Nyanyian Jiwa





   

<< January 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31



-- Link - Link --

  • Lirik Barat
  • Dian Sastrowardoyo

  • Wikipedia Indonesia

  • Lirik Lagu Nasional

  • Sekilas Tentang 100 Tokoh Dunia


  • --Cuaca--
    Click for Jogyakarta, Indonesia Forecast Click for Jakarta Observatory, Indonesia Forecast Click for Sorong, Indonesia Forecast Click for Kota Jayapura, Indonesia Forecast -- Statistik-- Statistik User Online
    1
    Page Views
    1991107
    From
    1.1 tazza:3128 (squid/2.6.STABLE5) 61.8.74.186
    Indonesia
    Browser
    Mozilla/4.0 (compatible; MSIE 6.0; Windows NT 5.1)
    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    rss feed

    Tuesday, September 26, 2006
    INJIL GNOSTIK

    Ada beberapa pertanyaan yang diajukan sekitar artikel dan renungan yang membahas Injil Gnostik. Untuk memperjelas, berikut pertanyaan dan jawabannya:

    (Tanya-1) Apakah tidak mungkin bahwa penemuan-penemuan naskah kuno Injil Gnostik merupakan kehendak Allah yang mau mengungkapkan kebenaran-Nya?

    (Jawab-1) Alkitab kanonik sudah cukup mengungkapkan kehendak Allah, karena itu adalah mustahil kalau Injil-Injil Gnostik yang justru merupakan karya kelompok gnostik kristen yang menyerang kepercayaan kanonik dan memutar balikkan berita Injil itu bisa disebut kehendak Allah untuk mengungkapkan kebenaran. Dibalik itu, kehadiran Injil Gnostik sekalipun menarik sebagian orang, tidak diterima umumnya jemaat mula-mula dan dianggap sebagai buku apokrifa atau psedopigrafa saja.

    (T-2) Saya pernah mendengar bahwa Injil Thomas adalah Injil yang asli karena memuat ucapan-ucapan Yesus yang lebih pendek dan ditulis pada abad pertama (sedini tahun 40-50) sebelum Injil-Injil Kanonik (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) ditulis, jadi karenanya patut disebut sebagai Injil kelima.

    (J2) Injil Thomas tidak ditulis pada abad pertama tetapi pada abad kedua atau ketiga, sebab, pertama kalau ditulis pada abad pertama, karena isinya mengajarkan ajaran gnostik yang bertentangan dengan Injil Kanonik, tentunya dalam Injil-Injil Kanonik disebutkan adanya Injil Thomas yang disebut palsu. Kedua, aliran gnostik berkembang pada abad-2/3 sehingga Injil Thomas tentunya ditulis pada abad-abad ini. Injil Thomas jelas mengajarkan doktrin Gnostik seperti yang bisa dibaca pada a.l. ayat-ayat berikut:

    (Logion-1) Inilah ucapan-ucapan rahasia yang diucapkan oleh Yesus yang dicatat oleh Didimus Yudas Thomas. Dan ia berkata: “Barangsiapa menemukan rahasia ucapan-ucapan ini tidak akan mengalami kematian;

    (Logion-77) Aku adalah cahaya yang menyinari segala sesuatunya. Saya ada dimana-mana. Dari diriku semua akan nyata, dan kepadaku semua akan kembali. Angkatlah batu dan kamu akan menemukan aku disitu;

    (Logion-108) Barangsiapa minum dari mulutku akan menjadi seperti Aku. Saya sendiri akan menjadi orang itu, dan hal-hal tersembunyi akan dinyatakan kepadanya;

    (Logion-114) Simon Petrus berkata kepada mereka, “Biarkan Maria meninggalkan kita, karena perempuan tidak layak memperoleh hidup.” Yesus berkata: “Lihatlah, aku akan membimbingnya untuk menjadi laki-laki, agar ia juga bisa menjadi roh yang hidup seperti kamu laki-laki. Karena semua perempuan yang menjadikan dirinya sendiri laki-laki akan masuk ke dalam kerajaan surga.”

    Ucapan rahasia yang digambarkan tersalur melalui bibir yang beradu (ciuman) berbicara mengenai gnosis (pengetahuan rahasia) yang menyelematkan, gambaran mengenai esensi semesta yang adalah cahaya merupakan konsep dasar keberadaan monisme gnostik, dan anggapan bahwa perempuan lebih rendah dari laki-laki juga merupakan ajaran gnostik. Jadi Injil Thomas adalah Injil Gnostik, dan memasukkannya sebagai Injil ke-5 oleh Jesus Seminar pada tahun 1993 (Buku The Five Gospels diterbitkan pada tahun ini) tidak pernah diterima kalangan luas kristen.

    (T-3) Tetapi, bagaimana menjelaskan adanya kenyataan bahwa setengah dari isi Injil Thomas ada dalam Injil-Injil Kanonik? Bukankah ini menunjukkan keaslian Injil Thomas dan bahwa ia lebih tua atau setidaknya setua Injil Kanonik karena ucapan-ucapan Yesus itu lebih pendek?

    (J-3) Adanya ayat-ayat yang mirip jelas mungkin karena Injil-Injil Kanonik sudah ada untuk dikutip. Adanya ucapan-ucapan Yesus dalam Injil Kanonik yang ada di Injil Thomas dan lebih pendek dan tidak ada narasinya menunjukkan bahwa memang ajaran gnostik disalurkan melalui ucapan gnosis (pengetahuan rahasia) sehingga ia kurang memberi nilai pada cerita narasi. Injil Gnostik mengutip Injil Kanonik dan memetik sarinya yang menunjang ajaran gnostik-kristen (pencampuran ajaran gnostik dan kristen).

    (T-4) Uskup Irenius menyebut Injil Thomas sebagai Injil sesat pada tahun 180. Bukankah ini menunjukkan bahwa sejarah ditulis oleh yang menang dan yang kalah akan dibungkam?

    (J-4) Pandangan bahwa ‘sejarah ditulis oleh yang menang’ jelas keliru karena fakta menunjukkan bahwa banyak terjadi dimana yang kalahlah yang menulis sejarah. Inskripsi Mesir kuno tidak pernah menyebut kegagalan Mesir melawan Musa dan umat Israel yang dibawanya, demikian juga Jepang menulis sejarah perang dunia ke-2 yang berbeda dengan kenyataan sejarah sehingga diprotes oleh Cina dan Korea. Yang benar, ‘sejarah mengungkapkan apa yang benar menurut penulisnya.’ Sekalipun Irenius adalah seorang uskup tidak berarti menentukan apa yang diajarkan gerejalah yang menang. Injil-Injil Kanonik dan surat-surat yang ada dalam Alkitab Perjanjian Baru sudah dipercaya oleh mereka yang tersebar dari Roma sampai Mesopotamia dan Mesir dan dipercaya oleh banyak orang diluar struktur gereja Katolik Lama dimana para uskup memerintah, sebelum akhirnya diakui sebagai kanon. Fakta justru menunjukkan bahwa ’11 Injil Apokrif’ yang dipercayai yang menang (gereja Katolik Roma menyebutnya Deuterokanonika) justru tidak diterima oleh gereja-gereja yang lebih kecil di luar gereja RK.

    (T-5) Mengapa Injil Gnostik kita tolak, bukankah yang menulis adalah murid-murid Yesus juga?

    (J-5) Injil-Injil Gnostik tidak ditulis oleh murid-murid Yesus tetapi ditulis oleh para pengikut aliran gnostik-kristen yang menggunakan nama-nama para murid Yesus untuk memperkuat identitas mereka. Injil-Injil Gnostik ditulis pada abad ke-2/3 sesudah para murid Yesus meninggal dunia. Ini berbeda dengan Injil-Injil Kanonik dan Surat-Surat para Rasul yang ditulis dalam kurun waktu abad ke-1 antara tahun 50 s/d 90. Yang menarik, berbeda dengan isi Injil-Injil Kanonik dimana Yesuslah yang ditinggikan sebagai Tuhan dan Juruselamat, dalam Injil Gnostik para penulisnya menganggap diri merekalah yang tahu rahasia gnostik itu dan yang lainnya tidak, bahkan dalam Injil Yudas ditulis bahwa Yudaslah juruselamat bagi Yesus.

    (T-6) Menurut Injil Yudas, bukankah masuk akal bahwa Yudas dipilih sebagai tumbal agar Yesus bisa disalibkan, mengapa Yudas harus disalahkan? Bukankah kalau tidak ada Yudas Yesus tidak disalibkan jadi tidak menebus manusia?

    (J-6) Ada atau tidaknya Yudas, semangat anti Yesus sudah memuncak dikalangan umat Yahudi dan para Imam yang menolaknya. Yesus adalah orang populer yang sudah dikenal luas raut wajahnya karena melayani selama 3 tahun, jadi ada atau tidaknya orang bernama Yudas, Yesus akan mudah ditangkap. Ditengah kondisi demikianlah Yudas mengail di air keruh demi memperoleh uang dengan cara ia ingin menjadi pialang yang menunjukkan Yesus.


    Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org

    Posted at 9/26/2006 4:51:52 am by KaLvHiN
    Make a comment  

    YESUS DIGUGAT

    Bulan Mei 2006 bukan saja diisi dengan perayaan/demo Hari Buruh Sedunia, tetapi bulan ini tercatat diisi dengan dua peristiwa penting yang ‘Menggugat Yesus,’ yaitu: (1) Terbitnya majalah National Geographic, May 2006, yang berisi artikel utama ‘Judas Gospel’ yang intinya ingin membalik kesan ‘Yudas sebagai penghianat’ menjadi ‘Yudas sebagai pahlawan yang menjalankan kehendak Yesus’ (lihat Renungan dalam milis ini); dan (2) Akan dirilisnya di sinema film ‘The Da Vinci Code’ yang didalamnya diceritakan mengenai Yesus yang baru diangkat menjadi Tuhan di Konsili Nicea tahun 325 dan Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan keturunannya menyebar ke Perancis dan Inggeris. Beberapa pertanyaan sekitar ‘Menggugat Yesus’ didiskusikan di bawah ini:

    (Tanya-1)
    Dalam artikel ‘Teka-Teki Seputar Salib’ disebutkan bahwa kalangan Islam menyebut bahwa Yesus tidak disalib melainkan digantikan orang yang serupa dengan Dia, ayatnya ada di mana ya? Apakah Ada ayat dalam Al-Quran yang menyebutkan bahwa Yesus disalib sesuai berita Injil?

    (Jawab-1)
    Cerita mengenai Yesus yang tidak disalib dan digantikan orang lain ada dalam Quran Sura 4 An Nissa 157, 158. Ayat yang menceritakan Yesus mati mirip dengan berita Injil dapat ditemui di Quran Sura 19 Maryam 33,34, dimana disebutkan bahwa Yesus yang a.l. berbunyi: “Pada hari aku diwafatkan dan dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” Ayat terakhir ini diterima dan menjadi pendapat beberapa penafsir Islam, namun banyak yang menolaknya dan ditafsirkan dengan keterangan waktu bahwa kebangkitan itu akan terjadi di akhir zaman, jadi bersifat future-tense dan bukan menceritakan mengenai kebangkitan Yesus seperti di-klaim dalam Injil Kristen.


    (T-2) Bagaimana pula dengan Injil Barnabas? Bagaimana kitab ini berbicara mengenai kematian Yesus?
    (J2) Injil Barnabas lain lagi, disitu disebutkan bahwa Yesus tidak mati disalib tetapi digantikan oleh Yudas yang disalibkan ganti Yesus. Injil Barnabas adalah sebuah kitab yang disebut Injil yang mencoba menyelaraskan semua kitab Injil Kanonik (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) menjadi satu ditambah beberapa tradisi Yahudi, Kristen dan Islam menjadi buku dalam 222 fasal. Mencolok adanya isi ‘Injil’ ini yang mempromosikan ajaran Islam dan mengatakan bahwa seakan-akan Yesus dilahirkan dari keturunan Ismail dan dikorbankan Abraham (Al-Quran sebenarnya tidak mencatat siapa yang dikorbankan oleh Ibrahim), dan Yesus tidak disalib melainkan digantikan oleh Yudas (Al-Quran mencatat Yesus digantikan orang lain yang diserupakan dengan Yesus). Isinya mengandung ajaran Islam, misalnya tentang lima waktu sembahyang, Allah dengan sifat-sifatnya, ada syahadat Islam yang mencantumkan nama Muhammad, dan dihadapan Sanhedrin Yesus menyangkal bahwa Ia anak Allah dan pengakuan Yesus sebagai anak Allah adalah dosa besar, bahkan dibanyak bagian disebutkan bahwa nabi Muhammad sebagai Messias yang akan datang, Yesus menyatakan diri sebagai pengawal Messias dan Yohanes Pembaptis tidak disebut-sebut (jadi seakan-akan Yesuslah Yohanes Pembaptis yang meramalkan kedatangan Messias Muhammad). Kitab ini ditulis pada akhir abad pertengahan (abad-15-16) oleh orang Katolik yang masuk Islam dan berusaha menyesuaikan Injil Kristen dengan ajaran Islam. Beberapa penulis Islam percaya bahwa Injil ini palsu (hoax) namun masih banyak yang mempercayainya sebagai cerita otentik.


