepada Galileo Galilei yang mengubah pandangan kita mengenai surga selamanya. Thomas Jefferson yang menggunakan gunting dan memotong-motong Kitab Injil. David Friedrich Strauss yang mempelopori penyelidikan mengenai Yesus Sejarah."

    Seminar ini diketuai Robert W Funk, ahli Perjanjian Baru profesor pada Montana University, dan John Dominic Crossan, rahib Roma Katolik Irlandia yang terpaksa melepaskan kerahibannya karena pandangannya yang kontroversial atas Alkitab dan profesor pada De Paul University, Chicago di Amerika Serikat. Disebutkan dalam prakata buku itu bahwa buku itu disusun setelah 6 tahun kerja oleh ahli-ahli yang disebut dididik di universitas-universitas terkemuka di Eropah dan Amerika Serikat. Pertemuan pertama pada tahun 1985 diikuti 30 peserta dan dikatakan bahwa 200 orang lainnya kemudian ikut bergabung. Pertemuan diadakan dua kali setahun untuk mendiskusikan satu-persatu ucapan-ucapan Yesus yang ada dalam Alkitab.

    Buku itu selain berisi hasil seminar juga memuat terjemahan kitab Injil yang disebut sebagai 'The Five Gospels' dengan memasukkan 'Injil Thomas' sebagai Injil ke lima. Dan karena para pengikut seminar mempercayai teori Injil Markus sebagai kitab Injil tertua, maka Injil Markus diletakkan di depan kemudian disusul Injil-Injil Matius, Lukas dan Yohanes dan baru Injil Thomas. Terjemahan ini disebut sebagai 'The Scholar Version' (SV) yang memberikan kesan akademik, dan yang dianggap merupakan versi untuk bisa dengan mudah dimengerti oleh pembaca Amerika modern dengan versi yang dikatakan sebagai paling dekat dengan apa yang bisa didengar oleh jemaat abad pertama. Aktivitas seminar adalah:

    Pertama, mengumpulkan 'ucapan-ucapan yang dianggap dari Yesus' dari kurun waktu 300 tahun baik dari Alkitab maupun dari sumber-sumber kuno yang mungkin dikumpulkan. Ucapan-ucapan yang berjumlah sekitar 1500 itu kemudian dibagi dalam 4 kategori, yaitu perumpamaan, aforisme, percakapan, dan cerita yang mengandung ucapan Yesus. Ucapan-ucapan lebih pendek dianggap lebih asli karena orang lebih mudah mengingatnya daripada kalimat-kalimat panjang yang mungkin disusun kemudian dan sudah berkembang dan dibumbui. Kedua, kemudian dilakukan pemungutan suara (voting) oleh yang hadir untuk menentukan keaslian ucapan itu. Dalam penentuan keaslian itu tersedia empat pilihan, yaitu yang dianggap ucapan Yesus yang:

    (1) Asli diberi warna merah, yaitu yang dianggap ucapan Yesus sendiri;

    (2) Mungkin Asli diberi warna merah muda, yaitu untuk menunjukkan ucapan Yesus yang masih diragukan atau telah mengalami perubahan-perubahan selama proses salinan;

    (3) Mungkin Tidak Asli diberi warna abu-abu, yaitu ucapan yang tidak diucapkan oleh Yesus tetapi mengandung gagasan Yesus; dan

    (4) Tidak Asli diberi warna hitam, yaitu ucapan yang dianggap bukan dari Yesus dan ditulis pengikutnya atau musuhnya.

    Ucapan-ucapan itu disusun untuk merekonstruksikan sejarah kehidupan Yesus. Selain itu, Jesus Seminar mencoba untuk memperjelas pemisahan antara 'Yesus Sejarah' dan 'Yesus Iman,' termasuk di dalamnya mengenai Inspirasi dan ketidak bersalahan (Inerrancy) Alkitab dan pembedaan Yesus (ke-manusia-an) dari Kristus (ke-Tuhan-an), dan beberapa masalah dibahas seperti sumber-sumber dan hubungan antar kitab Injil, tempat Injil Thomas sebagai Injil ke Lima, dan soal tradisi ucapan Yesus.

    Yang menarik dari metodologi penyimpulan yang digunakan adalah cara voting, dengan kata lain kebenaran ucapan Yesus ditentukan hanya dengan pemungutan suara mayoritas 'responden' puluhan peserta yang hadir. Hanya beberapa puluh orang yang menentukan mana ucapan Yesus dalam kitab-kitab Injil itu yang dapat dikata asli, mungkin asli, mungkin tidak asli, dan tidak asli. Dari komposisi responden dan angket demikian jangan heran kalau keluar kesimpulan bahwa '82 persen ucapan dalam kitab-kitab Injil bukan ucapan Yesus.' menarik pula melihat hasil-hasil angket tersebut.

    Dalam 'Injil Markus' yang dianggap sumber Matius dan Lukas, hanya ada satu yang dianggap ucapan asli Yesus (12:17), padahal 'Injil Matius' ada 5 ayat atau kumpulan ayat yang dianggap asli diucapkan oleh Yesus (5:39-42,44; 6:9;13:33; 20:1-15) dan dalam 'Injil Lukas' malah ada 7 ayat atau kumpulan ayat yang dianggap asli diucapkan oleh Yesus (6:20-21,27,29-30; 10:30-35;11:2;13:20). Jadi jangan heran kalau 'Kotbah di Bukit' (Matius 5-7) hampir seluruhnya dianggap bukan ucapan Yesus (kecuali 5:39-42, dan sebagian dari 5:44, dan doa Bapa kami hanya kata 'Bapa kami' dalam 6:9-lah yang diberi warna merah), lagipula ayat Matius 28:19-20 yang merupakan ayat yang berisi 'Amanat Agung Tuhan Yesus' malah dianggap sama sekali tidak asli (diberi warna hitam), malah, dalam 'Injil Yohanes' tidak ada yang bisa dianggap sebagai ucapan Yesus yang asli dan hanya satu yang disebut sebagai 'mungkin' (4:44) yang diberi warna merah muda.

    Jadi motivasi dan misi Jesus Seminar jelas terlihat ditujukan untuk membungkam Yesus dan kitab-kitab Injil, Yesus tidak dianggap mengaku sebagai Mesias dan 'Allah yang menjadi daging', ia tidak berbicara mengenai kedatanganNya keduakali, ia tidak menjanjikan akan mengampuni dosa, ia tidak mengkotbahkan 'kotbah di bukit', dan bahkan ia tidak pernah 'mengutus murid-muridnya' untuk memberitakan Injil.Yang lebih menarik lagi adalah bahwa kitab 'Thomas', dari 114 fasal, hanya ada 6 ayat dalam tiga fasal (20:2-4; 54:1, dan 100:2-3) yang dianggap asli ucapan Yesus! dan ini dianggap Injil yang lebih berotoritas dan dianggap sumber kitab-kitab Injil kanonik.