    (T-3) Apakah aliran Ahmadyah itu termasuk Islam? Kalau benar mengapa dalam hal penyaliban Yesus mereka berbeda dengan kepercayaan Islam mainstream?(J-3) Aliran Ahmadyah mengaku bahwa mereka beragama Islam, hanya bedanya, mereka menganggap bahwa nabi Muhammad bukan rasul terakhir melainkan Mirza Ghulam Ahmad. Pelopor aliran Ahmadyah ini berasal dari Pakistan dan mereka mempercayai legenda bahwa Yesus tidak mati disalib melainkan pingsan dan kemudian pergi ke India, mati dan dikuburkan di Srinagar, Kashmir. Legenda ini memang berkembang di Kashmir yang berbatasan dengan Pakistan, legenda mana didasarkan buku Nocolas Notovitch, seorang wartawan perang Rusia yang mengaku pernah berkunjung ke biara Himis di dekat Ladakh, ibukota Kashmir, dan memperoleh informasi bahwa Yesus pernah ke India. Buku ini kemudian dianggap berotoritas disamping Al-Quran dan tradisi Mirza Gulam Ahmad dan dijadikan ajaran Ahmadyah. Buku Nicolas Notovitch sudah dibuktikan bohong (hoax) setelah para ahli menyelidiki langsung ke biara itu dan berbicara dengan pemimpin dan biarawan disitu. Tidak pernah ada orang Rusia yang mengunjungi biara itu dalam 10 tahun terakhir dan di biara itu tidak ada cerita mengenai Issa yang datang ke India. Yang menarik dialami dalam fenomena ini adalah bahwa ‘kebohongan’ sekalipun sudah diakui oleh penulisnya (dalam hal diatas Notovitch akhirnya mengakui tulisannya fiktif), tetapi karena memenuhi harapan banyak orang akan gosip dan akan terus diberitakan dan dipercayai sebagai benar.


    (T-4) Bagaimana pula dengan Injil Yudas yang ramai dibicarkan akhir-akhir ini?
    (J-4) Injil Yudas dari penggalian pustaka Gnostik merupakan produk Gnostik, suatu aliran yang sinkretis antara ajaran Kristen dengan kepercayaan Gnostik. Esensi ajaran Gnostik adalah:

    “dunia adalah tempat yang jahat diciptakan oleh Tuhan yang jahat (Yahweh), dan yang berbalikan dari Tuhan yang benar dan Esa. Pengikut Gnostik Kristen menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Kristus dikirim untuk mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka para pengikut Gnostik agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar.” (Graham Stanton, Gospel Truth?, hlm.8)

    Bagi Gnostik, kematian Yesus menebus umat manusia tidak ada artinya sama sekali karena manusia bisa menyelamatkan diri sendiri melalui aktualisasi percikan api ilahi dalam dirinya sendiri terlebih dengan adanya peringatan yang diberikan Yesus yang mereka percayai sebagai pembimbing mistik/kebatinan. Dalam Injil Yudas, Yudas tidak digambarkan negatif sebagai pengkhianat melainkan sebagai pahlawan yang mendapat tugas dari Yesus untuk menjalankan misi menyerahkan Yesus. (Untuk uraian lebih lanjut bacalah ‘Injil Yudas’ dalam Renungan di www.yabina.org).


    (T-5) Mengenai buku The Da Vinci Code, penulisnya sendiri menyebut cerita itu fiksi (Bahkan diakhir cerita disebutkan bahwa Ia bermimpi), tetapi mengapa buku itu laris manis dan bahkan sekarang di’film’kan ? Tepatkan kita ikut menyebarkan buku dan film itu agar umat Kristen tahu atau sebaiknyakah kita melarang orang melihat buku dan film itu ?
    (J-5) Bagi mereka yang mencari kebenaran, mereka tidak akan terpengaruh fiksi-fiksi yang sudah ketahuan motivasi penulisnya yang mencari uang dan popularitas dengan menyebarkan gosip dan skandal yang dikemas dalam bentuk thriller dan ditective dengan pemutar-balikkan fakta kebenaran yang memang dicari oleh mereka yang tidak mencari kebenaran melainkan senang dengan kebohongan. Kenyataan dunia memang begitu, yaitu orang lebih senang berita (sekalipun bohong) yang sesuai dengan keinginan hatinya dan orang tidak suka berita (sekalipun benar) tentang kebenaran yang menyebut manusia berdosa dan membutuhkan tangan penebusan Yesus yang disalib ganti kita. Melarang orang membaca buku dan menonton film ‘The Da Vinci Code’ sama halnya dengan mendorong orang ingin tahu dan membaca dan melihat film itu, sebaliknya mendorong orang menonton juga membuat buku dan film itu laku dan tidak bijak karena bagi mereka yang masih ke kanak-kanakan imannya, mereka akan dengan mudah terpengaruh apa yang dilihatnya yang dikemas secara profesional dan artistik selama 2 jam di layar lebar.


    (T-6) Mengapa umat Kristen tidak marah terhadap buku maupun film (misalnya The Da Vinci Code) yang berbicara sumbang mengenai kekristenan?
    (J-6) Umat Kristen mengikuti teladan Yesus untuk tidak melawan pedang dengan pedang. Ketika ada muridnya yang ingin membela Yesus dari penangkapan para tentara Romawi, Yesus menghalangi mereka. Yesus pernah mengajarkan agar ‘kalau dipukul pipi kiri berikan pipi yang kanan juga.’ Pengujatan tidak akan menjadi baik karena dihujat balik, tetapi kasih, doa-doa dan pimpinan Roh Kudus (dan bukan kekuatan manusiawi) membuka kemungkinan untuk mengubah si penggugat untuk menyadari perilaku mereka. Namun, Yesus juga tidak menyuruh kita berdiam diri dengan meditasi pasif, melainkan agar kita bersaksi dan memberitakan Injil kebenaran.


    Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org

    Posted at 9/26/2006 4:34:09 am by KaLvHiN
    Make a comment  

    Injil Yudas

    Kitab Injil Yudas adalah sebuah injil gnostik, yang sebagian dari teksnya berhasil direkonstruksikan pada 2006. Kitab ini mempunyai fokus yang sangat positif tentang pribadi Yudas Iskariot, yang menurut kitab-kitab Injil ortodoks mengkhianati Yesus Kristus kepada pemerintah Romawi yang kemudian menyalibkannya. Injil Yudas menggambarkan hal ini sebagai ketaatan kepada perintah Yesus, dan bukan sebagai pengkhianatan. Namun, Injil ini tidak secara khusus "melawan" Kekristenan, seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang percaya akan teks ini, melainkan konon "menambahkan" penjelasan kepada Alkitab Kristen. Di masa kini tidak ada bukti historis lainnya yang cocok dengan injil ini. Kitab ini pun tidak banyak mengubah bukti-bukti yang didukung oleh teks-teks asli yang dikanonisasikan sebagai Alkitab Kristen.

    Latar belakang
    Ada lebih kurang 50 karya yang menyebut dirinya sebagai injil dari gereja perdana, tetapi hanya informasi lebih jauh untuk 20 kitab dari semua injil ini, dan empat di antaranya adalah injil-injil kanonik yang kita kenal sebagai Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Injil Yudas adalah satu di antara ke-16 injil lainnya yang informasinya telah disimpan secara historis dalam tulisan-tulisan gereja perdana.

    Satu-satunya manuskrip yang mencakup teks Injil ini muncul pada tahun 1970-an, setelah 1700 tahun berada di padang pasir Mesir dalam bentuk sebuah manuskrip papirus yang dijilid dengan kulit. Papirus yang ditulisi Injil ini sudah terpecah-pecah, karena beberapa bagiannya hilang, dalam hal tertentu kata-katanya tersebar-sebar, dan dalam kasus lainnya beberapa barisan tulisannya hilang. Ini kemungkinan besar disebabkan oleh kerusakan yang disebabkan oleh bahan-bahannya dan zaman. Menurut Rodolphe Kasser, codex ini aslinya terdiri atas 62 halaman; tetapi ketika tiba di pasar pada 1999, hanya 26 halaman yang tersisa, sebagian karena beberapa halaman telah diangkat dan dijual. Dari waktu ke waktu, halaman-halaman yang hilang ini muncul dan berhasil diindetifikasikan.

    Satu-satunya manuskrip yang diketahui dari Injil Yudas ini ditetapkan waktunya dengan teknik radiokarbon antara tahun 220 dan 340 oleh Timothy Jull, seorang ahli penetapan tanggal dengan radiokarbon di pusat fisika Universitas Arizona. Ini berarti sekitar 200-300 tahun setelah tanggal kebangkitan Yesus menurut Alkitab. Akibatnya, sejumlah orang mempertanyakan ketepatan historis karya ini. Namun demikian, sebagian orang dengan akurat menunjukkan bahwa kita tidak tahu apakah manuskrip Injil Yudas yang dikenal ini merupakan salinan pertamanya. Selain itu, diketahui pula bahwa sarjana Gereja Kristen perdana (dan santo Katolik), Ireneus, merujuk kepada "Injil Yudas" seawal tahun 180. Tidak diketahui dengan pasti berapa lama sebelum waktu itu Injil Yudas telah ditulis.

    Hampir dapat dipastikan bahwa pengarang Injil Yudas bukanlah Yudas Iskariot. Namun demikian, siapa pengarang Injil Yohanes dan banyak kitab Perjanjian Baru Lainnya pun telah dipertanyakan sejumlah pakar pula.


    Isi
    Isi Injil Yudas dirujuk oleh Ireneus, seorang Uskup perdana dari Lyons, dalam Adversus Haereses (Melawan Ajaran Sesat), yang ditulis pada sekitar 180, yang mengatakan bahwa sebagian orang

    menyatakan bahwa Kain memperoleh keberadaannya dari Kuasa di atas dan mengakui bahwa Esau, Korah, orang-orang Sodom, serta orang-orang sejenis itu, terkait dengan mereka. Mereka menyatakan bahwa Yudas si pengkhianat sepenuhnya terhubung dengan semua ini, dan bahwa ia sendiri, yang mengetahui kebenaran ini lebih daripada yang lainnya, mencapai misteri pengkhianatan itu; dan olehnya segala sesuatu, baik di bumi maupun di dalam surga, dilemparkan ke dalam kekacauan. Mereka menghasilkan sebuah sejarah fiktif seperti ini yang mereka sebut sebagai "Injil Yudas". [1]
    Ini adalah rujukan kepada orang-orang Keni, sebuah sekte gnostisisme yang secara khusus menyembah Kain sebagai pahlawan. Orang Keni, seperti sebagian besar kelompok gnostik, adalah kelompok setengah malteis yang percaya bahwa Allah Perjanjian Lama — yaitu Yahweh — jahat, dan agak berbeda serta merupakan makhluk yang jauh lebih rendah daripada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi, dan bertanggung jawab atas pengutusan Yesus. Kelompok-kelompok gnostik seperti itu juga menyembah semua tokoh Alkitab yang telah berusaha untuk menemukan pengetahuan atau menantang kewibawaan Yahweh, sementara menganggap jahat semua yang dianggap sebagai pahlawan dalam penafsiran yang lebih ortodoks.



    Based On : http://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Yudas

    Posted at 9/26/2006 4:21:06 am by KaLvHiN
    Make a comment  

    Mempersoalkan YESUS SEJARAH

    Oleh : Herlianto

    YESUS. Siapakah dia ini sehingga namanya ramai dibicarakan di seluruh dunia dan sejarah dihitung waktunya secara populer dan dikaitkan dengan namanya dan kelahiran semua pemimpin spiritual dan sekular di dunia dikaitkan tahunnya dengan tahun kelahiran Yesus? (BC = before christ & AD = anno domini). Kebangkitan Yesus sebagai juruselamat manusia juga menghasilkan lambang salib yang digunakan sebagai lambang bendera Swiss dan kemudian oleh Henri Dunant digunakan sebagai lambang palang merah yang bila ada yang datang dengan tanda ini berarti pengharapan hidup dan keselamatan datang? Suatu kebetulan atau ada unsur kebenaran sejarah dibaliknya? Soalnya, negara-negara Arab syak terhadap tanda ini dan menggantinya dengan tanda Bulan Sabit (Red Crescent).

    Namun, sepanjang sejarah nama itu juga banyak dipersoalkan, ditolak bahkan dicerca banyak orang, tetapi sekaligus nama itu tetap disebut, dipercaya dan dimuliakan banyak orang pula.

    MASA HIDUP YESUS

    Sejak kelahirannyapun Yesus tidak dianggap istimewa oleh lingkungannya, orang Farisi pernah menyebutnya pesuruh 'Beelzebul' penghulu setan (Mat.12:24) dan ketika akan disalib ia di olok-olok dan dihina sebagai 'raja' dan direndahkan lebih rendah dari seorang pembunuh bernama 'Barabas' (Mat.27:21). Di kalangan orang kebanyakan, Yesus disebut sebagai 'Yohanes Pembaptis, Elia atau Yeremia' (Mar.8:27), tetapi banyak juga yang menyebutnya 'Tuhan'.

    Keragu-raguan akan siapa Yesus sebenarnya juga terjadi di kalangan murid-murid Yesus. Thomas 'meragukan kebangkitannya' (Yoh.20:25), dan Yudaslah yang menyerahkan Yesus untuk di salib. Tetapi, menanggapi pertanyaan Yesus yang berbunyi "siapakah Aku ini?", dengan yakin Petrus yang pernah menyangkali Yesus sampai tiga kali mengatakan "Engkau adalah Messias, Anak Allah yang hidup." (Mat.16:15-16). Para Rasul lainnya juga berlandaskan ajaran mereka pada Yesus sebagai Kristus dan Tuhan, bahkan rasul Paulus menjadikan peristiwa kebangkitan Yesus sebagai fondasi iman Kristen:

    "Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih tinggal dalam dosamu." (Ikor.15:17).

    SEPANJANG SEJARAH GEREJA

    "Itu kan kata Alkitab" kata sebagian orang, dan gema komentar ini terus timbul sepanjang sejarah gereja di tengah mayoritas umat Kristen yang tetap mengimani bahwa Yesus adalah Tuhan.

    Perkembangan Rasionalisme yang mempengaruhi kekristenan menghasilkan keragu-raguan akan nilai 'Yesus Sejarah' yang disebut Alkitab, bahkan kemudian sejalan dengan tumbuhnya 'Kritik Historis' atas Alkitab oleh Teologia Liberal sejak abad ke XVIII, pada abad ke-XIX dikenal dengan 'The Quest' (penyelidikan) ramailah dipersoalkan soal 'Yesus Sejarah' terutama oleh David Friedrich Strauss, Albert Schweitzer dan Joseh Ernst Renan, ini memuncak dalam diri Rudolf Bultmann yang dikenal dengan 'demitologi'sasinya itu pada medio abad ke-XX.

    Strauss mempersoalkan mujizat Yesus yang dikatakannya tidak benar-benar terjadi dan Reimarus menyebutnya sebagai mitos. Albert Ritschl menjadikan etika Yesus sebagai jantung keristenan, Adolf Harnack menyebut Yesus sebagai manusia pembawa damai bagi orang lain, Albert Schweitzer menolak liberalisme lama yang mengabaikan unsur eskatologis Yesus tetapi ia juga menolak mujizat. Faham anti-supranatural ini memuncak dalam diri Rudolf Bultmann yang memisahkan Yesus Iman dan Yesus Sejarah yang dikenal dengan 'demitologisasi'nya itu.

    Pada umumnya kritik-kritik itu berkisar pada penolakan akan hal-hal yang bersifat supra-natural disekeliling sejarah Yesus terutama soal kelahirannya dari anak dara, mujizat yang dilakukan dan kebangkitannya, sehingga ketuhanan Yesus ditolak dan Yesus dipaksakan untuk sekedar menjadi manusia biasa yang mengalami pergumulan sosial dan politik di Palestina di abad pertama.

    Dirintis Ernst Kasemann murid Bultmann dari Jerman, dimulailah 'The New Quest' (penyelidikan baru) yang memuncak dalam apa yang disebut 'Jesus Seminar' di Amerika Serikat dengan tokoh a.l. Robert Funk dan John Dominic Crossan. Ini disusul dengan 'The Third Quest' (penyelidikan ketiga) dengan tokoh-tokohnya a.l. Marcus Borg dan E.P. Sanders. Banyak teolog-teolog demikian menyebut 'Yesus sebagai pemimpin dan pemberontak Yahudi yang gagal'.

    Perbedaan penting masa 'the quest' dengan 'the new & third quests' adalah bahwa pada penyelidikan pertama kitab Injil diterima sebagai benar tetapi aspek mujizatnya ditolak, sedangkan dalam penyelidikan-penyelidikan berikutnya justru kebenaran kitab Injil itulah yang ditolak dan dinilai dari pemikiran rasionalisme, kitab apokrifa atau rekaan manusia modern. Kritik-kritik demikian berjalan terus dan sejalan dengan era informasi sejak tahun 1960-an, mass mediapun termasuk Film, TV, Radio, Majalah, Surat Kabar& Internet dijadikan sarana untuk menyebar-luaskan keragu-raguan akan Yesus Sejarah.

    YESUS DALAM ERA INFORMASI

    Sejak tahun 1960-an bermunculan buku-buku dan film-film yang mencoba mendiskreditkan pribadi Yesus, dan ini memuncak pada pertengahan tahun 1980-an dengan aktipnya Jesus Seminar di Amerika Serikat yang mempopulerkan keragu-raguannya melalui mass media dengan intensip.

    Di tahun 1960-an terbit sebuah buku yang kemudian difilmkan di tahun 1970-an dengan judul 'Jesus Christ Superstar' karya Tim Rice dan Andrew Lord Weber yang menjadikan Yudas Iskariot sebagai pahlawan dan Yesus digambarkan sebagai seorang yang frustrasi dan mati dalam kegagalan. Di tahun 1980-an terbit pula karya Nikos Kazantzakis yang difilmkan dengan judul 'The Last Temptation of Christ' dimana disamping skandal Yesus dengan Maria Magdalena yang dipertunjukkan disitu dan usaha Yesus yang ingin melepaskan diri dari 'godaan terakhir' kepuasan seksualnya di kayu salib, Yesus mengucapkan::

    "Aku seorang penipu, aku seorang munafik, aku takut akan segala sesuatu ... Lucifer ada di dalam diriku."

    Memang Martin Scorsese yang menyutradarai film tersebut pada awal film menyatakan bahwa 'Film ini tidak didasarkan kitab-kitab Injil tetapi cerita fiksi tentang pertentangan rohani yang kekal,' namun film itu tidak terhindarkan telah menjadi film yang meng-olok-olok Yesus dan kekristenan. Tragisnya beberapa pendeta termasuk yang ada di Indonesia ikut mempromosikan film tersebut.

    Puncak dari promosi perendahan Yesus itu terjadi ketika pada tahun 1985 ada sekelompok teolog Amerika Serikat merintis apa yang disebut sebagai "Jesus Seminar". Ini disambut mass media ketika hasil seminar itu dibukukan pada tahun 1993. Midwest Today, sebuah majalah dalam edisi Maret 1994 mengangkat masalah ini dengan judul 'Debate Rages Over the Jesus Seminar' dengan sub-judul berbunyi:

    "Ketika 77 ahli Alkitab menyebut bahwa 80% dari yang dianggap ucapan Yesus dalam Alkitab sebenarnya tidak diucapkan Yesus, kepanikan menyebar."

    Majalah Time dalam edisi Paskahnya (8 April, 1996) memperkenalkan soal Jesus Seminar ini secara internasional dengan judul 'The Gospel Truth' dengan sub-judulnya:

    "Yesus Seminar yang provokatif mengemukakan bahwa tidak banyak bagian Perjanjian Baru dapat dipercaya. Bila demikian, apa yang dipercaya orang Kristen?"

    Film mutakhir yang sedang dipersiapkan oleh Paul Verhoeven (peserta Jesus Seminar dan sutradara film Basic Instinct, Showgirls dan Robocop) dan Sharon Stone (pemain film Basic Instinct) adalah tentang Yesus dalam kemanusiaannya yang penuh yang berpacaran dengan Maria Magdalena.

    Masalah studi 'Yesus Sejarah' yang semula merupakan perdebatan sekelompok teolog, dalam era informasi yang dipacu oleh pemuatan di surat kabar, majalah dan TV, dan buku-buku telah mencuat menjadi debat terbuka yang cukup mendatangkan silang-pendapat yang kontroversial lebih-lebih dengan berita-berita provokatif seperti di atas, apalagi dengan terbitnya buku-buku 'pop-Yesus Sejarah' seperti karya John Shelby Spong yang menyebut Maria diperkosa dan melahirkan Yesus, Barbara Thiering menyebut 'Yesus menikah dengan Maria Magdalena, bercerai, kawin lagi dengan Lydia dan kemudian mempunyai tiga anak' sedang Crossan mengatakan bahwa 'Yesus mati disalib dan mayatnya dimakan anjing', sedang Michael Baigent menyebut Yesus tidak mati di salib kemudian lari dan menetap di Perancis Selatan, dan adapula yang menyebutnya lari ke Kashmir.

    Di internet sekitar 400.000 bahan dibawah judul 'Jesus Seminar' bisa ditelusuri dan di Indonesia di toko-toko buku asing yang sekarang mulai beroperasi di mal-mal di kota-kota besar di Indonesia, dijual buku-buku mengenai 'Yesus Sejarah' terbitan luar negeri seperti antara lain tulisan Jesus Seminar, John Dominic Crossan, dan Barbara Thiering yang sekalipun tidak bergabung dengan Jesus Seminar tetapi mempunyai misi serupa.

    JESUS SEMINAR

    'Jesus Seminar' diselenggarakan atas sponsor Westar Institute di Amerika Serikat dengan maksud memperbaharui penyelidikan Yesus Sejarah tepatnya 'ucapan-ucapan Yesus yang otentik.' Laporan lengkap penyelidikan ini dibukukan dalam buku berjudul 'The Search for the Authentic Words of Jesus, The Five Gospels, What Did Jesus Really Say?' (1993). Pada bagian awal halaman v buku itu kita dapat melihat kemana arah nafas seminar tersebut:

    "Laporan ini dipersembahkan kepada Galileo Galilei yang mengubah pandangan kita mengenai surga selamanya. Thomas Jefferson yang menggunakan gunting dan memotong-motong Kitab Injil. David Friedrich Strauss yang mempelopori penyelidikan mengenai Yesus Sejarah."

    Seminar ini diketuai Robert W Funk, ahli Perjanjian Baru profesor pada Montana University, dan John Dominic Crossan, rahib Roma Katolik Irlandia yang terpaksa melepaskan kerahibannya karena pandangannya yang kontroversial atas Alkitab dan profesor pada De Paul University, Chicago di Amerika Serikat. Disebutkan dalam prakata buku itu bahwa buku itu disusun setelah 6 tahun kerja oleh ahli-ahli yang disebut dididik di universitas-universitas terkemuka di Eropah dan Amerika Serikat. Pertemuan pertama pada tahun 1985 diikuti 30 peserta dan dikatakan bahwa 200 orang lainnya kemudian ikut bergabung. Pertemuan diadakan dua kali setahun untuk mendiskusikan satu-persatu ucapan-ucapan Yesus yang ada dalam Alkitab.

    Buku itu selain berisi hasil seminar juga memuat terjemahan kitab Injil yang disebut sebagai 'The Five Gospels' dengan memasukkan 'Injil Thomas' sebagai Injil ke lima. Dan karena para pengikut seminar mempercayai teori Injil Markus sebagai kitab Injil tertua, maka Injil Markus diletakkan di depan kemudian disusul Injil-Injil Matius, Lukas dan Yohanes dan baru Injil Thomas. Terjemahan ini disebut sebagai 'The Scholar Version' (SV) yang memberikan kesan akademik, dan yang dianggap merupakan versi untuk bisa dengan mudah dimengerti oleh pembaca Amerika modern dengan versi yang dikatakan sebagai paling dekat dengan apa yang bisa didengar oleh jemaat abad pertama. Aktivitas seminar adalah:

    Pertama, mengumpulkan 'ucapan-ucapan yang dianggap dari Yesus' dari kurun waktu 300 tahun baik dari Alkitab maupun dari sumber-sumber kuno yang mungkin dikumpulkan. Ucapan-ucapan yang berjumlah sekitar 1500 itu kemudian dibagi dalam 4 kategori, yaitu perumpamaan, aforisme, percakapan, dan cerita yang mengandung ucapan Yesus. Ucapan-ucapan lebih pendek dianggap lebih asli karena orang lebih mudah mengingatnya daripada kalimat-kalimat panjang yang mungkin disusun kemudian dan sudah berkembang dan dibumbui. Kedua, kemudian dilakukan pemungutan suara (voting) oleh yang hadir untuk menentukan keaslian ucapan itu. Dalam penentuan keaslian itu tersedia empat pilihan, yaitu yang dianggap ucapan Yesus yang:

    (1) Asli diberi warna merah, yaitu yang dianggap ucapan Yesus sendiri;

    (2) Mungkin Asli diberi warna merah muda, yaitu untuk menunjukkan ucapan Yesus yang masih diragukan atau telah mengalami perubahan-perubahan selama proses salinan;

    (3) Mungkin Tidak Asli diberi warna abu-abu, yaitu ucapan yang tidak diucapkan oleh Yesus tetapi mengandung gagasan Yesus; dan

    (4) Tidak Asli diberi warna hitam, yaitu ucapan yang dianggap bukan dari Yesus dan ditulis pengikutnya atau musuhnya.

    Ucapan-ucapan itu disusun untuk merekonstruksikan sejarah kehidupan Yesus. Selain itu, Jesus Seminar mencoba untuk memperjelas pemisahan antara 'Yesus Sejarah' dan 'Yesus Iman,' termasuk di dalamnya mengenai Inspirasi dan ketidak bersalahan (Inerrancy) Alkitab dan pembedaan Yesus (ke-manusia-an) dari Kristus (ke-Tuhan-an), dan beberapa masalah dibahas seperti sumber-sumber dan hubungan antar kitab Injil, tempat Injil Thomas sebagai Injil ke Lima, dan soal tradisi ucapan Yesus.

    Yang menarik dari metodologi penyimpulan yang digunakan adalah cara voting, dengan kata lain kebenaran ucapan Yesus ditentukan hanya dengan pemungutan suara mayoritas 'responden' puluhan peserta yang hadir. Hanya beberapa puluh orang yang menentukan mana ucapan Yesus dalam kitab-kitab Injil itu yang dapat dikata asli, mungkin asli, mungkin tidak asli, dan tidak asli. Dari komposisi responden dan angket demikian jangan heran kalau keluar kesimpulan bahwa '82 persen ucapan dalam kitab-kitab Injil bukan ucapan Yesus.' menarik pula melihat hasil-hasil angket tersebut.

    Dalam 'Injil Markus' yang dianggap sumber Matius dan Lukas, hanya ada satu yang dianggap ucapan asli Yesus (12:17), padahal 'Injil Matius' ada 5 ayat atau kumpulan ayat yang dianggap asli diucapkan oleh Yesus (5:39-42,44; 6:9;13:33; 20:1-15) dan dalam 'Injil Lukas' malah ada 7 ayat atau kumpulan ayat yang dianggap asli diucapkan oleh Yesus (6:20-21,27,29-30; 10:30-35;11:2;13:20). Jadi jangan heran kalau 'Kotbah di Bukit' (Matius 5-7) hampir seluruhnya dianggap bukan ucapan Yesus (kecuali 5:39-42, dan sebagian dari 5:44, dan doa Bapa kami hanya kata 'Bapa kami' dalam 6:9-lah yang diberi warna merah), lagipula ayat Matius 28:19-20 yang merupakan ayat yang berisi 'Amanat Agung Tuhan Yesus' malah dianggap sama sekali tidak asli (diberi warna hitam), malah, dalam 'Injil Yohanes' tidak ada yang bisa dianggap sebagai ucapan Yesus yang asli dan hanya satu yang disebut sebagai 'mungkin' (4:44) yang diberi warna merah muda.