    Dapatkah kesimpulan angket demikian diterima keabsahannya? Pembaca dapat menyimpulkannya sendiri. Yang jelas, kesimpulan demikianlah yang disebar luaskan secara terbuka di mass media tanpa ada pemeriksaan serius dari pihak mass media dan pembahasan persidangan gereja, dan hanya pembaca kritis yang mau menyelidiki apa yang ada di balik pernyataan-pernyataan itulah yang bisa mengetahui lika-liku yang dianggap 'the scholars version' tersebut. Kenyataan lain adalah bahwa sekalipun mungkin memilih sama dalam voting, para peserta yang terlibat tidak selalu berfikir sama mengenai hal-hal yang dipercaya. Sebagai contoh, Crossan mengatakan bahwa 'Yesus Funk' beda dengan Yesusnya, dan dalam buku 'The Five Gospels' disebutkan oleh Funk mengenai Marcus Borg bahwa sepanjang sejarah seminar, Borg tidak pernah ikut voting bersama mayoritas atas setiap isu.

    Hal lain lagi yang perlu direnungkan adalah apa pandangan iman dan teologis yang bisa diharapkan dari seorang Paul Verhoeven sutradara film mistik ‘Robocop’ dan film porno ‘Basic Instinct‘ dan ‘Showgorls’ yang dengan bintang Sharon Stone pemain 'Basic Instinct' sedang membuat film Yesus yang benar-benar hanya seorang manusia (seperti pemuda modern) yang di dalamnya berpacaran dengan Maria Magdalena? Makalahnya Verhoeven berjudul 'Fully Human' disampaikan pada forum Jesus Seminar yang di tahun 1994 dimana pada saat yang sama Jesus Seminar menyimpulkan bahwa 'Jesus tidak dilahirkan dari anak dara Maria, Yesus lahir dalam proses sebagai layaknya manusia biasa'.

    Disebutkan pula dalam prakatanya bahwa buku itu disusun setelah 6 tahun kerja oleh ahli-ahli yang disebut sebagai dididik di universitas-universitas terkemuka di Eropah dan Amerika Serikat. Dalam kenyataannya, kecuali Marcus Borg, Robert W. Funk dan John Dominic Crossan, umumnya anggota lainnya adalah teolog biasa yang tidak menonjol. Dari para ahli Perjanjian Baru di universitas-universitas terkemuka, hanya Claremont University yang diwakili, sedangkan pengikut dari Emory University hanya sekali datang. Para ahli Perjanjian Baru dari universitas-universitas terkemuka seperti Yale, Harvard, Princeton, Duke, Union, Emory maupun Chicago, tidak ada yang diwakili. Para ahli Perjanjian Baru dari Eropah dan benua lain juga tidak ada yang diwakili.

    Lepas dari itu sebenarnya para peserta seminar bukanlah tergolong tokoh dalam pendidikan teologi. Kecuali Crossan dan Borg yang punya pengalaman mengajar di universitas umumnya peserta seminar adalah orang-orang yang tidak banyak dikenal di kalangan pendidikan tinggi teologia. Para peserta yang hadir tidak ada yang mewakili seminari teologia sekalipun mereka mengajar di sana lebih-lebih seminari teologia papan atas, mereka bertindak sebagai pribadi-pribadi. Sekalipun yang hadir pertama kali disebut berjumlah 30 orang dan dikatakan kemudian diikuti 200 orang lainnya, kenyataannya berita itu dibesar-besarkan. Faktanya yang hadir dalam pertemuan tengah tahunan itu rata-rata hanya sekitar 30 orang saja. Dalam buku 'The Five Gospels' (1993) yang ditulis setelah 8 tahun berdirinya Jesus seminar, hanya disebutkan daftar 76 orang yang terlibat.

    Sekalipun Funk pernah menjadi sekertaris pada 'Society of Biblical Literature' (SBL) di Amerika Serikat, Jesus Seminar tidak ada hubungan sama sekali dengan SBL. Karena itu dengan melihat angka-angka peserta di atas adalah terlalu ceroboh untuk menganggap kesimpulan seminar itu sebagai mewakili dunia teologi mengingat bahwa SBL saja mempunyai anggota sejumlah 6.900 orang yang setengahnya spesialis Perjanjian Baru, dan ini belum termasuk tokoh-tokoh Alkitab di luar SBL atau yang bergabung dalam paguyuban ahli-ahli Perjanjian Baru sedunia 'Studiorum Novi Testamenti Societas'.

    Kelihatannya para ahli yang berkumpul adalah mereka dikenal merupakan kelompok teolog yang memang bernada sumbang akan kekristenan dan antipati terhadap konservativisme Kristen, dan sekalipun pengaruhnya menyebar luas, ternyata setelah lebih dari 10 tahun sejak tahun 1985, Jesus Seminar dalam prosesnya juga mengalami pendewasaan pula. Ungkapan-ungkapan para peserta Seminar yang semula begitu meyakinkan bahkan radikal, dengan adanya kritik-kritik dari luar ternyata kemudian berubah melunak. Ini menunjukkan bahwa mereka berangsur-angsur mengakui juga keterbatasan mereka.

    Dari ucapan penemu 'Jesus Seminar' Robert W. Funk, kita dapat melihat bahwa memang motivasi dan tujuan seminar ini adalah untuk mencari suatu cerita fiksi baru tentang Yesus dan Injil yang berbeda dengan cerita Injil tradisional. Ia mengatakan:

    "Apa yang kita butuhkan adalah cerita fiksi yang baru yang membawa kita menuju kejadian sentral drama Kristen-Yahudi dan merujukkan Mesias dengan cerita baru yang mencakup hal lebih besar daripada awal sampai akhir cerita lama. Kita memerlukan cerita baru tentang Yesus, Injil yang baru, bila kamu mau, menempatkan Yesus berbeda dalam kerangka besar cerita kepahlawanan."

    Sebenarnya hal ini tidak aneh, soalnya sejak awal dan bertahun-tahun sebelumnya kedua pendiri dan ketua Jesus Seminar yaitu Funk dan Crossan sudah mempunyai gagasan kontroversial dan provokatif, itu pula yang menyebabkan Crossan harus menanggalkan jubah kerahibannya di gereja Roma Katolik. Jadi adanya Jesus Seminar bukanlah untuk menyelidiki dan mencari kebenaran tetapi lebih untuk mencari legitimasi pandangan radikal mereka. Polemik yang 'sensasional', 'provokatif' dan 'kontroversial' dalam alam Amerika Serikat memang mudah dijual. Karena itu dengan datangnya modal dari Westar Institute dan liputan mass media yang intensif termasuk liputan majalah 'Time' ke seluruh dunia, seminar ini menjadi terkenal. Dalam seminar-seminar yang diadakan secara berpindah-pindah dari kota-ke-kota memang mass media sengaja diundang untuk meliput bahkan wawancara diberikan.