    Jadi motivasi dan misi Jesus Seminar jelas terlihat ditujukan untuk membungkam Yesus dan kitab-kitab Injil, Yesus tidak dianggap mengaku sebagai Mesias dan 'Allah yang menjadi daging', ia tidak berbicara mengenai kedatanganNya keduakali, ia tidak menjanjikan akan mengampuni dosa, ia tidak mengkotbahkan 'kotbah di bukit', dan bahkan ia tidak pernah 'mengutus murid-muridnya' untuk memberitakan Injil.Yang lebih menarik lagi adalah bahwa kitab 'Thomas', dari 114 fasal, hanya ada 6 ayat dalam tiga fasal (20:2-4; 54:1, dan 100:2-3) yang dianggap asli ucapan Yesus! dan ini dianggap Injil yang lebih berotoritas dan dianggap sumber kitab-kitab Injil kanonik.

    Dapatkah kesimpulan angket demikian diterima keabsahannya? Pembaca dapat menyimpulkannya sendiri. Yang jelas, kesimpulan demikianlah yang disebar luaskan secara terbuka di mass media tanpa ada pemeriksaan serius dari pihak mass media dan pembahasan persidangan gereja, dan hanya pembaca kritis yang mau menyelidiki apa yang ada di balik pernyataan-pernyataan itulah yang bisa mengetahui lika-liku yang dianggap 'the scholars version' tersebut. Kenyataan lain adalah bahwa sekalipun mungkin memilih sama dalam voting, para peserta yang terlibat tidak selalu berfikir sama mengenai hal-hal yang dipercaya. Sebagai contoh, Crossan mengatakan bahwa 'Yesus Funk' beda dengan Yesusnya, dan dalam buku 'The Five Gospels' disebutkan oleh Funk mengenai Marcus Borg bahwa sepanjang sejarah seminar, Borg tidak pernah ikut voting bersama mayoritas atas setiap isu.

    Hal lain lagi yang perlu direnungkan adalah apa pandangan iman dan teologis yang bisa diharapkan dari seorang Paul Verhoeven sutradara film mistik ‘Robocop’ dan film porno ‘Basic Instinct‘ dan ‘Showgorls’ yang dengan bintang Sharon Stone pemain 'Basic Instinct' sedang membuat film Yesus yang benar-benar hanya seorang manusia (seperti pemuda modern) yang di dalamnya berpacaran dengan Maria Magdalena? Makalahnya Verhoeven berjudul 'Fully Human' disampaikan pada forum Jesus Seminar yang di tahun 1994 dimana pada saat yang sama Jesus Seminar menyimpulkan bahwa 'Jesus tidak dilahirkan dari anak dara Maria, Yesus lahir dalam proses sebagai layaknya manusia biasa'.

    Disebutkan pula dalam prakatanya bahwa buku itu disusun setelah 6 tahun kerja oleh ahli-ahli yang disebut sebagai dididik di universitas-universitas terkemuka di Eropah dan Amerika Serikat. Dalam kenyataannya, kecuali Marcus Borg, Robert W. Funk dan John Dominic Crossan, umumnya anggota lainnya adalah teolog biasa yang tidak menonjol. Dari para ahli Perjanjian Baru di universitas-universitas terkemuka, hanya Claremont University yang diwakili, sedangkan pengikut dari Emory University hanya sekali datang. Para ahli Perjanjian Baru dari universitas-universitas terkemuka seperti Yale, Harvard, Princeton, Duke, Union, Emory maupun Chicago, tidak ada yang diwakili. Para ahli Perjanjian Baru dari Eropah dan benua lain juga tidak ada yang diwakili.

    Lepas dari itu sebenarnya para peserta seminar bukanlah tergolong tokoh dalam pendidikan teologi. Kecuali Crossan dan Borg yang punya pengalaman mengajar di universitas umumnya peserta seminar adalah orang-orang yang tidak banyak dikenal di kalangan pendidikan tinggi teologia. Para peserta yang hadir tidak ada yang mewakili seminari teologia sekalipun mereka mengajar di sana lebih-lebih seminari teologia papan atas, mereka bertindak sebagai pribadi-pribadi. Sekalipun yang hadir pertama kali disebut berjumlah 30 orang dan dikatakan kemudian diikuti 200 orang lainnya, kenyataannya berita itu dibesar-besarkan. Faktanya yang hadir dalam pertemuan tengah tahunan itu rata-rata hanya sekitar 30 orang saja. Dalam buku 'The Five Gospels' (1993) yang ditulis setelah 8 tahun berdirinya Jesus seminar, hanya disebutkan daftar 76 orang yang terlibat.

    Sekalipun Funk pernah menjadi sekertaris pada 'Society of Biblical Literature' (SBL) di Amerika Serikat, Jesus Seminar tidak ada hubungan sama sekali dengan SBL. Karena itu dengan melihat angka-angka peserta di atas adalah terlalu ceroboh untuk menganggap kesimpulan seminar itu sebagai mewakili dunia teologi mengingat bahwa SBL saja mempunyai anggota sejumlah 6.900 orang yang setengahnya spesialis Perjanjian Baru, dan ini belum termasuk tokoh-tokoh Alkitab di luar SBL atau yang bergabung dalam paguyuban ahli-ahli Perjanjian Baru sedunia 'Studiorum Novi Testamenti Societas'.

    Kelihatannya para ahli yang berkumpul adalah mereka dikenal merupakan kelompok teolog yang memang bernada sumbang akan kekristenan dan antipati terhadap konservativisme Kristen, dan sekalipun pengaruhnya menyebar luas, ternyata setelah lebih dari 10 tahun sejak tahun 1985, Jesus Seminar dalam prosesnya juga mengalami pendewasaan pula. Ungkapan-ungkapan para peserta Seminar yang semula begitu meyakinkan bahkan radikal, dengan adanya kritik-kritik dari luar ternyata kemudian berubah melunak. Ini menunjukkan bahwa mereka berangsur-angsur mengakui juga keterbatasan mereka.

    Dari ucapan penemu 'Jesus Seminar' Robert W. Funk, kita dapat melihat bahwa memang motivasi dan tujuan seminar ini adalah untuk mencari suatu cerita fiksi baru tentang Yesus dan Injil yang berbeda dengan cerita Injil tradisional. Ia mengatakan:

    "Apa yang kita butuhkan adalah cerita fiksi yang baru yang membawa kita menuju kejadian sentral drama Kristen-Yahudi dan merujukkan Mesias dengan cerita baru yang mencakup hal lebih besar daripada awal sampai akhir cerita lama. Kita memerlukan cerita baru tentang Yesus, Injil yang baru, bila kamu mau, menempatkan Yesus berbeda dalam kerangka besar cerita kepahlawanan."

    Sebenarnya hal ini tidak aneh, soalnya sejak awal dan bertahun-tahun sebelumnya kedua pendiri dan ketua Jesus Seminar yaitu Funk dan Crossan sudah mempunyai gagasan kontroversial dan provokatif, itu pula yang menyebabkan Crossan harus menanggalkan jubah kerahibannya di gereja Roma Katolik. Jadi adanya Jesus Seminar bukanlah untuk menyelidiki dan mencari kebenaran tetapi lebih untuk mencari legitimasi pandangan radikal mereka. Polemik yang 'sensasional', 'provokatif' dan 'kontroversial' dalam alam Amerika Serikat memang mudah dijual. Karena itu dengan datangnya modal dari Westar Institute dan liputan mass media yang intensif termasuk liputan majalah 'Time' ke seluruh dunia, seminar ini menjadi terkenal. Dalam seminar-seminar yang diadakan secara berpindah-pindah dari kota-ke-kota memang mass media sengaja diundang untuk meliput bahkan wawancara diberikan.

    Sebenarnya di Amerika Serikat ada banyak badan-badan yang menghibahkan dana besar bagi para teolog dan seminari teologi untuk studi kebenaran Alkitab, tetapi berita yang menguatkan alibi Yesus Sejarah tidak akan menarik mass media dan kurang laku menjadi komoditi bisnis komunikasi massa. Berita-berita yang bersifat skandal, sensasional, kontroversial, dan provokatif lebih laku di jual melalui mass media pada masakini (ingat berita skandal seks Clinton yang berkepanjangan). Dalam alam sekular semacam Amerika Serikat dimana 'kotbah untuk bertobat dan hukuman kekal' sangat dimusuhi dapat dimengerti kalau seminar yang menyimpulkan bahwa Yesus tidak pernah mengatakan dan menyuruh manusia untuk bertobat tentu akan laku keras.

    Kelemahan besar dari metoda penyelidikan Jesus Seminar adalah hanya terkonsentrasi pada kitab-kitab Injil, inipun dengan maksud untuk dibandingkan dengan kitab-kitab Apokrifa yang dianggap lebih berotoritas, sedangkan data-data Yesus dalam kitab-kitab para Rasul dan tulisan para Rasul diabaikan karena dianggap rekayasa gereja. Rasul Paulus dianggap sebagai tidak mempunyai minat pada Yesus, gaya cerita dalam Kitab-Kitab Injil dan Kisah Para Rasul hanya dianggap sebagai kemasan mitos yang didasarkan pada iman para murid Yesus.

    Demikian semua ucapan yang dianggap sudah berkembang harus dihapus. Kanon yang sudah menjadi dasar ajaran iman gereja selama duapuluh abad tidak mendapat tempat selayaknya dalam seminar karena isinya dianggap hanya mengungkapkan Yesus Iman dan bukan Yesus Sejarah. Sebaliknya, Injil Thomas diberi tempat istimewa sebagai 'Injil ke-Lima'. (di sambung pada nomor selanjutnya tentang Injil Thomas).

    A m i n !

    Based On : http://www.yabina.org/RENUNGAN/97-98/R9802_2.HTM

    Posted at 9/26/2006 4:08:02 am by KaLvHiN
    Make a comment  

    KONTROVERSI SEPUTAR 'THE JESUS SEMINAR'

    Kaum Kristen percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, dilahirkan
    dari Perawan Maria dan suaminya yang tukang kayu, Yosef.
    Dengan penyalibannya, ia menebus atau menyelamatkan umat
    manusia. Dengan kebangkitannya kembali, ia menjanjikan
    kehidupan kekal. Tetapi sekelompok ahli teologi dan sejarawan
    di Amerika Utara mempertanyakan tentang Yesus -- serta
    keakuratan Perjanjian Baru.

    Sekitar 50 sarjana membentuk apa yang dinamakan "Jesus
    Seminar". Mereka menyatakan tengah menggali kembali
    pemahaman-pemahaman baru tentang kehidupan Kristus -- terlepas
    dari apa yang mereka namakan "dogma dan mitos gereja selama
    berabad-abad." Mereka mengatakan, pendekatan mereka adalah
    dengan menganalisis teks-teks Alkitab -- dengan menggunakan
    pengetahuan mutakhir tentang budaya, sejarah, politik, dan
    bahasa di Palestina kuno. Dalam proses itu, mereka mengecilkan
    hakikat keilahian Yesus -- dan menonjolkan sisi manusiawinya.

    Marcus Borg adalah seorang Profesor Agama dan Budaya di Oregon
    State University di Corvallis, yang berpendidikan Oxford.

    Bagi banyak kaum Kristen arus-pokok di Amerika Utara, suatu
    cara lama dalam memahami Yesus telah tidak mempan lagi bagi
    mereka -- yakni cara pandang yang eksklusif: Kristianitas
    adalah satu-satunya jalan keselamatan, yang menekankan
    kelahiran dari perawan, dan (Yesus) mati untuk dosa-dosa kita.
    Dalam zaman yang secara religius bersifat pluralistik, cara
    pandang lama itu tidak lagi memikat. Banyak di antara
    orang-orang ini tetap menjadi anggota gereja, tetapi dengan
    setengah hati -- (mereka bilang kepada saya), "Saya selalu
    harus mengatupkan jari-jariku bila mendengar, 'Yesus
    dilahirkan oleh seorang perawan...' atau 'Yesus naik dengan
    tubuhnya ke surga.' "

    Professor Borg berkata, 'Jesus Seminar' menekankan pelajaran
    --tetapi bukan bahasa harfiah-- dari kitab-kitab Injil
    Perjanjian Baru. Demikianlah, maka kelahiran dari perawan
    tidak dianut secara harfiah --melainkan sebagai kisah yang
    harus ditafsirkan. Banyak anggota Seminar berkata, bahwa
    budaya-budaya sering menggunakan kembang-kembang bahasa
    --seperti "dilahirkan dari antara para dewa"-- untuk
    menjelaskan sifat-sifat istimewa dari tokoh-tokoh historis.
    Mereka juga mengatakan, bahwa cara bercerita di zaman kuno
    tidak selalu berpegang ketat kepada fakta -- yang menurut
    mereka adalah bagian penting dari model saintifik pada masa
    kini.

    Demikianlah, Injil Lukas menceritakan kisah Maria, Ibu Yesus
    yang tengah mengandungnya, mengunjungi saudara sepupunya yang
    juga tengah mengandung, Elizabeth, beserta suaminya Zechariah.
    Seorang malaikat menyatakan kepada Zechariah, bahwa sekalipun
    usia mereka sudah tua, Tuhan mengarunia dia dan istrinya
    dengan seorang anak. Bayi itu ternyata menjadi tokoh kunci
    lain dari Perjanjian Baru, Yohanes Pembaptis.