    Sebenarnya di Amerika Serikat ada banyak badan-badan yang menghibahkan dana besar bagi para teolog dan seminari teologi untuk studi kebenaran Alkitab, tetapi berita yang menguatkan alibi Yesus Sejarah tidak akan menarik mass media dan kurang laku menjadi komoditi bisnis komunikasi massa. Berita-berita yang bersifat skandal, sensasional, kontroversial, dan provokatif lebih laku di jual melalui mass media pada masakini (ingat berita skandal seks Clinton yang berkepanjangan). Dalam alam sekular semacam Amerika Serikat dimana 'kotbah untuk bertobat dan hukuman kekal' sangat dimusuhi dapat dimengerti kalau seminar yang menyimpulkan bahwa Yesus tidak pernah mengatakan dan menyuruh manusia untuk bertobat tentu akan laku keras.

    Kelemahan besar dari metoda penyelidikan Jesus Seminar adalah hanya terkonsentrasi pada kitab-kitab Injil, inipun dengan maksud untuk dibandingkan dengan kitab-kitab Apokrifa yang dianggap lebih berotoritas, sedangkan data-data Yesus dalam kitab-kitab para Rasul dan tulisan para Rasul diabaikan karena dianggap rekayasa gereja. Rasul Paulus dianggap sebagai tidak mempunyai minat pada Yesus, gaya cerita dalam Kitab-Kitab Injil dan Kisah Para Rasul hanya dianggap sebagai kemasan mitos yang didasarkan pada iman para murid Yesus.

    Demikian semua ucapan yang dianggap sudah berkembang harus dihapus. Kanon yang sudah menjadi dasar ajaran iman gereja selama duapuluh abad tidak mendapat tempat selayaknya dalam seminar karena isinya dianggap hanya mengungkapkan Yesus Iman dan bukan Yesus Sejarah. Sebaliknya, Injil Thomas diberi tempat istimewa sebagai 'Injil ke-Lima'. (di sambung pada nomor selanjutnya tentang Injil Thomas).

    A m i n !

    Based On : http://www.yabina.org/RENUNGAN/97-98/R9802_2.HTM

    Posted at 9/26/2006 4:08:02 am by KaLvHiN
    Make a comment  

    KONTROVERSI SEPUTAR 'THE JESUS SEMINAR'

    Kaum Kristen percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, dilahirkan
    dari Perawan Maria dan suaminya yang tukang kayu, Yosef.
    Dengan penyalibannya, ia menebus atau menyelamatkan umat
    manusia. Dengan kebangkitannya kembali, ia menjanjikan
    kehidupan kekal. Tetapi sekelompok ahli teologi dan sejarawan
    di Amerika Utara mempertanyakan tentang Yesus -- serta
    keakuratan Perjanjian Baru.

    Sekitar 50 sarjana membentuk apa yang dinamakan "Jesus
    Seminar". Mereka menyatakan tengah menggali kembali
    pemahaman-pemahaman baru tentang kehidupan Kristus -- terlepas
    dari apa yang mereka namakan "dogma dan mitos gereja selama
    berabad-abad." Mereka mengatakan, pendekatan mereka adalah
    dengan menganalisis teks-teks Alkitab -- dengan menggunakan
    pengetahuan mutakhir tentang budaya, sejarah, politik, dan
    bahasa di Palestina kuno. Dalam proses itu, mereka mengecilkan
    hakikat keilahian Yesus -- dan menonjolkan sisi manusiawinya.

    Marcus Borg adalah seorang Profesor Agama dan Budaya di Oregon
    State University di Corvallis, yang berpendidikan Oxford.

    Bagi banyak kaum Kristen arus-pokok di Amerika Utara, suatu
    cara lama dalam memahami Yesus telah tidak mempan lagi bagi
    mereka -- yakni cara pandang yang eksklusif: Kristianitas
    adalah satu-satunya jalan keselamatan, yang menekankan
    kelahiran dari perawan, dan (Yesus) mati untuk dosa-dosa kita.
    Dalam zaman yang secara religius bersifat pluralistik, cara
    pandang lama itu tidak lagi memikat. Banyak di antara
    orang-orang ini tetap menjadi anggota gereja, tetapi dengan
    setengah hati -- (mereka bilang kepada saya), "Saya selalu
    harus mengatupkan jari-jariku bila mendengar, 'Yesus
    dilahirkan oleh seorang perawan...' atau 'Yesus naik dengan
    tubuhnya ke surga.' "

    Professor Borg berkata, 'Jesus Seminar' menekankan pelajaran
    --tetapi bukan bahasa harfiah-- dari kitab-kitab Injil
    Perjanjian Baru. Demikianlah, maka kelahiran dari perawan
    tidak dianut secara harfiah --melainkan sebagai kisah yang
    harus ditafsirkan. Banyak anggota Seminar berkata, bahwa
    budaya-budaya sering menggunakan kembang-kembang bahasa
    --seperti "dilahirkan dari antara para dewa"-- untuk
    menjelaskan sifat-sifat istimewa dari tokoh-tokoh historis.
    Mereka juga mengatakan, bahwa cara bercerita di zaman kuno
    tidak selalu berpegang ketat kepada fakta -- yang menurut
    mereka adalah bagian penting dari model saintifik pada masa
    kini.

    Demikianlah, Injil Lukas menceritakan kisah Maria, Ibu Yesus
    yang tengah mengandungnya, mengunjungi saudara sepupunya yang
    juga tengah mengandung, Elizabeth, beserta suaminya Zechariah.
    Seorang malaikat menyatakan kepada Zechariah, bahwa sekalipun
    usia mereka sudah tua, Tuhan mengarunia dia dan istrinya
    dengan seorang anak. Bayi itu ternyata menjadi tokoh kunci
    lain dari Perjanjian Baru, Yohanes Pembaptis.