    Ray Hoover adalah seorang pendeta yang ditahbiskan dalam
    Gereja United Church of Christ -- ia juga Profesor Literatur
    Alkitab dan Agama di Whitman College di Walla-Walla,
    Washington. Menurut dia:

    Dalam cerita Lukas, seorang perempuan tua dan mandul,
    Elizabeth, dan seorang gadis muda dan tak berpengalaman,
    Maria, mendapati kehidupan masing-masing dirahmati dengan
    makna istimewa dalam mengandung seorang bayi. Ini tidak boleh
    dilupakan, sebagai suatu kehidupan penting yang muncul di
    antara orang kebanyakan. Lukas berkata, bahwa hidup dapat
    dirahmati bahkan dalam keadaan yang paling sederhana. Kuasa
    untuk mengubah sejarah dapat muncul dari kalangan orang biasa,
    bukan hanya dari kalangan tinggi dan berkuasa. Kita biasanya
    mengharapkan kreativitas muncul di kalangan anak muda. Lukas
    menyatakan bahwa rahmat dapat muncul dalam kehidupan kita pada
    usia kapan saja. Sesuatu yang baru dapat mengubah makna hidup
    kita dalam usia menengah atau usia tua kita.

    Pendekatan yang dilakukan oleh para sarjana 'Jesus Seminar'
    terhadap Yesus dipersoalkan oleh para sarjana Alkitab
    ortodoks. Mereka berkata: "Kelompok ini (Jesus Seminar)
    merupakan sekelompok sarjana Alkitab yang memilih-diri-sendiri
    (self-selected) dan mempunyai tujuan khusus untuk
    membuktikan-salah Yesus yang diajarkan di Sekolah-Sekolah
    Minggu."

    Ben Witherington adalah seorang Profesor Tafsir Perjanjian
    Baru di Asbury Theological Seminary di Lexington, Kentucky.
    Dia bilang:

    "Bila saya pergi ke Eropa atau Jerman, kebanyakan sarjana di
    sana berkata bahwa ini hanya bisa terjadi di Amerika. [Jesus
    Seminar] tidak mewakili para sarjana mainstream. Kelebihan
    'Jesus Seminar' adalah mencari publisitas dengan membuat
    pernyataan-pernyataan radikal. Ini contoh bagus dari politik.
    Mereka sangat lihay memanipulasi media."

    Para pengritik berkata, bahwa metode yang digunakan oleh
    'Jesus Seminar' cacad. Misalnya, para sarjana 'Jesus Seminar'
    berkata, bahwa mereka menggunakan banyak sumber untuk
    menetapkan keakuratan historis dari teks-teks Alkitab. Tetapi
    para pengritiknya berkata, bahwa 'Jesus Seminar' menolak
    tulisan-tulisan yang tidak sesuai dengan pandangan mereka
    sendiri. Misalnya, Ben Witherington berkata, Injil Matius dan
    Lukas dari Perjanjian Baru menyebutkan tentang kelahiran dari
    perawan -- yang seharusnya cukup untuk meyakinkan peserta
    Seminar tentang keakuratan historis. Tetapi para anggota
    Seminar berkata, jika peristiwa yang menakjubkan itu benar,
    Injil-Injil yang lain pun tentu akan menyebutkannya. Para
    sarjana yang lebih konservatif mengeluh bahwa Seminar menolak
    mempertimbangkan fenomena supernatural -- baik itu malaikat,
    mukjizat, atau Yesus sebagai penjelmaan Tuhan:

    "Para sarjana ortodoks, ketika mempelajari teks-teks Alkitab,
    tidak berangkat dari anggapan bahwa mukjizat adalah mustahil
    dan kita harus memperlakukannya sebagai mitos atau legenda.
    Seorang sejarawan yang terbuka terhadap hal-hal supernatural
    akan menunda penilaian dan meneliti bukti-bukti individual
    kasus demi kasus."

    Para pengritik juga mengecam cara Seminar bergantung pada apa
    yang mereka anggap sebagai dokumen yang meragukan --misalnya
    apa yang disebut "Injil Gnostik" dari Thomas. Injil itu
    menekankan ucapan-ucapan Yesus -- yang menggambarkannya
    sebagai orang arif, tetapi bukan Putra Allah.

    Para pengritik juga menolak sikap Seminar yang mempertanyakan
    keotentikan ucapan-ucapan Yesus. Para anggota Seminar berkata,
    bahwa tradisi lisan tidak selalu akurat, dan bahwa
    generasi-generasi Kristen yang belakangan mungkin sekali
    menerapkan kepercayaan mereka sendiri kepada Yesus. Tradisi
    Yesus diwariskan oleh orang-orang Yahudi awal, yang tahu
    bagaimana meneruskan tradisi dengan sangat hati-hati dan
    jujur. Tidak realistik untuk menganggap bahwa orang Yahudi
    abad pertama, yang sangat menjunjung tinggi tradisi suci,
    tidak memperlakukan tradisi itu dengan jujur dan dilandasi
    doa.

    Sikap mempertanyakan tradisi oleh Seminar itu juga menimbulkan
    masalah-masalah teologis:

    Pertanyaan yang harus diajukan kepada Seminar adalah: jika apa
    yang mereka katakan benar -- mengapa ada Kristianitas itu
    sendiri? Mengapa Yesus tidak tenggelam di dalam keranjang
    sampah sejarah? Masalahnya bagi orang awam adalah: jika 'Jesus
    Seminar' benar, mengapa kita harus peduli dengan tokoh Yesus
    itu sendiri?

    Para anggota 'Jesus Seminar' berkata, tugas pokok mereka
    adalah menggali bukti-bukti yang akurat secara historis dan
    saintifik; masalah teologis harus digarap belakangan. Mereka
    menyadari bahwa temuan-temuan mereka dapat menantang
    pandangan-pandangan dan asumsi-asumsi tradisional dari
    Kristianitas. Tetapi mereka berkata, itu sendiri bukanlah hal
    yang buruk -- mereka malah berpendapat bahwa karya mereka akan
    memperkuatnya.*** 20-Dec-96

    -------
    Date: Sat, 05 Jun 1999 12:30:59 +0700
    From: Hudoyo Hupudio
    To:


    Based on : http://media.isnet.org/antar/etc/KontroversiSeminar.html

    Posted at 9/26/2006 4:04:40 am by KaLvHiN
    Make a comment  

    Yesus Sejarah

    Saudara/i ykk,

    HARI NATAL sudah dekat dan kenangan akan sejarah kelahiran Yesus yang nyata dan dampaknya bagi kehidupan umat manusia telah mendorong banyak orang mencari tahu sifat kesejarahan Yesus yang sebenarnya. Sepanjang sejarah, nama Yesus banyak dipersoalkan, ditolak bahkan dicerca banyak orang, namun nama itu tetap disebut, dipercaya dan dimuliakan lebih banyak orang pula.

    MASA HIDUP YESUS

    Sejak kelahirannyapun Yesus tidak dianggap istimewa oleh lingkungannya, orang Farisi pernah menyebutnya pesuruh 'Beelzebul' penghulu setan (Mat.12:24) dan ketika akan disalib ia di olok-olok dan dihina sebagai 'raja' dan direndahkan lebih rendah dari seorang pembunuh bernama 'Barabas' (Mat.27:21). Di kalangan orang kebanyakan, Yesus disebut sebagai 'Yohanes Pembaptis, Elia atau Yeremia' (Mar.8:27), tetapi banyak juga yang menyebutnya 'Tuhan'.

    Keragu-raguan akan siapa Yesus sebenarnya juga terjadi di kalangan murid-murid Yesus. Thomas 'meragukan kebangkitannya' (Yoh.20:25), dan Yudas-lah yang menyerahkan Yesus untuk di salib. Tetapi, menanggapi pertanyaan Yesus yang berbunyi "siapakah Aku ini?", dengan yakin Petrus yang pernah menyangkali Yesus sampai tiga kali mengatakan "Engkau adalah Messias, Anak Allah yang hidup." (Mat.16:15-16). Para Rasul lainnya juga berlandaskan ajaran mereka pada Yesus sebagai Kristus dan Tuhan, bahkan rasul Paulus menjadikan peristiwa kebangkitan Yesus sebagai fondasi iman Kristen. Ia mengatakan: "Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih tinggal dalam dosamu." (Ikor.15:17).

    SEPANJANG SEJARAH GEREJA

    "Itu kan kata Alkitab" kata sebagian orang, dan gema komentar ini terus muncul tenggelam sepanjang sejarah gereja di tengah mayoritas umat Kristen yang tetap mengimani bahwa Yesus adalah Tuhan.

    Perkembangan Rasionalisme yang mempengaruhi kekristenan menghasilkan keragu-raguan akan nilai 'Yesus Sejarah' yang disebut Alkitab, bahkan kemudian sejalan dengan tumbuhnya 'Kritik Historis' atas Alkitab sejak abad ke XVIII, pada abad ke-XIX dikenal dengan 'The Quest' (penyelidikan) ramailah dipersoalkan soal 'Yesus Sejarah' terutama oleh David Friedrich Strauss, Albert Schweitzer dan Joseh Ernst Renan, ini memuncak dalam diri Rudolf Bultmann yang dikenal dengan 'demitologi'sasinya itu pada medio abad ke-XX.

    Strauss mempersoalkan mujizat Yesus yang dikatakannya tidak benar-benar terjadi dan Reimarus menyebutnya sebagai mitos. Albert Ritschl menjadikan etika Yesus sebagai jantung kekristenan, Adolf Harnack menyebut Yesus sebagai manusia pembawa damai bagi orang lain, dan Albert Schweitzer sekalipun menolak liberalisme lama yang mengabaikan unsur eskatologis Yesus namun ia juga menolak mujizat. Faham anti-supranatural ini memuncak dalam diri Rudolf Bultmann yang memisahkan Yesus Iman dan Yesus Sejarah yang dikenal dengan 'demitologisasi'nya itu.

    Pada umumnya kritik-kritik itu berkisar pada penolakan akan hal-hal yang bersifat supra-natural disekeliling sejarah Yesus terutama soal kelahirannya dari anak dara, mujizat yang dilakukan dan kebangkitannya, sehingga ketuhanan Yesus ditolak dan Yesus dipaksakan untuk sekedar menjadi manusia biasa yang mengalami pergumulan sosial dan politik di Palestina di abad pertama.

    Dirintis Ernst Kasemann murid Bultmann, dimulailah 'The New Quest' (penyelidikan baru) yang memuncak dalam apa yang disebut 'Jesus Seminar' di Amerika Serikat dengan tokoh a.l. Robert Funk dan John Dominic Crossan. Ini disusul dengan 'The Third Quest' (penyelidikan ketiga) dengan tokoh-tokohnya a.l. Marcus Borg dan E.P. Sanders. Banyak teolog-teolog demikian menyebut 'Yesus sebagai pemimpin dan pemberontak Yahudi yang gagal'.

    Perbedaan penting masa 'the quest' dengan 'the new & third quests' adalah bahwa pada penyelidikan pertama kitab Injil diterima sebagai benar tetapi aspek mujizatnya ditolak, sedangkan dalam penyelidikan-penyelidikan berikutnya justru kebenaran kitab Injil itulah yang ditolak dan dinilai dari sudut pandang pemikiran rasionalisme, kitab apokrifa atau rekaan manusia modern.

    YESUS YANG DILECEHKAN

    Sejak tahun 1960-an bermunculan buku-buku dan film-film yang mencoba mendiskreditkan pribadi Yesus, dan ini memuncak pada pertengahan tahun 1980-an dengan aktipnya Jesus Seminar di Amerika Serikat yang mempopulerkan keragu-raguannya melalui mass media dengan intensip.

    Di tahun 1960-an terbit sebuah buku yang kemudian difilmkan di tahun 1970‑an dengan judul 'Jesus Christ Superstar' karya Tim Rice dan Andrew Lord Weber yang menjadikan Yudas Iskariot sebagai pahlawan dan Yesus digambarkan sebagai seorang yang frustrasi dan mati dalam kegagalan, dan di tahun 1980‑an terbit pula karya Nikos Kazantzakis yang difilmkan dengan judul 'The Last Temptation of Christ' dimana disamping skandal Yesus dengan Maria Magdalena yang dipertunjukkan disitu, dan usaha Yesus yang ingin melepaskan diri dari 'godaan terakhir' kepuasan seksualnya di kayu salib, Yesus dikatakan mengucapkan kata‑kata:

    "Aku seorang penipu, aku seorang munafik, aku takut akan segala sesuatu ... Lucifer ada di dalam diriku."

    Memang Martin Scorsese yang menyutradarai film tersebut pada awal film menyatakan bahwa 'Film ini tidak didasarkan kitab‑kitab Injil tetapi cerita fiksi tentang pertentangan rohani yang kekal,' namun film itu tidak terhindarkan telah menjadi film yang melecehkan Yesus dan kekristenan.

    Puncak dari promosi pelecehan Yesus itu terjadi ketika pada tahun 1985 ada sekelompok teolog Amerika Serikat merintis apa yang disebut sebagai "Jesus Seminar". Komentar kontroversial kemudian bermunculan setelah hasil seminar dibukukan pada tahun 1993. Midwest Today, sebuah majalah dalam edisi Maret 1994 mengangkat masalah ini dengan judul 'Debate Rages Over the Jesus Seminar' dengan sub-judul berbunyi: "Ketika 77 ahli Alkitab menyebut bahwa 80% dari yang dianggap ucapan Yesus dalam Alkitab sebenarnya tidak diucapkan Yesus, kepanikan menyebar."

    Majalah Time dalam edisi Paskahnya (8 April, 1996) memperkenalkan soal Jesus Seminar ini secara internasional dengan judul 'The Gospel Truth' dengan sub-judulnya: "Yesus Seminar yang provokatif mengemukakan bahwa tidak banyak bagian Perjanjian Baru dapat dipercaya. Bila demikian, apa yang dipercaya orang Kristen?"

    Film mutakhir yang dipersiapkan oleh Paul Verhoeven (salah seorang peserta Jesus Seminar dan sutradara film Basic Insticnt, Showgirls dan Robocop) dan Sharon Stone (pemain film Basic Instinct) adalah tentang Yesus dalam kemanusiaannya yang 'fully human' yang berpacaran dengan Maria Magdalena.

    Masalah studi 'Yesus Sejarah' yang semula merupakan perdebatan sekelompok teolog, dalam era informasi yang dipacu oleh pemuatan di surat kabar, majalah, buku, TV dan internet menjadi debat terbuka yang cukup mendatangkan silang-pendapat yang hangat dengan adanya komentar provokatif seperti di atas, lebih-lebih dengan terbitnya buku-buku 'pop-Yesus Sejarah' seperti karya John Shelby Spong yang menyebut Maria diperkosa dan melahirkan Yesus, Barbara Thiering menyebut 'Yesus menikah dengan Maria Magdalena, bercerai, kawin lagi dengan Lydia dan kemudian mempunyai tiga anak' dan Crossan mengatakan bahwa 'Yesus mati disalib dan mayatnya dimakan anjing', sedang Michael Baigent menyebut Yesus tidak mati di salib kemudian lari dan menetap di Perancis Selatan, dan adapula yang menyebutnya lari ke Kashmir.

    JESUS SEMINAR

    'Jesus Seminar' diselenggarakan atas sponsor Westar Institute di Amerika Serikat dengan maksud memperbaharui penyelidikan Yesus Sejarah tepatnya 'ucapan-ucapan Yesus yang otentik.' Laporan lengkap penyelidikan ini dibukukan dalam buku berjudul 'The Search for the Authentic Words of Jesus, The Five Gospels, What Did Jesus Really Say?' (1993). Pada bagian awal halaman v buku itu kita dapat melihat kemana arah nafas seminar tersebut: "Laporan ini dipersembahkan kepada Galileo Galilei yang mengubah pandangan kita mengenai surga selamanya. Thomas Jefferson yang menggunakan gunting dan memotong-motong Kitab Injil. David Friedrich Strauss yang mempelopori penyelidikan mengenai Yesus Sejarah."

    Seminar ini diketuai Robert W Funk, profesor Perjanjian Baru pada Montana University, dan John Dominic Crossan, rahib Roma Katolik Irlandia yang terpaksa melepaskan kerahibannya karena pandangannya yang kontroversial atas Alkitab dan profesor pada De Paul University, Chicago di Amerika Serikat. Disebutkan dalam prakata buku itu bahwa buku itu disusun setelah 6 tahun kerja oleh ahli-ahli yang disebut dididik di universitas-universitas terkemuka di Eropah dan Amerika Serikat. Pertemuan pertama pada tahun 1985 diikuti 30 peserta dan dikatakan bahwa 200 orang lainnya kemudian ikut bergabung. Pertemuan diadakan dua kali setahun untuk mendiskusikan satu-persatu ucapan-ucapan Yesus yang ada dalam Alkitab.

    Buku itu selain berisi hasil seminar juga memuat terjemahan kitab Injil yang disebut sebagai 'The Five Gospels' dengan memasukkan 'Injil Thomas' sebagai Injil ke lima. Dan karena para pengikut seminar mempercayai teori Injil Markus sebagai kitab Injil tertua, maka Injil Markus diletakkan di depan kemudian disusul Injil-Injil Matius, Lukas dan Yohanes dan baru Injil Thomas. Terjemahan ini disebut sebagai 'The Scholar Version' (SV) yang memberikan kesan akademik, dan yang dianggap merupakan versi untuk bisa dengan mudah dimengerti oleh pembaca Amerika modern dengan versi yang dikatakan sebagai paling dekat dengan apa yang bisa didengar oleh jemaat abad pertama. Aktivitas seminar adalah:

    Pertama, mengumpulkan 'ucapan-ucapan yang dianggap dari Yesus' dari kurun waktu 300 tahun baik dari Alkitab maupun dari sumber-sumber kuno yang mungkin dikumpulkan. Ucapan-ucapan yang berjumlah sekitar 1500 itu kemudian dibagi dalam 4 kategori, yaitu perumpamaan, aforisme, percakapan, dan cerita yang mengandung ucapan Yesus. Ucapan-ucapan lebih pendek dianggap lebih asli karena orang lebih mudah mengingatnya daripada kalimat-kalimat panjang yang mungkin disusun kemudian dan sudah berkembang dan dibumbui.

    Kedua, kemudian dilakukan pemungutan suara oleh yang hadir untuk menentukan keaslian ucapan itu. Dalam penentuan keaslian itu tersedia empat pilihan, yaitu yang dianggap ucapan Yesus yang: (1) Asli diberi warna merah, yaitu yang dianggap ucapan Yesus sendiri; (2) Mungkin Asli diberi warna merah muda, yaitu untuk menunjukkan ucapan Yesus yang masih diragukan atau telah mengalami perubahan-perubahan selama proses salinan; (3) Mungkin Tidak Asli diberi warna abu-abu, yaitu ucapan yang tidak diucapkan oleh Yesus tetapi mengandung gagasan Yesus; dan (4) Tidak Asli diberi warna hitam, yaitu ucapan yang dianggap bukan dari Yesus dan ditulis pengikutnya atau musuhnya.

    Ucapan-ucapan itu disusun untuk merekonstruksikan sejarah kehidupan Yesus. Selain itu, Jesus Seminar mencoba untuk memperjelas pemisahan antara 'Yesus Sejarah' dan 'Yesus Iman,' termasuk di dalamnya mengenai Inspirasi dan ketidak bersalahan (Inerrancy) Alkitab dan pembedaan Yesus (ke-manusia-an) dari Kristus (ke-Tuhan-an), dan beberapa masalah dibahas seperti antara lain sekitar sumber-sumber dan hubungan antar kitab Injil, dan juga tempat Injil Thomas sebagai Injil ke Lima, dan soal tradisi ucapan Yesus.

    VOTING UNTUK MENGUKUR KEBENARAN?

    Yang menarik dari metodologi penyimpulan yang digunakan adalah cara 'pemungutan suara' (voting), yaitu ucapan Yesus ditentukan hanya dengan pemungutan suara mayoritas 'responden' puluhan peserta yang hadir. Hanya beberapa puluh orang yang menentukan dengan voting mana ucapan Yesus dalam kitab-kitab Injil itu yang dapat dikata asli, mungkin asli, mungkin tidak asli, dan tidak asli.

    Dari komposisi responden dan angket demikian jangan heran kalau keluar kesimpulan bahwa '82 persen ucapan dalam kitab-kitab Injil bukan ucapan Yesus (warna merah).' Menarik pula melihat hasil-hasil angket lainnya.

    Dalam 'Injil Markus' yang dianggap sumber Matius dan Lukas, hanya ada satu ayat yang dianggap ucapan asli Yesus (12:17), padahal 'Injil Matius' ada 5 ayat atau kumpulan ayat yang dianggap asli diucapkan oleh Yesus (5:39-42,44; 6:9;13:33; 20:1-15) dan dalam 'Injil Lukas' malah ada 7 ayat atau kumpulan ayat yang dianggap asli diucapkan oleh Yesus (6:20-21,27,29-30; 10:30-35;11:2;13:20).

    Jadi jangan heran kalau 'Kotbah di Bukit' (Matius 5-7) hampir seluruhnya dianggap bukan ucapan Yesus (kecuali 5:39-42, dan sebagian dari 5:44, dan doa Bapa kami hanya kata 'Bapa kami' dalam 6:9-lah yang diberi warna merah), lagipula ayat Matius 28:19-20 yang merupakan ayat yang berisi 'Amanat Agung Tuhan Yesus' malah dianggap sama sekali tidak asli (diberi warna hitam). Malah dalam 'Injil Yohanes' tidak ada yang bisa dianggap sebagai ucapan Yesus yang asli dan hanya satu yang disebut sebagai 'mungkin' (4:44) yang diberi warna merah muda.

    Mengenai ini tepat komentar Raymond E. Brown, pakar Kristologi dari Katolik Roma, dalam bukunya ‘An Introduction to New Testament Christology’ menyebutkan: “Hostoricity, however, should be determined not by what we think possible or likely, but by antiquity and reliability of the evidence.”

    APA MOTIVASINYA?

    Kelihatannya motivasi dan misi Jesus Seminar ditujukan untuk membungkam Yesus dan kitab-kitab Injil, Yesus tidak dianggap mengaku sebagai Mesias dan 'Allah yang menjadi daging', ia tidak berbicara mengenai kedatanganNya keduakali, ia tidak menjanjikan akan mengampuni dosa, ia tidak mengkotbahkan 'kotbah di bukit', dan bahkan ia tidak pernah 'mengutus murid-muridnya' untuk memberitakan Injil. Yang lebih menarik lagi adalah bahwa kitab 'Thomas', dari 114 fasal, hanya ada 6 ayat dalam tiga fasal (20:2-4; 54:1, dan 100:2-3) yang dianggap asli ucapan Yesus! dan kitab ini disebut Injil ke-lima yang dianggap lebih berotoritas daripada kitab-kitab Injil kanonik.

    Dapatkah kesimpulan angket demikian diterima keabsahannya? Pembaca dapat menyimpulkannya sendiri. Yang jelas, kesimpulan-kesimpulan demikianlah yang disebar luaskan secara terbuka di mass media tanpa ada pemeriksaan serius dari pihak mass media dan pembahasan persidangan gereja, dan hanya pembaca kritis yang mau menyelidiki apa yang ada di balik pernyataan-pernyataan itulah yang bisa mengetahui lika-liku yang dianggap 'the scholars version' tersebut.

    Kenyataan lain adalah bahwa sekalipun mungkin memilih sama dalam voting, para peserta yang terlibat tidak selalu berfikir sama mengenai hal-hal yang dipercaya. Sebagai contoh, Crossan mengatakan bahwa 'Yesus Funk' beda dengan Yesusnya, dan dalam buku 'The Five Gospels' disebutkan oleh Funk mengenai Marcus Borg bahwa sepanjang sejarah seminar, Borg tidak pernah ikut voting bersama mayoritas atas setiap isu.

    Hal lain lagi yang perlu direnungkan adalah apa pandangan iman dan teologis yang bisa diharapkan dari seorang Paul Verhoeven yang dengan bintang Sharon Stone pemain 'Basic Instinct' (film yang mengumbar sex & sadisme) sedang membuat film Yesus yang benar-benar hanya seorang manusia (seperti pemuda modern) yang di dalamnya berpacaran dengan Maria Magdalena? Makalahnya berjudul 'Fully Human' disampaikan pada forum Jesus Seminar yang diadakan pada tahun 1994 dimana pada saat yang sama Jesus Seminar menyimpulkan bahwa 'Jesus tidak dilahirkan dari anak dara Maria, Yesus lahir dalam proses sebagai layaknya manusia biasa'.

    Disebutkan pula dalam prakata buku itu bahwa buku itu disusun setelah 6 tahun kerja oleh ahli-ahli yang disebut sebagai dididik di universitas-universitas terkemuka di Eropah dan Amerika Serikat. Pada kenyataannya, kecuali Marcus Borg, Robert W. Funk dan John Dominic Crossan, umumnya anggota lainnya adalah teolog biasa yang tidak menonjol. Dari para ahli Perjanjian Baru di universitas-universitas terkemuka, hanya Claremont University yang ada wakilnya, sedangkan pengikut dari Emory University hanya sekali datang. Para ahli Perjanjian Baru dari universitas-universitas terkemuka seperti Yale, Harvard, Princeton, Duke, Union, Emory maupun Chicago, tidak ada yang diwakili. Para ahli Perjanjian Baru dari Eropah dan benua lain juga tidak ada yang diwakili sebelum mereka mengeluarkan kesimpulan dalam buku ‘Five Gospels’.

    Lepas dari itu sebenarnya para peserta seminar bukanlah tergolong tokoh dalam pendidikan teologi. Kecuali Crossan dan Borg yang punya pengalaman mengajar di universitas umumnya peserta seminar adalah orang-orang yang tidak banyak dikenal di kalangan pendidikan tinggi teologia. Para peserta yang hadir tidak ada yang mewakili seminari teologia sekalipun mereka mengajar di sana lebih-lebih seminari teologia papan atas, mereka bertindak sebagai pribadi-pribadi, apalagi bahkan menarik untuk dicatatat keikutsertaan peserta aktif selama 6 tahun Paul Verhoeven yang bukan seorang teolog tetapi terkenal sebagai produser dan sutradara film mistik 'Robocop' dan film porno 'Basic Instinct' dan 'Showgirls'.

    Sekalipun yang hadir pertama kali disebut berjumlah 30 orang dan dikatakan kemudian diikuti 200 orang lainnya, kenyataannya berita itu dibesar-besarkan. Faktanya yang hadir dalam pertemuan tengah tahunan itu rata-rata hanya sekitar 30 orang saja. Dalam buku 'The Five Gospels' (1993) yang ditulis setelah 8 tahun berdirinya Jesus seminar, hanya disebutkan daftar 76 orang yang terlibat. Sekalipun Funk pernah menjadi sekertaris pada 'Society of Biblical Literature' (SBL) di Amerika Serikat, Jesus Seminar tidak ada hubungan sama sekali dengan SBL.