    Ray Hoover adalah seorang pendeta yang ditahbiskan dalam
    Gereja United Church of Christ -- ia juga Profesor Literatur
    Alkitab dan Agama di Whitman College di Walla-Walla,
    Washington. Menurut dia:

    Dalam cerita Lukas, seorang perempuan tua dan mandul,
    Elizabeth, dan seorang gadis muda dan tak berpengalaman,
    Maria, mendapati kehidupan masing-masing dirahmati dengan
    makna istimewa dalam mengandung seorang bayi. Ini tidak boleh
    dilupakan, sebagai suatu kehidupan penting yang muncul di
    antara orang kebanyakan. Lukas berkata, bahwa hidup dapat
    dirahmati bahkan dalam keadaan yang paling sederhana. Kuasa
    untuk mengubah sejarah dapat muncul dari kalangan orang biasa,
    bukan hanya dari kalangan tinggi dan berkuasa. Kita biasanya
    mengharapkan kreativitas muncul di kalangan anak muda. Lukas
    menyatakan bahwa rahmat dapat muncul dalam kehidupan kita pada
    usia kapan saja. Sesuatu yang baru dapat mengubah makna hidup
    kita dalam usia menengah atau usia tua kita.

    Pendekatan yang dilakukan oleh para sarjana 'Jesus Seminar'
    terhadap Yesus dipersoalkan oleh para sarjana Alkitab
    ortodoks. Mereka berkata: "Kelompok ini (Jesus Seminar)
    merupakan sekelompok sarjana Alkitab yang memilih-diri-sendiri
    (self-selected) dan mempunyai tujuan khusus untuk
    membuktikan-salah Yesus yang diajarkan di Sekolah-Sekolah
    Minggu."

    Ben Witherington adalah seorang Profesor Tafsir Perjanjian
    Baru di Asbury Theological Seminary di Lexington, Kentucky.
    Dia bilang:

    "Bila saya pergi ke Eropa atau Jerman, kebanyakan sarjana di
    sana berkata bahwa ini hanya bisa terjadi di Amerika. [Jesus
    Seminar] tidak mewakili para sarjana mainstream. Kelebihan
    'Jesus Seminar' adalah mencari publisitas dengan membuat
    pernyataan-pernyataan radikal. Ini contoh bagus dari politik.
    Mereka sangat lihay memanipulasi media."

    Para pengritik berkata, bahwa metode yang digunakan oleh
    'Jesus Seminar' cacad. Misalnya, para sarjana 'Jesus Seminar'
    berkata, bahwa mereka menggunakan banyak sumber untuk
    menetapkan keakuratan historis dari teks-teks Alkitab. Tetapi
    para pengritiknya berkata, bahwa 'Jesus Seminar' menolak
    tulisan-tulisan yang tidak sesuai dengan pandangan mereka
    sendiri. Misalnya, Ben Witherington berkata, Injil Matius dan
    Lukas dari Perjanjian Baru menyebutkan tentang kelahiran dari
    perawan -- yang seharusnya cukup untuk meyakinkan peserta
    Seminar tentang keakuratan historis. Tetapi para anggota
    Seminar berkata, jika peristiwa yang menakjubkan itu benar,
    Injil-Injil yang lain pun tentu akan menyebutkannya. Para
    sarjana yang lebih konservatif mengeluh bahwa Seminar menolak
    mempertimbangkan fenomena supernatural -- baik itu malaikat,
    mukjizat, atau Yesus sebagai penjelmaan Tuhan:

    "Para sarjana ortodoks, ketika mempelajari teks-teks Alkitab,
    tidak berangkat dari anggapan bahwa mukjizat adalah mustahil
    dan kita harus memperlakukannya sebagai mitos atau legenda.
    Seorang sejarawan yang terbuka terhadap hal-hal supernatural
    akan menunda penilaian dan meneliti bukti-bukti individual
    kasus demi kasus."

    Para pengritik juga mengecam cara Seminar bergantung pada apa
    yang mereka anggap sebagai dokumen yang meragukan --misalnya
    apa yang disebut "Injil Gnostik" dari Thomas. Injil itu
    menekankan ucapan-ucapan Yesus -- yang menggambarkannya
    sebagai orang arif, tetapi bukan Putra Allah.

    Para pengritik juga menolak sikap Seminar yang mempertanyakan
    keotentikan ucapan-ucapan Yesus. Para anggota Seminar berkata,
    bahwa tradisi lisan tidak selalu akurat, dan bahwa
    generasi-generasi Kristen yang belakangan mungkin sekali
    menerapkan kepercayaan mereka sendiri kepada Yesus. Tradisi
    Yesus diwariskan oleh orang-orang Yahudi awal, yang tahu
    bagaimana meneruskan tradisi dengan sangat hati-hati dan
    jujur. Tidak realistik untuk menganggap bahwa orang Yahudi
    abad pertama, yang sangat menjunjung tinggi tradisi suci,
    tidak memperlakukan tradisi itu dengan jujur dan dilandasi
    doa.

    Sikap mempertanyakan tradisi oleh Seminar itu juga menimbulkan
    masalah-masalah teologis:

    Pertanyaan yang harus diajukan kepada Seminar adalah: jika apa
    yang mereka katakan benar -- mengapa ada Kristianitas itu
    sendiri? Mengapa Yesus tidak tenggelam di dalam keranjang
    sampah sejarah? Masalahnya bagi orang awam adalah: jika 'Jesus
    Seminar' benar, mengapa kita harus peduli dengan tokoh Yesus
    itu sendiri?

    Para anggota 'Jesus Seminar' berkata, tugas pokok mereka
    adalah menggali bukti-bukti yang akurat secara historis dan
    saintifik; masalah teologis harus digarap belakangan. Mereka
    menyadari bahwa temuan-temuan mereka dapat menantang
    pandangan-pandangan dan asumsi-asumsi tradisional dari
    Kristianitas. Tetapi mereka berkata, itu sendiri bukanlah hal
    yang buruk -- mereka malah berpendapat bahwa karya mereka akan
    memperkuatnya.*** 20-Dec-96

    -------
    Date: Sat, 05 Jun 1999 12:30:59 +0700
    From: Hudoyo Hupudio
    To:


    Based on : http://media.isnet.org/antar/etc/KontroversiSeminar.html

    Posted at 9/26/2006 4:04:40 am by KaLvHiN
    Make a comment  

    Yesus Sejarah

    Saudara/i ykk,

    HARI NATAL sudah dekat dan kenangan akan sejarah kelahiran Yesus yang nyata dan dampaknya bagi kehidupan umat manusia telah mendorong banyak orang mencari tahu sifat kesejarahan Yesus yang sebenarnya. Sepanjang sejarah, nama Yesus banyak dipersoalkan, ditolak bahkan dicerca banyak orang, namun nama itu tetap disebut, dipercaya dan dimuliakan lebih banyak orang pula.