    Karena itu, dengan melihat angka-angka peserta di atas adalah terlalu ceroboh untuk menganggap kesimpulan seminar itu sebagai mewakili dunia teologi mengingat bahwa SBL saja mempunyai anggota sejumlah 6.900 orang yang setengahnya spesialis Perjanjian Baru, dan ini belum termasuk tokoh-tokoh Alkitab di luar SBL atau yang bergabung dalam paguyuban ahli-ahli Perjanjian Baru sedunia 'Studiorum Novi Testamenti Societas'.

    Kelihatannya para ahli yang berkumpul adalah mereka yang merupakan kelompok yang belakangan ini merupakan kelompok teolog yang memang bernada sumbang akan kekristenan dan antipati terhadap konservativisme Kristen, dan sekalipun menyebar luas, ternyata setelah lebih dari 10 tahun sejak tahun 1985, Jesus Seminar dalam prosesnya juga mengalami pendewasaan pula. Ungkapan-ungkapan para peserta Seminar yang semula begitu meyakinkan bahkan radikal, dengan adanya kritik-kritik dari luar ternyata kemudian berubah melunak. Ini menunjukkan bahwa mereka berangsur-angsur mengakui juga keterbatasan mereka.

    Dari ucapan penemu 'Jesus Seminar' Robert W. Funk, kita dapat melihat bahwa memang motivasi dan tujuan seminar ini adalah untuk mencari suatu cerita fiksi baru tentang Yesus dan Injil yang berbeda dengan cerita Injil tradisional. Ia mengatakan: "Apa yang kita butuhkan adalah cerita fiksi yang baru yang membawa kita menuju kejadian sentral drama Kristen-Yahudi dan merujukkan Mesias dengan cerita baru yang mencakup hal lebih besar daripada awal sampai akhir cerita lama. Kita memerlukan cerita baru tentang Yesus, Injil yang baru, bila kamu mau menempatkan Yesus yang berbeda dalam kerangka besar cerita kepahlawanan."

    Sebenarnya hal ini tidak aneh, soalnya sejak awal dan bertahun-tahun sebelumnya kedua pendiri dan ketua Jesus Seminar yaitu Funk dan Crossan sudah mempunyai gagasan kontroversial dan provokatif, itu pula yang menyebabkan Crossan harus menanggalkan jubah kerahibannya di gereja Roma Katolik. Jadi adanya Jesus Seminar bukanlah untuk menyelidiki dan mencari kebenaran tetapi lebih untuk mencari legitimasi pandangan radikal mereka. Polemik yang 'sensasional', 'provokatif' dan 'kontroversial' dalam alam Amerika Serikat memang mudah dijual. Karena itu dengan datangnya modal dari Westar Institute dan liputan mass media yang intensif termasuk liputan majalah 'Time' ke seluruh dunia, seminar ini menjadi terkenal. Dalam seminar-seminar yang diadakan secara berpindah-pindah dari kota-ke-kota memang mass media sengaja diundang untuk meliput bahkan wawancara diberikan.

    Sebenarnya di Amerika Serikat ada banyak badan-badan yang menghibahkan dana besar bagi para teolog dan seminari teologi untuk studi kebenaran Alkitab, tetapi berita yang menguatkan alibi Yesus Sejarah tidak akan menarik mass media dan kurang laku menjadi komoditi bisnis komunikasi massa. Berita-berita yang bersifat skandal, sensasional, kontroversial, dan provokatif lebih laku di jual melalui mass media. Dalam alam sekular semacam Amerika Serikat dimana 'kotbah untuk bertobat dan hukuman kekal' sangat dimusuhi dapat dimengerti kalau seminar yang menyimpulkan bahwa Yesus tidak pernah mengatakan dan menyuruh manusia untuk bertobat tentu akan laku keras.

    Kelemahan besar dari metoda penyelidikan Jesus Seminar adalah hanya terkonsentrasi pada kitab-kitab Injil, inipun dengan maksud untuk dibandingkan dengan kitab-kitab Apokrifa yang dianggap lebih berotoritas, sedangkan data-data Yesus dalam kitab-kitab para Rasul dan tulisan para Rasul diabaikan karena dianggap rekayasa gereja. Rasul Paulus dianggap sebagai tidak mempunyai minat pada Yesus, gaya cerita dalam Kitab-Kitab Injil dan Kisah Para Rasul hanya dianggap sebagai kemasan mitos yang didasarkan pada iman para murid Yesus. Demikian juga semua ucapan yang dianggap sudah berkembang harus dihapus. Kanon yang sudah menjadi dasar ajaran iman gereja selama duapuluh abad tidak mendapat tempat selayaknya dalam seminar karena isinya dianggap hanya mengungkapkan Yesus Iman dan bukan Yesus Sejarah. Sebaliknya, Injil Thomas diberi tempat istimewa sebagai 'Injil ke-Lima'.

    Suatu usaha menarik dari sekelompok kecil teolog yang begitu yakin bahwa pandangan mereka mengenai sejarah dan sosiologi Palestina abad pertama dianggap tanpa salah dan ingin menghapus keyakinan sejarah gereja yang sudah melalui dua milenium yang memproklamasikan bahwa 'Yesus itu Tuhan.' Raymod E. Brown seorang tokoh Katolik Roma yang adalah mantan profesor studi Alkitab di ‘Union Theological Seminary’, New York City, dan anggota ‘Komisi Alkitab Pontificiat Roma’ dalam bukunya ‘New Testament Introduction’ berkenaan dengan tokoh-tokoh dibalik Jesus Seminar, mengatakan: “When we read the historical Jesus written by these scholars, we actually got nothing about Jesus. They only show who they are... they are very subjective and lack of the historical facts."

    Salam kasih dari Herlianto.


    Based On : http://www.yabina.org/artikel/A1_27.htm

    Posted at 9/26/2006 4:01:06 am by KaLvHiN
    Make a comment  

    INJIL THOMAS, Injil ke lima?

    Oleh : Herlianto

    YESUS SEJARAH yang secara kontroversial diramaikan oleh adanya Jesus Seminar, sangat berkaitan erat dengan apa yang disebut sebagai Injil Thomas.

    Pada tahun 1945-1946 di Nag Hammadi sebuah kota di Mesir bagian atas di tepi Barat sungai Nil dalam penggalian ditemukan perpustakaan kuno Gnostik Koptik. Lokasi ini tidak jauh dari Chenoboskion sebuah biara yang digunakan sejak abad ke-IV. Dalam perpustakaan itu dijumpai banyak sekali naskah kuno yang ditulis diatas papirus dan dijilid dengan sampul kulit.

    Yang terkenal dari penemuan itu adalah 'Injil Thomas' yang ditemukan dalam versi terjemahan Yunani yang berserakan yang diperkirakan ditulis pada tahun 150, dan terjemahan Koptik yang bernafaskan Gnostik yang berisi kumpulan 114 'ucapan-ucapan rahasia dan perumpamaan yang dianggap sebagai ucapan Yesus' (logion). Setengah dari isi Injil Thomas ada dalam ke-empat Injil dan setengah lainnya baru. Tepatnya, 47 logion ada dalam Injil Markus, 40 ada dalam Q, 17 ada pada Injil Matius, dan empat ada di Injil Lukas, dan lima ada di Injil Yohanes.

    Yang menjadi masalah sekarang adalah apakah 'ucapan-ucapan' baru dalam Injil Thomas itu merupakan hasil gereja atau memang adalah 'ucapan asli' dari Yesus sendiri mengingat bahwa Injil Thomas diperkirakan lebih tua dari ke empat Injil oleh sebagian ahli. Jesus Seminar menyimpulkan bahwa karena dalam Injil Thomas ada kalimat-kalimat pendek dan kurang adanya pandangan gereja, maka dianggap Injil Thomas cukup tua sebelum gereja terbentuk, jadi lebih dekat pada sumber oralnya, jadi kemungkinannya lebih asli. Demikian juga Crossan berpendapat bahwa Ketiga Injil sudah memalsukan kata-kata ucapan Yesus. Dan Yesus dalam ketiga Injil merupakan tafsiran tentang Yesus dari kacamata Yahudi. Yesus yang asli justru yang bersifat non-yahudi dan bersifat kafir. Ini sesuai dengan gerakan dunia kafir masa itu.

    John Dominic Crossan dan Jesus Seminar kemudian menyimpulkan bahwa Injil Thomas ditulis sekitar AD-50 setidaknya 20 tahun sebelum Injil Markus yang dianggap naskah tertua selama ini. Maka Injil Thomas dianggap adalah yang asli karenanya dapat disebut sebagai 'Injil ke-lima.' Bila selama ini Injil Markus dianggap yang paling tua dan menjadi sumber penulisan Injil Matius dan Lukas, maka sekarang mereka memastikan bahwa 'Injil Thomas' lebih dekat dengan masa hidup Yesus sendiri yang tentunya akan lebih asli. Itulah yang disimpulkan Jesus Seminar.

    Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan itulah maka Jesus Seminar mencoba untuk menyusun gambaran mengenai Yesus Sejarah, yang tentu saja berbeda dengan apa yang diajarkan dan disembah gereja selama ini. Sampai dimanakan keabsahan Injil Thomas yang di-klaim Jesus Seminar sebagai 'Injil Ke-Lima?'

    NAFAS GNOSTIK

    Injil Thomas yang ditemukan di Mesir memang kalah populer dengan penemuan 'The Dead Sea Scrolls' (1947). Tetapi sejak diterjemahkan dalam bahasa Inggeris pada tahun 1957, Injil Thomas menarik perhatian para penyelidik dan Injil inilah yang dipopulerkan oleh Jesus Seminar. Seminar menganggap bahwa Injil ini adalah produk yang lebih tua dari ke-empat Injil sehingga tentu lebih akurat karena lebih dekat dengan hidup Yesus. Hal lain yang dikemukakan adalah bahwa ucapan-ucapan Yesus dalam Injil Thomas lebih pendek dan sederhana sehingga tentunya lebih asli di banding ke-empat Injil lainnya yang berbentuk cerita (narasi).

    Argumentasi demikian memang menarik, tetapi perlu disadari bahwa tulisan pendek tidak selalu menunjukkan lebih tua dan asli sebab di banyak bagian lain dalam kitab-kitab Injil juga banyak bagian yang lebih pendek dari ungkapan dalam Injil Thomas. Kenyataan yang terlihat adalah bahwa Injil Thomas adalah produk Gnostik, suatu aliran sempalan yang berkembang pada abad ke-II dan ke-III. Injil Thomas ditemukan dalam pustaka Gnostik lainnya di Nag Hammadi.

    Mengenai faham Gnostik dibalik kitab Injil Thomas, baiklah kita mendengarkan uraian tokoh berbobot Graham Stanton dalam tulisannya berjudul 'Gospel Truth?' (1995, hlm.27). Stanton bukanlah tokoh asing dalam studi Perjanjian Baru, sebab ia adalah Profesor Studi Perjanjian Baru dari King's College, University of London sejak tahun 1977. Dan pada periode tahun 1995/96 ia dipilih sebagai Presiden Masyarakat Internasional Ahli Perjanjian Baru 'Studiorum Novi Testamenti Societas.' Ia mengemukakan bahwa pandangan Gnostik mempercayai:

    "dunia adalah tempat yang jahat diciptakan oleh Tuhan yang jahat (Yahweh), dan yang berbalik dari Tuhan yang benar dan Esa. Pengikut Gnostik Kristen menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Kristus dikirim untuk mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka yang sebenarnya. Kristus memberitakan rahasia (gnosis) pada para pengikut Gnostik agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar."

    Dari terang faham demikian jelas letak ikatan Yesus dengan sejarah abad pertama dan kematian dan kebangkitannya tidak mempunyai arti sama sekali. Sekalipun Injil Thomas tidak secara explisit mengajarkan faham Gnostik, para ahli umumnya sepakat bahwa Injil Thomas bernafas Gnostik. Bentley Layton, ahli karya Gnostik mengemukakan bahwa nafas Injil Thomas mirip dengan buku Gnostik lain bernama 'Hymn of The Pearl' dari sekolah Thomas yang lebih explisit mengungkapkan nafas Gnostik, sehingga mereka yang telah membaca buku ini, dengan mudah ia akan dapat mencerna nafas Gnostik dalam Injil Thomas.

    Pada awal dan akhir Kitab-Kitab Injil identitas penulis terlihat jelas, demikian juga dalam Injil Thomas awal dan akhir ucapan dan identitasnya menunjukkan dengan jelas faham Gnostik. Sebagai contoh:

    "Ini adalah ucapan-ucapan rahasia yang disampaikan Yesus yang hidup dan ditulis Didymus Judas Thomas. Dan ia berkata: 'Siapa menemukan arti ucapan-ucapan ini tidak akan merasakan mati'." (Logion 1)

    Ucapan mengenai 'Yesus yang hidup', bagi pengikut Thomas adalah lambang isoteris mengenai kata-kata Yesus yang lebih bermakna bagi pengikut Gnostik sebagai kunci keselamatan daripada ajaran kematian dan kebangkitan Yesus. Di bagian penutup, kata Thomas:

    "Simon Petrus berkata kepada mereka, "Maria harus meninggalkan kita, karena wanita tidak layak akan kehidupan." Yesus berkata: 'Lihat, aku akan menariknya menjadi pria sehingga ia bisa ikut menjadi roh hidup yang serupa kaum pria. Karena setiap wanita yang menjadikan dirinya pria akan masuk dalam kerajaan Allah'." (Logion 114)

    Ayat demikian jelas menggambarkan nafas Gnostik, dimana memang wanita dianggap lebih terpenjara jiwanya dan lebih rendah dari pria dan untuk menuju keselamatan harus mengalami perubahan dari tubuh jasmani ke mahluk rohani yang lebih tinggi derajatnya. Ayat berikut memberikan gambaran perbedaan Gnostik Kristen dengan Kristen Alkitabiah.