    MASA HIDUP YESUS

    Sejak kelahirannyapun Yesus tidak dianggap istimewa oleh lingkungannya, orang Farisi pernah menyebutnya pesuruh 'Beelzebul' penghulu setan (Mat.12:24) dan ketika akan disalib ia di olok-olok dan dihina sebagai 'raja' dan direndahkan lebih rendah dari seorang pembunuh bernama 'Barabas' (Mat.27:21). Di kalangan orang kebanyakan, Yesus disebut sebagai 'Yohanes Pembaptis, Elia atau Yeremia' (Mar.8:27), tetapi banyak juga yang menyebutnya 'Tuhan'.

    Keragu-raguan akan siapa Yesus sebenarnya juga terjadi di kalangan murid-murid Yesus. Thomas 'meragukan kebangkitannya' (Yoh.20:25), dan Yudas-lah yang menyerahkan Yesus untuk di salib. Tetapi, menanggapi pertanyaan Yesus yang berbunyi "siapakah Aku ini?", dengan yakin Petrus yang pernah menyangkali Yesus sampai tiga kali mengatakan "Engkau adalah Messias, Anak Allah yang hidup." (Mat.16:15-16). Para Rasul lainnya juga berlandaskan ajaran mereka pada Yesus sebagai Kristus dan Tuhan, bahkan rasul Paulus menjadikan peristiwa kebangkitan Yesus sebagai fondasi iman Kristen. Ia mengatakan: "Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih tinggal dalam dosamu." (Ikor.15:17).

    SEPANJANG SEJARAH GEREJA

    "Itu kan kata Alkitab" kata sebagian orang, dan gema komentar ini terus muncul tenggelam sepanjang sejarah gereja di tengah mayoritas umat Kristen yang tetap mengimani bahwa Yesus adalah Tuhan.

    Perkembangan Rasionalisme yang mempengaruhi kekristenan menghasilkan keragu-raguan akan nilai 'Yesus Sejarah' yang disebut Alkitab, bahkan kemudian sejalan dengan tumbuhnya 'Kritik Historis' atas Alkitab sejak abad ke XVIII, pada abad ke-XIX dikenal dengan 'The Quest' (penyelidikan) ramailah dipersoalkan soal 'Yesus Sejarah' terutama oleh David Friedrich Strauss, Albert Schweitzer dan Joseh Ernst Renan, ini memuncak dalam diri Rudolf Bultmann yang dikenal dengan 'demitologi'sasinya itu pada medio abad ke-XX.

    Strauss mempersoalkan mujizat Yesus yang dikatakannya tidak benar-benar terjadi dan Reimarus menyebutnya sebagai mitos. Albert Ritschl menjadikan etika Yesus sebagai jantung kekristenan, Adolf Harnack menyebut Yesus sebagai manusia pembawa damai bagi orang lain, dan Albert Schweitzer sekalipun menolak liberalisme lama yang mengabaikan unsur eskatologis Yesus namun ia juga menolak mujizat. Faham anti-supranatural ini memuncak dalam diri Rudolf Bultmann yang memisahkan Yesus Iman dan Yesus Sejarah yang dikenal dengan 'demitologisasi'nya itu.

    Pada umumnya kritik-kritik itu berkisar pada penolakan akan hal-hal yang bersifat supra-natural disekeliling sejarah Yesus terutama soal kelahirannya dari anak dara, mujizat yang dilakukan dan kebangkitannya, sehingga ketuhanan Yesus ditolak dan Yesus dipaksakan untuk sekedar menjadi manusia biasa yang mengalami pergumulan sosial dan politik di Palestina di abad pertama.

    Dirintis Ernst Kasemann murid Bultmann, dimulailah 'The New Quest' (penyelidikan baru) yang memuncak dalam apa yang disebut 'Jesus Seminar' di Amerika Serikat dengan tokoh a.l. Robert Funk dan John Dominic Crossan. Ini disusul dengan 'The Third Quest' (penyelidikan ketiga) dengan tokoh-tokohnya a.l. Marcus Borg dan E.P. Sanders. Banyak teolog-teolog demikian menyebut 'Yesus sebagai pemimpin dan pemberontak Yahudi yang gagal'.

    Perbedaan penting masa 'the quest' dengan 'the new & third quests' adalah bahwa pada penyelidikan pertama kitab Injil diterima sebagai benar tetapi aspek mujizatnya ditolak, sedangkan dalam penyelidikan-penyelidikan berikutnya justru kebenaran kitab Injil itulah yang ditolak dan dinilai dari sudut pandang pemikiran rasionalisme, kitab apokrifa atau rekaan manusia modern.

    YESUS YANG DILECEHKAN

    Sejak tahun 1960-an bermunculan buku-buku dan film-film yang mencoba mendiskreditkan pribadi Yesus, dan ini memuncak pada pertengahan tahun 1980-an dengan aktipnya Jesus Seminar di Amerika Serikat yang mempopulerkan keragu-raguannya melalui mass media dengan intensip.

    Di tahun 1960-an terbit sebuah buku yang kemudian difilmkan di tahun 1970‑an dengan judul 'Jesus Christ Superstar' karya Tim Rice dan Andrew Lord Weber yang menjadikan Yudas Iskariot sebagai pahlawan dan Yesus digambarkan sebagai seorang yang frustrasi dan mati dalam kegagalan, dan di tahun 1980‑an terbit pula karya Nikos Kazantzakis yang difilmkan dengan judul 'The Last Temptation of Christ' dimana disamping skandal Yesus dengan Maria Magdalena yang dipertunjukkan disitu, dan usaha Yesus yang ingin melepaskan diri dari 'godaan terakhir' kepuasan seksualnya di kayu salib, Yesus dikatakan mengucapkan kata‑kata:

    "Aku seorang penipu, aku seorang munafik, aku takut akan segala sesuatu ... Lucifer ada di dalam diriku."

    Memang Martin Scorsese yang menyutradarai film tersebut pada awal film menyatakan bahwa 'Film ini tidak didasarkan kitab‑kitab Injil tetapi cerita fiksi tentang pertentangan rohani yang kekal,' namun film itu tidak terhindarkan telah menjadi film yang melecehkan Yesus dan kekristenan.

    Puncak dari promosi pelecehan Yesus itu terjadi ketika pada tahun 1985 ada sekelompok teolog Amerika Serikat merintis apa yang disebut sebagai "Jesus Seminar". Komentar kontroversial kemudian bermunculan setelah hasil seminar dibukukan pada tahun 1993. Midwest Today, sebuah majalah dalam edisi Maret 1994 mengangkat masalah ini dengan judul 'Debate Rages Over the Jesus Seminar' dengan sub-judul berbunyi: "Ketika 77 ahli Alkitab menyebut bahwa 80% dari yang dianggap ucapan Yesus dalam Alkitab sebenarnya tidak diucapkan Yesus, kepanikan menyebar."

    Majalah Time dalam edisi Paskahnya (8 April, 1996) memperkenalkan soal Jesus Seminar ini secara internasional dengan judul 'The Gospel Truth' dengan sub-judulnya: "Yesus Seminar yang provokatif mengemukakan bahwa tidak banyak bagian Perjanjian Baru dapat dipercaya. Bila demikian, apa yang dipercaya orang Kristen?"

    Film mutakhir yang dipersiapkan oleh Paul Verhoeven (salah seorang peserta Jesus Seminar dan sutradara film Basic Insticnt, Showgirls dan Robocop) dan Sharon Stone (pemain film Basic Instinct) adalah tentang Yesus dalam kemanusiaannya yang 'fully human' yang berpacaran dengan Maria Magdalena.

    Masalah studi 'Yesus Sejarah' yang semula merupakan perdebatan sekelompok teolog, dalam era informasi yang dipacu oleh pemuatan di surat kabar, majalah, buku, TV dan internet menjadi debat terbuka yang cukup mendatangkan silang-pendapat yang hangat dengan adanya komentar provokatif seperti di atas, lebih-lebih dengan terbitnya buku-buku 'pop-Yesus Sejarah' seperti karya John Shelby Spong yang menyebut Maria diperkosa dan melahirkan Yesus, Barbara Thiering menyebut 'Yesus menikah dengan Maria Magdalena, bercerai, kawin lagi dengan Lydia dan kemudian mempunyai tiga anak' dan Crossan mengatakan bahwa 'Yesus mati disalib dan mayatnya dimakan anjing', sedang Michael Baigent menyebut Yesus tidak mati di salib kemudian lari dan menetap di Perancis Selatan, dan adapula yang menyebutnya lari ke Kashmir.

    JESUS SEMINAR

    'Jesus Seminar' diselenggarakan atas sponsor Westar Institute di Amerika Serikat dengan maksud memperbaharui penyelidikan Yesus Sejarah tepatnya 'ucapan-ucapan Yesus yang otentik.' Laporan lengkap penyelidikan ini dibukukan dalam buku berjudul 'The Search for the Authentic Words of Jesus, The Five Gospels, What Did Jesus Really Say?' (1993). Pada bagian awal halaman v buku itu kita dapat melihat kemana arah nafas seminar tersebut: "Laporan ini dipersembahkan kepada Galileo Galilei yang mengubah pandangan kita mengenai surga selamanya. Thomas Jefferson yang menggunakan gunting dan memotong-motong Kitab Injil. David Friedrich Strauss yang mempelopori penyelidikan mengenai Yesus Sejarah."

    Seminar ini diketuai Robert W Funk, profesor Perjanjian Baru pada Montana University, dan John Dominic Crossan, rahib Roma Katolik Irlandia yang terpaksa melepaskan kerahibannya karena pandangannya yang kontroversial atas Alkitab dan profesor pada De Paul University, Chicago di Amerika Serikat. Disebutkan dalam prakata buku itu bahwa buku itu disusun setelah 6 tahun kerja oleh ahli-ahli yang disebut dididik di universitas-universitas terkemuka di Eropah dan Amerika Serikat. Pertemuan pertama pada tahun 1985 diikuti 30 peserta dan dikatakan bahwa 200 orang lainnya kemudian ikut bergabung. Pertemuan diadakan dua kali setahun untuk mendiskusikan satu-persatu ucapan-ucapan Yesus yang ada dalam Alkitab.

    Buku itu selain berisi hasil seminar juga memuat terjemahan kitab Injil yang disebut sebagai 'The Five Gospels' dengan memasukkan 'Injil Thomas' sebagai Injil ke lima. Dan karena para pengikut seminar mempercayai teori Injil Markus sebagai kitab Injil tertua, maka Injil Markus diletakkan di depan kemudian disusul Injil-Injil Matius, Lukas dan Yohanes dan baru Injil Thomas. Terjemahan ini disebut sebagai 'The Scholar Version' (SV) yang memberikan kesan akademik, dan yang dianggap merupakan versi untuk bisa dengan mudah dimengerti oleh pembaca Amerika modern dengan versi yang dikatakan sebagai paling dekat dengan apa yang bisa didengar oleh jemaat abad pertama. Aktivitas seminar adalah:

    Pertama, mengumpulkan 'ucapan-ucapan yang dianggap dari Yesus' dari kurun waktu 300 tahun baik dari Alkitab maupun dari sumber-sumber kuno yang mungkin dikumpulkan. Ucapan-ucapan yang berjumlah sekitar 1500 itu kemudian dibagi dalam 4 kategori, yaitu perumpamaan, aforisme, percakapan, dan cerita yang mengandung ucapan Yesus. Ucapan-ucapan lebih pendek dianggap lebih asli karena orang lebih mudah mengingatnya daripada kalimat-kalimat panjang yang mungkin disusun kemudian dan sudah berkembang dan dibumbui.

    Kedua, kemudian dilakukan pemungutan suara oleh yang hadir untuk menentukan keaslian ucapan itu. Dalam penentuan keaslian itu tersedia empat pilihan, yaitu yang dianggap ucapan Yesus yang: (1) Asli diberi warna merah, yaitu yang dianggap ucapan Yesus sendiri; (2) Mungkin Asli diberi warna merah muda, yaitu untuk menunjukkan ucapan Yesus yang masih diragukan atau telah mengalami perubahan-perubahan selama proses salinan; (3) Mungkin Tidak Asli diberi warna abu-abu, yaitu ucapan yang tidak diucapkan oleh Yesus tetapi mengandung gagasan Yesus; dan (4) Tidak Asli diberi warna hitam, yaitu ucapan yang dianggap bukan dari Yesus dan ditulis pengikutnya atau musuhnya.

    Ucapan-ucapan itu disusun untuk merekonstruksikan sejarah kehidupan Yesus. Selain itu, Jesus Seminar mencoba untuk memperjelas pemisahan antara 'Yesus Sejarah' dan 'Yesus Iman,' termasuk di dalamnya mengenai Inspirasi dan ketidak bersalahan (Inerrancy) Alkitab dan pembedaan Yesus (ke-manusia-an) dari Kristus (ke-Tuhan-an), dan beberapa masalah dibahas seperti antara lain sekitar sumber-sumber dan hubungan antar kitab Injil, dan juga tempat Injil Thomas sebagai Injil ke Lima, dan soal tradisi ucapan Yesus.

    VOTING UNTUK MENGUKUR KEBENARAN?