    "Murid-muridnya mengatakan kepada-nya: '24 nabi telah berbicara kepada Israel, dan semuanya berkata tentang engkau.' Ia mengatakan kepada mereka: 'Kamu telah mengorbankan satu yang hidup dan kamu mengatakan tentang mereka yang telah mati'." (Logion 52)

    Kunci ayat di atas adalah angka 24. Dalam tradisi Yahudi Alkitab PL disebut sebagai terdiri 24 buku. Dari terang itu ayat di atas justru terlihat bersifat menolak 'kekristenan yang menganggap Yesus sebagai penggenap PL.' Penolakan akan Alkitab Yahudi ini jelas mewarisi ajaran Marcion yang telah ditolak ajarannya yang dianggap menyesatkan pada tahun AD-144. Sekalipun Marcion bukan pengikut Gnostik, tetapi seperti para pengikut Gnostik, Tuhan Yesus dianggap bukan Tuhan pencipta dalam Alkitab.

    Sekarang bila nafas Gnostik dihilangkan, dapatkah ditemukan 'Injil Thomas' yang asli? Dari ayat-ayat Injil Thomas yang parallel dengan Kitab-Kitab Injil diketahui bahwa banyak di antaranya yang lebih pendek, ini disimpulkan bahwa naskah itu mestinya lebih tua dari Injil kanonik. Lebih pendek tidak selalu harus berarti lebih tua, sebab sekalipun Injil Markus dianggap tertua dan menjadi sumber Injil Matius, banyak ayat-ayat parallel dalam Injil Matius yang lebih pendek dari yang ada di Injil Markus. Kemungkinan Injil Thomas juga mengutip dari ke-4 kitab Injil dan menyingkatnya.

    Perumpamaan 'Domba yang Hilang' (logion 107) lebih pendek dibandingkan Matius 18:12-14 dan Lukas 15:3-7, dan dilepaskan dari semua konteksnya dan didahului kata 'Yesus berkata'. Tidak ada petunjuk dalam Injil Thomas mengenai artinya. Pada pandangan pertama ayat-ayat dalam Thomas itu seakan-akan tidak ada hubungannya dengan Matius dan Lukas dan dianggap menunjukkan kata-kata Yesus yang asli.

    Namun, keadaannya tidak sesederhana itu. Dalam Thomas, kata-kata pembuka dalam perumpamaan itu menyamakan 'kerajaan' dengan gembala yang kehilangan satu dari seratus dombanya. Kerajaan adalah dunia para pengikut Gnostik dimana salah satunya hilang. Gembala mencarinya bukan karena hilang tetapi karena domba itu 'besar'. Motivasi yang sama bisa dilihat di banyak bagian Injil Thomas seperti:

    "Nelayan yang bijak memilih ikan besar dari tangkapannya." (logion 8)

    "Biji gandum menghasilkan tanaman besar ." (logion 20)

    "Wanita membuat roti yang besar dari ragi." (logion 96)

    Pengikut Gnostik menganggap diri mereka sebagai umat pilihan, minoritas elit, bahkan ada ayat berbunyi:

    "Yesus berkata: 'Diberkatilah mereka yang tersendiri dan superior, karena kamu akan menemukan kerajaan; sebab kamu berasal dari situ dan kamu akan kembali ke situ'." (logion 49)

    Dalam versi Thomas mengenai Perumpamaan domba yang hilang, domba yang besar mewakili pengikut Gnostik yang tersesat dari kerajaan dimana ia berasal. Agar perumpamaan ini menjadi ajaran Gnostik, kemungkinan Thomas mengutipnya dari Matius atau Lukas, menyingkatnya, dan melepaskannya dari konteksnya semula.

    Mereka yang membela ketidak bergantungan Thomas mengemukakan bahwa dalam Thomas hampir tidak ada urutan ucapan Yesus seperti dalam Injil Sinoptik, jadi Thomas tidak memotong-motong ucapan Yesus yang ada dalam Injil sinoptik. Argumentasi demikian cukup kuat kalau memang tidak ada urutan dalam Injil Thomas. Bila ada tanda-tanda pengelompokan ucapan-ucapan sesuai kata kunci atau tema, maka Thomas mestinya mempunyai motivasi untuk menghilangkan urutan ucapan-ucapan dalam Injil kanonik. Faktanya ada juga hubungan antara ucapan-ucapan itu dalam Thomas. Dan dibeberapa tempat disusun berdasarkan suatu logika sesuai pola pikir Gnostik. Christopher Tuckett mengemukakan hal penting yaitu karena jelas bahwa Thomas telah merevisi banyak ucapan Yesus tentunya urutannya juga bisa diubah secara radikal.

    Sekarang yang perlu diamati adalah apakah ada jejak usaha Thomas dalam membentuk dan meredaksi tulisannya itu. Bila ada, kelihatannya Thomas mengambil bahan-bahan dari Keempat Injil dalam bentuknya yang akhir dan bukan dari tradisi lisan. Ada petunjuk dalam Injil Thomas ke arah ini. Para pendukung Injil Thomas menganggap bahwa petunjuk terakhir ini sedikit jumlahnya dan memperkirakan petunjuk itu adalah tambahan kemudian yang dimasukkan ke Injil Thomas. Mereka mengatakan bahwa versi asli dari Thomas dalam bahasa yunani mengutip langsung ucapan Yesus, dan baru pada proses penerjemahan ke bahasa Koptik maka beberapa petunjuk keempat Injil masuk. Kenyataannya petunjuk itu cukup banyak sehingga mustahil hanya merupakan masukan kemudian tanpa disengaja. Sebagai contoh ada ayat yang berbunyi:

    "Tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dibukakan." (logion 5)

    Ucapan ini terdapat dalam versi yunaninya yang diberi kode PQxy 1, yang mirip dengan perubahan ucapan yang dilakukan dari Markus 4:22 ke Lukas 8:17. Kelihatannya Thomas mengambil dari bahan Lukas sebelum diterjemahkan ke bahasa Koptik. Petunjuk kuat lainnya adalah bahwa ucapan-ucapan Yesus dalam Injil Thomas dapat ditemui pada keempat Injil, dan juga pada tradisi 'Q', 'M' dan 'L'. Ini memberi petunjuk bahwa sekalipun mungkin Thomas mengambil dari beberapa tradisi oral, tetapi tradisi itu sendiri bersumber pada ke-empat Injil juga. Mungkin sekali bahwa Thomas mengutip dari harmoni keempat Injil yang awal sebelum Tatian sesudah tahun AD-150 menyusun harmoni keempat Injil. Jadi kemungkinan besar Injil Thomas disusun berdasarkan keempat Injil dan tradisi lisan yang tetap beredar sekalipun keempat Injil sudah tersusun.

    Injil Thomas tidak membuka jalan baru kearah penyelidikan Yesus Sejarah, sebab yang ditemukan adalah copy dari terjemahan koptik yang berasal dari tahun AD-350. Dan, karena ada perbedaan-perbedaan penggunaan kata-kata dan urutan dari versi yunani dan koptiknya, text Thomas tidak terlalu tepat. Versi awal dalam bahasa Yunani kelihatannya disusun sebelum akhir abad ke-II, sedang versi koptik sudah jelas merupakan tulisan Gnostik. Adalah mustahil menghilangkan ke-gnostikannya untuk memperoleh yang asli, karena itu tidaklah tepat menjadikan Injil Thomas sebagai dasar merekonstruksikan ajaran Yesus. Sekitar setengah dari isi Injil Thomas tidak memiliki acuan parallel dengan keempat Injil, berapa di antaranya yang berasal dari masa Yesus?

    Memang, Jesus Seminar berusaha untuk menempatkannya dekat dengan hidup Yesus, tetapi faktanya dari yang setengah itu, hanya ada 5 logion saja yang oleh mereka sendiri bisa dianggap asli sebagai ucapan Yesus, yaitu:

    "Yesus berkata: 'Jadilah sebagai orang yang lewat saja'." (logion 42)

    "Yesus berkata: 'Seseorang yang telah menjadi kaya harus memerintah. Dan seseorang yang berkuasa harus mening-galkannya'." (logion 81)

    "Yesus berkata: 'Barangsiapa dekat dengan aku dekat dengan api, dan barangsiapa jauh dari aku jauh dari kerajaan'." (logion 82)

    "Kerajaan Bapa seperti wanita yang membawa sekeranjang makanan. Bila ia telah berjalan jauh, pegangan keranjang itu putus dan makanannya terserak di jalan. Ia tidak menyadari keadaan itu, ia meletakkan keranjang itu di bawah dan menemukan isinya kosong." (logion 97)

    "Yesus berkata: 'Kerajaan Bapa adalah seperti seorang pria yang ingin membunuh anggota pengadilan. Di rumah ia menancapkan pisau itu ke tembok untuk mengetahui apakah tangannya cukup kuat. Selanjutnya ia membunuh anggota pengadilan itu'." (logion 98)

    Lalu bagaimana dengan sekitar setengah lainnya yang dapat ditemukan di ke-empat Injil? Apakah versi Thomas lebih asli? Rekonstruksi dari salinan yunani non-Gnostik tidaklah mudah sekalipun kita hidup seratus tahun sesudah masa hidup Yesus. Dalam usaha penyelidikan akan kebenaran sejarah, memang yang disebut Injil Thomas tidak boleh diabaikan, tetapi rintangannya lebih berat daripada dalam penyelidikan keempat Injil yang lebih banyak salinan-salinannya.

    LALU BAGAIMANA?

    Dari beberapa perbincangan sekitar Jesus Seminar dan Injil Thomas di atas kita dapat melihat bahwa apa yang dihasilkan oleh Jesus Seminar terutama yang dihubungkan dengan Injil Thomas merupakan rekaan yang belum terbukti kebenarannya, karena itu menjadikan kitab Thomas sebagai Injil yang setara dengan ke-empat Injil lainnya atau bahkan menjadikannya sebagai Injil ke-Lima sudah jelas menyesatkan. Lebih lagi, menganggap Injil Thomas sebagai Injil yang lebih asli, dan seperti kata Crossan bahwa keempat Injil lainnya sebagai tidak asli, justru menunjukkan dengan jelas kemana arah misi Jesus Seminar. Lebih-lebih, hasil angket Jesus Seminar sendiri menyebutkan bahwa dalam Injil Thomas hanya ada 6 ayat dalam tiga fasal saja dari antara 114 fasal yang dianggap sebagai ucapan Yesus yang asli.

    Kita perlu sadar bahwa dalam penyusunan dan pengumpulan kitab-kitab Injil oleh para Bapak Gereja, beberapa Rasul dan saksi mata masih hidup, sehingga mereka tentu punya alasan kuat mana yang dapat disebut sebagai kitab Injil dan mana yang tidak diakui sebagai kitab Injil.

    Teori-teori beberapa Ahli Perjanjian Baru yang kecil jumlahnya (beberapa puluh saja) tidak perlu membuat kita ragu, lebih-lebih jauh lebih besar jumlahnya Ahli-Ahli Perjanjian Baru yang masih menganggap ke-empat Injil Kanonik sebagai yang asli dan memandang Injil Thomas hanya sebagai produk Gnostik abad ke-2, lebih-lebih adanya tokoh seperti Graham Stanton, yang menjadi profesor Perjanjian Baru sejak tahun 1977 di King's College, University of London dan menjadi Presiden 'Studiorum Novi Testamenti Societas', dapatlah kita meng'amin'kan bahwa Iman Kristen masih mempunyai ke-empat Injil kanonik sebagai dasar batu karang yang teguh, dan apa yang diberitakannya mengenai Yesus Sejarah tidak perlu kita ragukan kebenarannya.

    Sudah duaratus tahun sejak abad ke XIX, kritik mengenai Yesus Sejarah telah dilontarkan orang, tetapi menarik sekali bahwa sekalipun kritik-kritik itu dilontarkan oleh teolog-teolog besar sekaliber Albert Schweitzer maupun Rudolf Bultmann, Yesus Sejarah tetap eksis sampai saat ini seperti apa yang disebut dalam Alkitab. Tepat apa yang dikatakan oleh Hans Kung dalam bukunya "The Incarnation of God" (hlm.19) bahwa:

    "Debat Kristologi yang timbul sejak terbitnya zaman modern belum juga terpecahkan."

    Sejauh ini, baik teori kritik mutakhir dari John Dominic Crossan, John Spong, Marcus Borg, Barbara Thiering, dan Michael Baigent et.al. dalam buku-buku mereka belum menghasilkan kesimpulan yang seragam sekalipun mereka menggunakan istilah keren seperti scholars version, intelektual akademik, maupun metodologi sejarah dan sosiologi yang bersifat ilmiah. Karena itu selama belum ada pendapat yang satu dan seragam sebagai alternatif laporan Alkitab, baiklah kita menunggu perdebatan di kalangan mereka sendiri sehingga menghasilkan kesimpulan yang utuh sebelum kita berpusing diri dengan pandangan tradisional kita mengenai Yesus Sejarah seperti apa yang tertulis dalam Alkitab.

    A m i n .



    Based On : http://yabina.org/RENUNGAN/97-98/R9803_3.HTM

    Posted at 9/26/2006 3:55:35 am by KaLvHiN
    Make a comment  

    Previous Page Next Page