    Yang menarik dari metodologi penyimpulan yang digunakan adalah cara 'pemungutan suara' (voting), yaitu ucapan Yesus ditentukan hanya dengan pemungutan suara mayoritas 'responden' puluhan peserta yang hadir. Hanya beberapa puluh orang yang menentukan dengan voting mana ucapan Yesus dalam kitab-kitab Injil itu yang dapat dikata asli, mungkin asli, mungkin tidak asli, dan tidak asli.

    Dari komposisi responden dan angket demikian jangan heran kalau keluar kesimpulan bahwa '82 persen ucapan dalam kitab-kitab Injil bukan ucapan Yesus (warna merah).' Menarik pula melihat hasil-hasil angket lainnya.

    Dalam 'Injil Markus' yang dianggap sumber Matius dan Lukas, hanya ada satu ayat yang dianggap ucapan asli Yesus (12:17), padahal 'Injil Matius' ada 5 ayat atau kumpulan ayat yang dianggap asli diucapkan oleh Yesus (5:39-42,44; 6:9;13:33; 20:1-15) dan dalam 'Injil Lukas' malah ada 7 ayat atau kumpulan ayat yang dianggap asli diucapkan oleh Yesus (6:20-21,27,29-30; 10:30-35;11:2;13:20).

    Jadi jangan heran kalau 'Kotbah di Bukit' (Matius 5-7) hampir seluruhnya dianggap bukan ucapan Yesus (kecuali 5:39-42, dan sebagian dari 5:44, dan doa Bapa kami hanya kata 'Bapa kami' dalam 6:9-lah yang diberi warna merah), lagipula ayat Matius 28:19-20 yang merupakan ayat yang berisi 'Amanat Agung Tuhan Yesus' malah dianggap sama sekali tidak asli (diberi warna hitam). Malah dalam 'Injil Yohanes' tidak ada yang bisa dianggap sebagai ucapan Yesus yang asli dan hanya satu yang disebut sebagai 'mungkin' (4:44) yang diberi warna merah muda.

    Mengenai ini tepat komentar Raymond E. Brown, pakar Kristologi dari Katolik Roma, dalam bukunya ‘An Introduction to New Testament Christology’ menyebutkan: “Hostoricity, however, should be determined not by what we think possible or likely, but by antiquity and reliability of the evidence.”

    APA MOTIVASINYA?

    Kelihatannya motivasi dan misi Jesus Seminar ditujukan untuk membungkam Yesus dan kitab-kitab Injil, Yesus tidak dianggap mengaku sebagai Mesias dan 'Allah yang menjadi daging', ia tidak berbicara mengenai kedatanganNya keduakali, ia tidak menjanjikan akan mengampuni dosa, ia tidak mengkotbahkan 'kotbah di bukit', dan bahkan ia tidak pernah 'mengutus murid-muridnya' untuk memberitakan Injil. Yang lebih menarik lagi adalah bahwa kitab 'Thomas', dari 114 fasal, hanya ada 6 ayat dalam tiga fasal (20:2-4; 54:1, dan 100:2-3) yang dianggap asli ucapan Yesus! dan kitab ini disebut Injil ke-lima yang dianggap lebih berotoritas daripada kitab-kitab Injil kanonik.

    Dapatkah kesimpulan angket demikian diterima keabsahannya? Pembaca dapat menyimpulkannya sendiri. Yang jelas, kesimpulan-kesimpulan demikianlah yang disebar luaskan secara terbuka di mass media tanpa ada pemeriksaan serius dari pihak mass media dan pembahasan persidangan gereja, dan hanya pembaca kritis yang mau menyelidiki apa yang ada di balik pernyataan-pernyataan itulah yang bisa mengetahui lika-liku yang dianggap 'the scholars version' tersebut.

    Kenyataan lain adalah bahwa sekalipun mungkin memilih sama dalam voting, para peserta yang terlibat tidak selalu berfikir sama mengenai hal-hal yang dipercaya. Sebagai contoh, Crossan mengatakan bahwa 'Yesus Funk' beda dengan Yesusnya, dan dalam buku 'The Five Gospels' disebutkan oleh Funk mengenai Marcus Borg bahwa sepanjang sejarah seminar, Borg tidak pernah ikut voting bersama mayoritas atas setiap isu.

    Hal lain lagi yang perlu direnungkan adalah apa pandangan iman dan teologis yang bisa diharapkan dari seorang Paul Verhoeven yang dengan bintang Sharon Stone pemain 'Basic Instinct' (film yang mengumbar sex & sadisme) sedang membuat film Yesus yang benar-benar hanya seorang manusia (seperti pemuda modern) yang di dalamnya berpacaran dengan Maria Magdalena? Makalahnya berjudul 'Fully Human' disampaikan pada forum Jesus Seminar yang diadakan pada tahun 1994 dimana pada saat yang sama Jesus Seminar menyimpulkan bahwa 'Jesus tidak dilahirkan dari anak dara Maria, Yesus lahir dalam proses sebagai layaknya manusia biasa'.

    Disebutkan pula dalam prakata buku itu bahwa buku itu disusun setelah 6 tahun kerja oleh ahli-ahli yang disebut sebagai dididik di universitas-universitas terkemuka di Eropah dan Amerika Serikat. Pada kenyataannya, kecuali Marcus Borg, Robert W. Funk dan John Dominic Crossan, umumnya anggota lainnya adalah teolog biasa yang tidak menonjol. Dari para ahli Perjanjian Baru di universitas-universitas terkemuka, hanya Claremont University yang ada wakilnya, sedangkan pengikut dari Emory University hanya sekali datang. Para ahli Perjanjian Baru dari universitas-universitas terkemuka seperti Yale, Harvard, Princeton, Duke, Union, Emory maupun Chicago, tidak ada yang diwakili. Para ahli Perjanjian Baru dari Eropah dan benua lain juga tidak ada yang diwakili sebelum mereka mengeluarkan kesimpulan dalam buku ‘Five Gospels’.

    Lepas dari itu sebenarnya para peserta seminar bukanlah tergolong tokoh dalam pendidikan teologi. Kecuali Crossan dan Borg yang punya pengalaman mengajar di universitas umumnya peserta seminar adalah orang-orang yang tidak banyak dikenal di kalangan pendidikan tinggi teologia. Para peserta yang hadir tidak ada yang mewakili seminari teologia sekalipun mereka mengajar di sana lebih-lebih seminari teologia papan atas, mereka bertindak sebagai pribadi-pribadi, apalagi bahkan menarik untuk dicatatat keikutsertaan peserta aktif selama 6 tahun Paul Verhoeven yang bukan seorang teolog tetapi terkenal sebagai produser dan sutradara film mistik 'Robocop' dan film porno 'Basic Instinct' dan 'Showgirls'.

    Sekalipun yang hadir pertama kali disebut berjumlah 30 orang dan dikatakan kemudian diikuti 200 orang lainnya, kenyataannya berita itu dibesar-besarkan. Faktanya yang hadir dalam pertemuan tengah tahunan itu rata-rata hanya sekitar 30 orang saja. Dalam buku 'The Five Gospels' (1993) yang ditulis setelah 8 tahun berdirinya Jesus seminar, hanya disebutkan daftar 76 orang yang terlibat. Sekalipun Funk pernah menjadi sekertaris pada 'Society of Biblical Literature' (SBL) di Amerika Serikat, Jesus Seminar tidak ada hubungan sama sekali dengan SBL.

    Karena itu, dengan melihat angka-angka peserta di atas adalah terlalu ceroboh untuk menganggap kesimpulan seminar itu sebagai mewakili dunia teologi mengingat bahwa SBL saja mempunyai anggota sejumlah 6.900 orang yang setengahnya spesialis Perjanjian Baru, dan ini belum termasuk tokoh-tokoh Alkitab di luar SBL atau yang bergabung dalam paguyuban ahli-ahli Perjanjian Baru sedunia 'Studiorum Novi Testamenti Societas'.

    Kelihatannya para ahli yang berkumpul adalah mereka yang merupakan kelompok yang belakangan ini merupakan kelompok teolog yang memang bernada sumbang akan kekristenan dan antipati terhadap konservativisme Kristen, dan sekalipun menyebar luas, ternyata setelah lebih dari 10 tahun sejak tahun 1985, Jesus Seminar dalam prosesnya juga mengalami pendewasaan pula. Ungkapan-ungkapan para peserta Seminar yang semula begitu meyakinkan bahkan radikal, dengan adanya kritik-kritik dari luar ternyata kemudian berubah melunak. Ini menunjukkan bahwa mereka berangsur-angsur mengakui juga keterbatasan mereka.

    Dari ucapan penemu 'Jesus Seminar' Robert W. Funk, kita dapat melihat bahwa memang motivasi dan tujuan seminar ini adalah untuk mencari suatu cerita fiksi baru tentang Yesus dan Injil yang berbeda dengan cerita Injil tradisional. Ia mengatakan: "Apa yang kita butuhkan adalah cerita fiksi yang baru yang membawa kita menuju kejadian sentral drama Kristen-Yahudi dan merujukkan Mesias dengan cerita baru yang mencakup hal lebih besar daripada awal sampai akhir cerita lama. Kita memerlukan cerita baru tentang Yesus, Injil yang baru, bila kamu mau menempatkan Yesus yang berbeda dalam kerangka besar cerita kepahlawanan."

    Sebenarnya hal ini tidak aneh, soalnya sejak awal dan bertahun-tahun sebelumnya kedua pendiri dan ketua Jesus Seminar yaitu Funk dan Crossan sudah mempunyai gagasan kontroversial dan provokatif, itu pula yang menyebabkan Crossan harus menanggalkan jubah kerahibannya di gereja Roma Katolik. Jadi adanya Jesus Seminar bukanlah untuk menyelidiki dan mencari kebenaran tetapi lebih untuk mencari legitimasi pandangan radikal mereka. Polemik yang 'sensasional', 'provokatif' dan 'kontroversial' dalam alam Amerika Serikat memang mudah dijual. Karena itu dengan datangnya modal dari Westar Institute dan liputan mass media yang intensif termasuk liputan majalah 'Time' ke seluruh dunia, seminar ini menjadi terkenal. Dalam seminar-seminar yang diadakan secara berpindah-pindah dari kota-ke-kota memang mass media sengaja diundang untuk meliput bahkan wawancara diberikan.

    Sebenarnya di Amerika Serikat ada banyak badan-badan yang menghibahkan dana besar bagi para teolog dan seminari teologi untuk studi kebenaran Alkitab, tetapi berita yang menguatkan alibi Yesus Sejarah tidak akan menarik mass media dan kurang laku menjadi komoditi bisnis komunikasi massa. Berita-berita yang bersifat skandal, sensasional, kontroversial, dan provokatif lebih laku di jual melalui mass media. Dalam alam sekular semacam Amerika Serikat dimana 'kotbah untuk bertobat dan hukuman kekal' sangat dimusuhi dapat dimengerti kalau seminar yang menyimpulkan bahwa Yesus tidak pernah mengatakan dan menyuruh manusia untuk bertobat tentu akan laku keras.

    Kelemahan besar dari metoda penyelidikan Jesus Seminar adalah hanya terkonsentrasi pada kitab-kitab Injil, inipun dengan maksud untuk dibandingkan dengan kitab-kitab Apokrifa yang dianggap lebih berotoritas, sedangkan data-data Yesus dalam kitab-kitab para Rasul dan tulisan para Rasul diabaikan karena dianggap rekayasa gereja. Rasul Paulus dianggap sebagai tidak mempunyai minat pada Yesus, gaya cerita dalam Kitab-Kitab Injil dan Kisah Para Rasul hanya dianggap sebagai kemasan mitos yang didasarkan pada iman para murid Yesus. Demikian juga semua ucapan yang dianggap sudah berkembang harus dihapus. Kanon yang sudah menjadi dasar ajaran iman gereja selama duapuluh abad tidak mendapat tempat selayaknya dalam seminar karena isinya dianggap hanya mengungkapkan Yesus Iman dan bukan Yesus Sejarah. Sebaliknya, Injil Thomas diberi tempat istimewa sebagai 'Injil ke-Lima'.

    Suatu usaha menarik dari sekelompok kecil teolog yang begitu yakin bahwa pandangan mereka mengenai sejarah dan sosiologi Palestina abad pertama dianggap tanpa salah dan ingin menghapus keyakinan sejarah gereja yang sudah melalui dua milenium yang memproklamasikan bahwa 'Yesus itu Tuhan.' Raymod E. Brown seorang tokoh Katolik Roma yang adalah mantan profesor studi Alkitab di ‘Union Theological Seminary’, New York City, dan anggota ‘Komisi Alkitab Pontificiat Roma’ dalam bukunya ‘New Testament Introduction’ berkenaan dengan tokoh-tokoh dibalik Jesus Seminar, mengatakan: “When we read the historical Jesus written by these scholars, we actually got nothing about Jesus. They only show who they are... they are very subjective and lack of the historical facts."

    Salam kasih dari Herlianto.


    Based On : http://www.yabina.org/artikel/A1_27.htm

    Posted at 9/26/2006 4:01:06 am by KaLvHiN
    Make a comment  

    Previous Page Next Page